Menangani kondisi hipertensi anak

Hipertensi pada anak
Hipertensi pada anak | Bangkoker /Shutterstock

Pada orang dewasa, kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi mungkin lebih umum. Namun, kondisi serupa pun bisa terjadi pada anak-anak.

Sebagai orang tua, Anda perlu memeriksakan kondisi kesehatan anak, termasuk tekanan darahnya. Sebab, hipertensi dapat menyebabkan strok, serangan jantung, gagal ginjal, kehilangan penglihatan, dan aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah.

Ketika tekanan darah tinggi berlanjut untuk waktu yang lama, jantung dan arteri mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Organ-organ lain yang menerima darah, seperti ginjal dan otak, juga dapat dirugikan.

"Jika sudah hipertensi, maka anak harus mendapat penanganan sejak dini. Selain perubahan pola hidup, anak juga harus minum obat jika diperlukan sesuai resep. Jangan sampai masuk dalam kelompok yang tingkat kepatuhannya rendah," kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek.

Tekanan darah tinggi dapat menempatkan seseorang pada risiko masalah kesehatan jangka panjang. Bahkan, bisa menyebabkan sakit kepala, perubahan penglihatan, pusing, mimisan, jantung berdebar, dan mual.

Bila anak sudah telanjur hipertensi, ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan, tetapi tetap di bawah pengawasan dokter.

Pertama, cobalah pola makan dietary approaches to stop hypertension (DASH). Ini adalah rencana makan yang lebih sedikit kandungan lemak jenuh, serta akan lebih banyak buah-buahan, sayuran, dan gandum.

Dalam mengikuti diet ini, anak akan dibatasi asupan garam untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Orang tua juga perlu memperhatikan berat badan anak karena bila kelebihan, berisiko meningkatkan tekanan darah tinggi. Mengikuti rencana makan DASH dan berolahraga teratur dapat membantu anak menurunkan berat badan.

Lindungi anak dari asap tembakau karena dapat meningkatkan tekanan darah, secara langsung merusak jantung dan pembuluh darah anak.

Bila diperlukan, anak juga bisa minum obat. Langkah ini dilakukan jika tekanan darah tinggi anak parah atau tidak merespons perubahan gaya hidup.

Mungkin perlu beberapa saat untuk menemukan kombinasi obat yang bekerja paling baik untuk mengendalikan tekanan darah tinggi dengan efek samping paling sedikit.

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi termasuk diuretik untuk mengurangi jumlah cairan dalam darah dengan membantu tubuh membuang sodium ekstra, ACE inhibitor, alpha-blocker, dan calcium channel blocker.

Mengenal kondisi hipertensi anak

Merujuk pada data dari Kementerian Kesehatan, rasio penderita hipertensi pada usia 10-14 tahun hampir dua kali penyakit infeksi.

Kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Arieska Ann Soenarta, prevalensi hipertensi anak memang tak terlalu tinggi, yaitu satu sampai dua persen.

Dara riset kesehatan dasar (riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa dari 25,8 persen total kasus hipertensi di Indonesia, ternyata 5,3 persen di antaranya dialami oleh remaja berusia 15-17 tahun.

Bagaimana mengetahui apakah anak Anda hipertensi? Jika dibandingkan dengan pengukuran pada orang dewasa, menentukan tekanan darah normal pada anak lebih rumit, tergantung usianya.

Umumnya, pada bayi baru lahir, tekanan darahnya sekitar 90/60 mm/Hg. Lalu, berubah memasuki usia tiga tahun di angka 104-113/63-74 mm/ Hg, hingga naik di umur 12 tahun menjadi 119-127/79-83 mm/ Hg.

Perbandingan dengan orang dewasa dengan kondisi sehat dan tekanan darah normal sekitar 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Anda dikatakan terkena hipertensi ketika tekanan darah Anda 130/80 mmHg atau lebih.

Untuk mengetahui tekanan darah anak, sebaiknya periksakan ke dokter. Nantinya, dokter anak akan menggunakan grafik berdasarkan jenis kelamin, tinggi badan, dan angka tekanan darah anak untuk menentukan apakah ia memiliki tekanan darah tinggi atau tidak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR