PENDIDIKAN KARAKTER

Mendidik karakter anak, siapkah orang tua dan guru?

Misi sekolah kerap menyebutkan mempersiapkan siswa mencapai berbagai kesuksesan hidup, Kenyataannya berbeda.
Misi sekolah kerap menyebutkan mempersiapkan siswa mencapai berbagai kesuksesan hidup, Kenyataannya berbeda. | Pathdoc /Shutterstock

Pendidikan karakter anak kembali menghangat sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengusulkannya sebagai bagian dari wacana sekolah sepanjang hari. Sistem yang diusulkannya itu, demi membangun karakter anak.

Masalah karakter anak bukan hanya masalah di Indonesia. Seorang guru, di Amerika Serikat (AS), Paul Barnwell pernah mempertanyakan apakah bagi sekolah, mengajarkan karakter, moralitas, dan etiket bukan hal yang penting dalam menjadikan mereka warga negara yang sukses dan produktif?

Pertanyaan itu muncul melihat kondisi di banyak sekolah negeri yang mengukur kemajuan akademis sebagai upaya utama perbaikan sekolah, sampai-sampai menghalangi tujuan lain yang bermanfaat dari sekolah--seperti pendidikan karakter.

Persoalan standardisasi materi pelajaran dan persiapan tes terus mendominasi kebanyakan fokus dan kegiatan banyak sekolah. Contohnya cukup banyak. Sebuah pertunjukan akhir tahun taman kanak-kanak di New York, dibatalkan. Tujuannya, agar siswa dapat fokus mempersiapkan diri mencapai karier cemerlang.

Persiapan ujian jadi hal yang umum di tingkat pendidikan dasar. Menurut penelitian pada 2015, siswa kelas 8 menghabiskan rata-rata 25,3 jam setahun untuk tes standardisasi. Di Kentucky, AS, SMA berada di bawah tekanan untuk mencetak siswa yang "siap" duduk di bangku kuliah.

Definisi siap? Semata-mata mencapai batas nilai dalam pelajaran bacaan, Bahasa Inggris, dan matematika dalam tes ACT. Inilah ujian yang harus dilewati untuk bisa masuk ke pendidikan tinggi di Amerika Serikat.

Fakta-fakta tersebut layaknya alarm, membangunkan Barnwell. Ia mempertanyakan perannya sebagai pendidik, dan seberapa penting memprioritaskan pengembangan karakter, etiket, dan membantu para murid mengembangkan identitas moral.

Jawabannya ada pada hasil penelitian 2012 lalu. Ada kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan unsur pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah negeri.

Menurut penelitian tersebut, 31 persen remaja sadar kekerasan fisik adalah masalah besar di sekolah. Ada 49 persen siswa mengaku pernah mengalami perisakan. Sementara 24 persen percaya, mengancam atau memukul seseorang saat marah adalah hal wajar.

Bukan hanya di AS, pendidikan karakter di Inggris bahkan digadang sebagai salah satu target utama kementerian pendidikan. Dana besar disiapkan bagi sekolah yang berhasil mengembangkan program pendidikan karakter. Gagasan inipun tak sepi dari kritik.

Meruaknya ide tentang pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Inggris, dipicu oleh menyebarnya kerusuhan pada 2011. Perdana Menteri Inggris saat itu, David Cameron, mengklaim kerusuhan disebabkan oleh merosotnya pembedaan nilai yang baik dan buruk, dan puntiran moral yang terjadi di masyarakat.

Berbagai penelitian digelar, salah satunya dari Universitas Birmingham. Lahir empat rekomendasi, di antaranya mendorong sekolah memiliki kebijakan pengembangan karakter yang mengikat seluruh penghuni sekolah, bukan hanya siswa. Artinya, segenap isi sekolah harus ikut berpartisipasi.

Siswa juga perlu pendampingan langsung untuk mengubah orientasinya; dari yang mementingkan diri sendiri, menjadi berorientasi pada nilai moral yang umum. Sekolah pun perlu diberi keleluasaan untuk mengukur kemampuan lembaganya, dan menentukan bagaimana pendidikan karakter akan dipraktikkan.

Namun diingatkan pula, pendidikan karakter jangan sampai terjebak pada pengukuran dan standardisasi dengan ukuran yang kaku. Misalnya, tak perlu sampai ada tes tertulis untuk memantau perkembangan karakter anak. Apalagi, menjadikannya syarat kelulusan sekolah.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Mengutip peneliti Doktor Hasanudin Abdurakhman, pendidikan karakter adalah tentang memberi teladan. Orang tua dan guru, harus jadi pusatnya. Pandangan ini, tak meleset jauh dari situasi di AS dan Inggris tersebut.

"Pendidikan karakter jadi terdengar rumit, karena kita biasa hidup tanpa karakter. Orang tua dan guru tidak menjadi contoh bagi anak-anak," tulis Hasanudin di Kompas. Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang, ini juga pernah menjadi peneliti di dua universitas di Jepang.

Ia mencontohkan, orang tua atau guru mengajarkan kebersihan. Namun pada praktiknya mereka buang sampah sembarangan. Guru mewajibkan siswa tepat waktu, namun kerap kali terlambat masuk kelas untuk mengajar. Dan masih banyak lagi contoh lain.

Masalahnya, menurut Hasanudin, banyak orang tua dan pendidik tak mau melepaskan kenyamanan. Orang tua atau pendidik cenderung egois, ingin mengajarkan sesuatu kepada anak-anak, yang mereka sendiri tak mau lagi menaatinya.

"Kita bersikap bahwa pendidikan karakter itu untuk anak-anak. Sementara kita ingin sikap kita boleh dipertahankan, sampai kita mati. 'Kamu saja yang rajin dan tertib ya nak, bapak ibu mah sudah tua, nggak mungkin berubah lagi'. Begitulah cara kita membuat pendidikan karakter jadi rumit," pungkas Hasanudin.

Ia juga menyinggung soal ketulusan. Saat orang tua dan guru mengajarkan pendidikan karakter, mereka kerap kali berpura-pura. "Jadi, kalau mau membangun pendidikan karakter, yang perlu kita lakukan adalah revolusi sikap oleh para orang tua dan guru," Hasanudin berujar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR