Mengajak anak-anak menyukai olahraga

Aktivitas olahraga dapat membantu tumbuh kembang anak
Aktivitas olahraga dapat membantu tumbuh kembang anak | Natee K Jindakum /Shutterstock

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 kali ini mengambil tempat di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan Jawa Timur.

Presiden Joko Widodo direncanakan hadir untuk berdialog langsung dengan anak-anak berprestasi di sana.

Tahun ini, tema yang diusung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk perayaan HAN adalah Anak Indonesia, Anak GENIUS.

Kata GENIUS adalah akronim dari Gesit, Empati, Berani, Unggul dan Sehat.

Melalui tema yang diangkat kali ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, berharap anak Indonesia dapat menjadi anak yang sehat, berbahagia dan aman.

Yohana juga berpesan agar anak-anak turut aktif berolahraga, beraktivitas di luar ruangan, dan belajar sportivitas. Tujuannya agar anak-anak dapat terhindar dari pengaruh lingkungan yang negatif.

Salah satu manfaat langsung dari olahraga menurut psikolog anak, Elizabeth Santosa, adalah memperlancar aliran darah ke otak. Selain itu, juga memicu otak untuk melepaskan hormon bahagia yang disebut endorfin. Hasilnya, mampu membuat emosi anak menjadi lebih stabil, mudah bahagia, dan tenang. Berolahraga juga akan membantu perkembangan anak dalam kehidupan sosial.

Amika Singh, PhD, seorang periset dari Vrije Universiteit University Medical Center di Amsterdam, Belanda, sekaligus penulis di Archieves of Pediatrics & Adolescent Medicine, mengatakan, “Selain efek fisik, olahraga juga dapat membantu tingkah dan pola perilaku keseharian anak di kelas sehingga mereka lebih bisa berkonsentrasi saat belajar.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar setiap anak dan remaja yang berusia 5-17 tahun berolahraga setidaknya 60 menit setiap hari. Jumlah ini jika dijumlah lima kali dalam seminggu saja menjadi 300 menit.

Sementara jika mengacu pada kurikulum 2013, durasi mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan untuk anak sekolah, rata-rata hanya berkisar antara 70 sampai 100 menit setiap minggu. Hal ini cukup jauh dari acuan standar WHO.

Belum lagi dengan kecenderungan anak-anak yang sekarang lebih menyukai aktivitas di depan gawai daripada beraktivitas fisik seperti olahraga. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah orangtua untuk dapat menumbuhkan minat anak-anak kepada olahraga dan aktivitas fisik.

Terlepas dari bakat alami anak Anda di lapangan atau menjadi siswa berbakat di pelajaran eksak, hal terbaik yang dapat orangtua lakukan adalah memperkenalkannya ke sebanyak mungkin kegiatan fisik.

"Satu anak dapat menikmati bermain di dalam kelas sementara yang lain lebih suka berlari sambil mengejar bola. Anda tidak pernah tahu apa yang akan membuatnya bahagia," kata CEO PediatricsNow, Gwenn O'Keeffe, dinukil Parents.

Peran orang tua harus dimulai sejak dini untuk membuat olahraga menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Anda dapat memainkan permainan fisik yang berbeda dan melakukan aktivitas fisik bersama-sama dengan anak untuk memancing dan mengetahui minatnya.

Anda dapat mengenalkan permainan trampolin yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal aktivitas fisik di usia muda mereka.

Beberapa keuntungan bermain trampolin, di antaranya meningkatkan sensor motorik pada anak karena anak akan bergerak secara dinamis seluruh badannya, melompat, dan bergerak bebas.

Selain itu, manfaat lain dari permainan ini adalah dapat memperlancar sistem sirkulasi pada pembuluh darah dan jaringan limfatik. Hasilnya, dapat meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh. Saat bermain trampolin anak-anak juga akan mendapatkan manfaat tulang dan otot yang lebih kuat.

Selain aktivitas fisik bersama, langkah penting Anda sebagai orang tua adalah memberinya dukungan melakukan aktivitas fisik kesukaannya, bukan malah membuat tekanan atau memaksanya menekuni olahraga tertentu. Buatlah olahraga sebagai hal yang menyenangkan.

Rod Dishman, seorang profesor kinesiologi berpendapat, kebanyakan orangtua cenderung berusaha untuk membuat anak-anak merasa bersalah saat mereka tidak berolahraga. Hal ini tentu dapat menjadi bumerang bagi perkembangan minatnya berolahraga.

Hal berikutnya, setelah anak-anak menyukai olahraga pilihannya, ajaklah dia untuk dapat melakukan aktivitas tersebut bersama teman sebaya. Hal ini akan membuatnya belajar juga tentang arti bekerjasama sebagai tim dan rasa bertanggung jawab.

Untuk menambah semangat, orangtua dapat memberikan perlengkapan olahraga yang aman dan baik.

Olahraga yang identik dengan gaya dapat menambah rasa percaya diri anak-anak untuk menekuni olahraga pilihannya.

Buatlah jadwal untuk berolahraga bersama atau sekedar menemaninya pergi latihan bersama teman-teman. Dengan jadwal yang baik dan teratur maka anak akan belajar disiplin dan menghargai waktu.

Namun, Anda juga harus dapat bersikap fleksibel dengan jadwal tersebut. Jangan sampai jadwal malah membuat anak-anak kehilangan waktu melakukan kegiatan lain yang disukainya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR