MINAT BACA

Mendongenglah demi kemajuan bangsa

Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch, membaca dongeng untuk puluhan murid di perpustakaan SD Negeri Inpres Komba, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (1/3/2018).
Presiden Direktur Prudential Indonesia Jens Reisch, membaca dongeng untuk puluhan murid di perpustakaan SD Negeri Inpres Komba, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (1/3/2018). | Indrayadi TH /Antara Foto

Mendongeng sebelum si kecil tertidur mungkin cukup melelahkan. Namun dengan membiasakannya, manfaat yang didapat sama sekali tak sepele. Bahkan, Anda telah ikut berperan dalam mendorong kemajuan bangsa. Bagaimana bisa?

Salah satu cita-cita nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua itu dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas manusia, demi kemajuan bangsa. Untuk mencapainya, membuka wawasan dengan terbiasa membaca adalah kunci.

Akan tetapi jalan menuju itu tampaknya masih terkendala. Sebab sejumlah studi mengungkap, minat baca orang Indonesia masih rendah.

Penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017 menunjukkan frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu, dengan durasi per hari rata-rata 30-59 menit. Dan dalam setahun hanya menyelesaikan lima hingga sembilan buku.

Menurut badan pendidikan PBB (UNESCO), persentase minat baca di Indonesia cuma 0,01 persen. Artinya, dari 10 ribu orang cuma satu yang suka baca.

The World's Most Literate Nations (WMLN) pada 2016 pun memperlihatkan bahwa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Padahal peringkat ketersediaan perpustakaan Indonesia menempati urutan ke-36, berada di atas negara-negara Eropa.

Kenyataan itu menunjukkan Indonesia menjadikan membaca sebagai beban. Pun sangat minim memanfaatkan infrastruktur. Karenanya, indikator sukses menumbuhkan minat baca perlu dimulai dari kebiasaan.

Salah satunya, sebelum anak bisa dan dibiasakan membaca, adalah dengan melibatkan peran orang tua untuk mendongeng sejak dini. Ini akan menanamkan pemahaman bahwa membaca merupakan kegiatan menyenangkan

Di kemudian hari, anak yang gemar membaca terbukti lebih cerdas secara emosional, lebih imajinatif dan kreatif, serta lebih pandai berempati terhadap lingkungannya.

Mereka juga lebih terampil dalam berbahasa. Dan kosa katanya yang beragam membuat mereka kelak lebih lihai dalam berkomunikasi.

Bahkan lebih dari itu, studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menemukan satu lagi manfaat mendongeng. Bukan hanya bagi anak, tapi juga orang tua. Yakni yang disebut periset sebagai peningkatan fungsi psikososial.

Fungsi psikososial meliputi kesejahteraan mental, emosi, perilaku, minat baca, kualitas hidup, dan hubungan seseorang dengan orang lain.

"Ini melibatkan kemampuan orang untuk merawat diri mereka sendiri atau untuk bekerja. Kemampuan mereka untuk membuat evaluasi positif terhadap diri sendiri dan kehidupannya. Pun kemampuan mereka untuk merasakan kesejahteraan dari hubungan yang bermakna," jelas Qian-Wen Xie, penulis utama studi dari Departemen Pekerjaan Sosial dan Administrasi Sosial Universitas Hong Kong.

Singkatnya, menukil WebMD, selain lebih melek huruf, mendongeng ternyata bisa meningkatkan keterampilan emosional dan perilaku sosial anak ke arah yang lebih baik. Bila mulai diterapkan sejak dini, akan lebih mudah memprediksi perkembangan otak anak dan prestasinya di masa depan.

Tak hanya itu, Xie dan tim periset juga menemukan bahwa orang tua yang mendongeng meningkat kesejahteraannya. Mereka lebih sedikit mengalami stres dan kecemasan. Pun lebih kompeten dan percaya diri soal keterampilan mengasuh anak.

Menanggapi hal itu, Caroline Kistin, peneliti pediatri dari Boston University School of Medicine yang tidak terlibat dalam studi mengatakan pada Reuters, "Pengalaman bersama seperti menghabiskan waktu bersama atau duduk berdekatan satu sama lain, membuat hubungan antara buku-buku dan kehidupan sehari-hari menjadi sangat penting."

Menurutnya, mendongeng bersama mendukung perkembangan kognitif anak, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka untuk memperhatikan dan bekerja sama.

Terlebih lagi, mendongeng juga bisa meningkatkan kualitas hubungan antara orang tua dan anak, yang berikutnya bisa meningkatkan peran orang tua dalam tumbuh kembang anak.

Alhasil, "Membaca bersama anak tidak hanya menjadikannya cerdas, tetapi juga menjadikannya anak yang bahagia," ujar Xie.

Untuk studi, Xie dan tim menganalisis 19 penelitian sebelumnya tentang kegiatan mendongeng yang mencakup 3.264 keluarga dari berbagai latar belakang. Fokusnya adalah anak-anak usia 0-3, juga 3-6 tahun.

Terlepas dari keterbatasan studi akibat sampel yang sangat bervariasi--misalnya tidak bisa mengungkap jenis buku apa yang layak dibaca, atau seberapa lama sebaiknya mendongeng--periset juga mendapati kenyataan bahwa beberapa orang tua mungkin tidak menganggap penting mendongeng untuk anak sejak dini.

Seringnya persoalan itu muncul dari keluarga berpenghasilan rendah dengan orang tua berpendidikan terbatas.

Mirisnya, kata periset, ketika orang tua itu mampu atau tahu manfaatnya mendongeng, mereka bisa saja terkendala waktu akibat kesibukan bekerja. Ada pula yang tidak terbiasa dengan teknik membaca interaktif, atau berpendidikan tinggi tapi tak terlalu mampu beli buku. Alhasil, terkendala mendongeng membuat anak-anak terdorong tak biasa membaca.

Penyebab itu serupa dengan rendahnya minat baca di Indonesia. Faktor lainnya lantaran di daerah terpencil jumlah buku masih minim, dan di perkotaan karena orang lebih tertarik berinternet.

Karena itu, marilah menciptakan kesadaran bahwa mendongeng itu berdampak besar. Suatu hari, manfaatnya bukan hanya memberi anak keterampilan menghadapi tantangan dunia, tapi juga kualitas penting yang dibutuhkan suatu negara untuk maju.

Jadi, sudahkah Anda mendongeng?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR