TUJUAN WISATA

Menengok Persiapan Festival Budaya Lembah Baliem 2019

Warga Distrik Walesi, Sabtu (27/7/2019), tengah mempersiapkan honai menyambut Festival Budaya Lembah Baliem 2019 di Wamena, Papua.
Warga Distrik Walesi, Sabtu (27/7/2019), tengah mempersiapkan honai menyambut Festival Budaya Lembah Baliem 2019 di Wamena, Papua. | Kristianto Galuwo /Beritagar.id

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) sudah di depan mata. Acara tahunan yang dihelat di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua ini, akan berlangsung 7-10 Agustus 2019.

Usia ajang akbar ini telah mencapai 30 tahun, sejak pertama dihelat pada 1989. Acaranya terbilang mendunia, sebab dihadiri banyak turis asing dari berbagai negara.

Saat Beritagar.id pada akhir Juli lalu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut festival ini. Lokasi FBLB di Distrik Walesi, telah ditata dengan berbagai honai--rumah tradisional Papua berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang--yang mengitari lapangan.

Tribun permanen tampak telah diatur rapi, ditambah satu tribun yang dibangun di samping lapangan. Dari lokasi yang berada di ketinggian, tampak Kota Wamena dan barisan Pegunungan Jayawijaya memagari Lembah Baliem yang berudara sejuk. Tampak pula ternak-ternak sapi berserakan di padang rumput, menambah keindahan di sekitar lokasi festival.

Untuk menuju ke lokasi, kali ini wisatawan harus melewati jalan memutar. Jalanan pada rute yang biasa dilewati dan bisa ditempuh hanya dalam 10 menit dari Wamena, kondisinya sudah rusak parah karena berada di samping sungai yang terus terkeruk.

Sementara untuk jalan memutar, waktu tempuh berkisar 40-an menit, dengan medan jalan berbatu-batu. Jika hendak ke lokasi, disarankan agar naik kendaraan roda empat saja.

FBLB 2019 bakal menampilkan atraksi kolosal perang-perangan, tari-tarian tradisional (ethai) dan seni merias tubuh dengan ragam aksesori hasil kreasi Suku Hubula, suku asli Papua yang mendiami Lembah Baliem.

Akan ada pula pertunjukan alat musik tradisional (pikon dan witawo), atraksi memasak tradisional (bakar batu), permainan anak (puradan dan sikoko), lempar sege dan karapan babi.

Tradisi Suku Hubula juga bakal ditampilkan, seperti atraksi proses kelahiran, inisiasi atau pendewasaan, pernikahan, pekerjaan, kematian, perang-perangan, dan bagaimana cara memasak tradisonal bakar batu.

Tarian kolosal tahun ini bertemakan "Peradaban". Jumlah penari sekitar 500 lebih yang berasal dari siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Wamena. Setiap sore sejak awal Juli, mereka rutin berlatih di Lapangan Pendidikan Wamena dipandu koreografer bernama Titov.

Menurut Titov, untuk melatih siswa-siswi dengan jumlah ratusan ini memiliki tantangan besar, dan butuh kesabaran. Apalagi, mereka baru sebulan latihan. "Hasilnya nanti, saya harap, bisa memuaskan," ujarnya.

Tarian kolosal ini akan diiringi pula dengan beberapa alunan musik tradisional wilayah pegunungan Papua. Sesuai tema, tarian ini akan menceritakan kehidupan masyarakat Suku Hubula, mulai dari kelahiran, sampai tumbuh dewasa dan bisa bercocok tanam, dan tentang regenerasi.

Noken Raksasa

Warga Distrik Asotipo, Wamena, Papua, Sabtu (27/7/2019), sedang membuat noken terbesar. Namun, bahan yang digunakan adalah benang pabrikan, sehingga tidak akan diajukan sebagai rekor MURI.
Warga Distrik Asotipo, Wamena, Papua, Sabtu (27/7/2019), sedang membuat noken terbesar. Namun, bahan yang digunakan adalah benang pabrikan, sehingga tidak akan diajukan sebagai rekor MURI. | Kristianto Galuwo /Beritagar.id

Pada FBLB tahun ini, penyelenggara berencana untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori noken terbesar. Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kulit kayu dan dibawa dengan kepala.

Noken raksasa itu tengah dirajut oleh sepuluh pekerja atau mama-mama di Kampung Wagawaga, Distrik Kurulu. Panjangnya mencapai 30 meter dan biaya pembuatannya Rp90 juta.

Panitia pelaksana FBLB, Atika Paramita mengatakan pengerjaan Noken raksasa tersebut hingga saat ini telah mencapai 90 persen.

"Noken ini dikerjakan oleh kelompok warga yang ada di kampung Wagawaga, Distrik Kurulu, Jayawijaya dan akan masuk rekor MURI, sedangkan untuk Noken benang pabrikan yang ada di Distrik Asotipo tetap diakomodir sebagai pelengkap," kata Atika.

Warga Distrik Asotipo, seperti disebut Atika, juga sedang membuat salah satu noken terbesar. Namun, bahan yang digunakan adalah benang pabrikan, sehingga tidak akan diajukan sebagai rekor MURI.

Penginapan dan kuliner Wamena

Baliem Valley Resort difoto dari ketinggian di Lembah Baliem, Wamena, Papua, Sabtu (27/7/2019).
Baliem Valley Resort difoto dari ketinggian di Lembah Baliem, Wamena, Papua, Sabtu (27/7/2019). | Stefanus Tarsi /Beritagar.id

Bagi yang ingin menyaksikan Festival Lembah Baliem, saat ini anda tak perlu terlalu mengkhawatirkan soal penginapan. Di Kota Wamena tersedia berbagai tempat penginapan, mulai homestay hingga hotel berbintang. Namun sebaiknya memesan sejak jauh hari.

Ada sekitar 20 hotel dan penginapan di Wamena. Terbaru adalah Grand Baliem Hotel (GBH) yang buka sejak 22 Juli 2019, setelah sembilan tahun dibangun. Jarak hotel bintang empat ini dari Bandara Wamena hanya belasan menit berkendara.

Selain itu ada pula Baliem Valley Resort yang bernuansa etnik dengan bungalo berbentuk honai, Baliem Pilamo Hotel, Rainbow Inn Wamena, Putri Dani Hotel, Nayak Hotel, Hogorasuok Guesthouse, dan lain sebagainya.

Harga penginapan tersebut bervariasi antara Rp450.000 hingga Rp6 juta per malam.

Tempat nongkrong juga semakin banyak tersedia di Wamena, seperti Kafe Mukoko yang berada tepat di depan bandara, kafe Alfa Mega, Labewa, dan masih banyak lagi.

Sebagian besar kafe dan restoran menyediakan kuliner khas Wamena, salah satunya "Udang Selingkuh". Dinamakan demikian, karena ada bentuk capit udang Sungai Baliem ini yang memanjang seperti kepiting, jadi seolah-olah udang itu “selingkuh” dengan kepiting.

Pelancong juga bisa menikmati kuliner tradisional lainnya, seperti Bakar Batu Wam (daging babi panggang). Bagi yang ingin kuliner halal, beragam pilihan nasi pecel, nasi goreng, lalapan, juga tersedia.

Beragam makanan tersebut bisa dinikmati dengan harga mulai Rp20.000.

Warung-warung makan yang lebih murah juga ada di Wamena, tetapi selama penyelenggaraan Festival Budaya Lembah Baliem biasanya mereka mematok harga lebih mahal dari hari biasa.

Catatan redaksi: Ada perbaikan pada kapsi foto kedua. Sebelumnya tertulis pembuat noken dalam foto itu adalah warga Kampung Wagawaga, seharusnya warga Distrik Asotipo.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR