POLA ASUH

Mengajarkan anak bahaya bermain api

Ilustrasi anak main api.
Ilustrasi anak main api. | Safwan Abd Rahman /Shutterstock

Kerusakan, kebakaran, hingga kematian yang sering kali bermula dari anak kecil bermain api di rumah, terutama menggunakan korek dan lillin, menjadi gambaran bagi kita agar lebih waspada melakukan pencegahan.

Lebih penting, si kecil perlu diajarkan bahaya bermain api mengingat ada kalanya orang tua tidak bisa selalu mengawasi.

Di Cilincing, Jakarta Utara (23/10/18), tiga rumah kebakaran diduga karena seorang anak bermain korek api. Meski tak ada korban jiwa, kerugian ditaksir mencapai 350 juta. Kasus-kasus sebelumnya bahkan lebih nahas.

Salah satunya, tiga balita di Bogor(12/9) ditemukan tewas dalam kamar sebuah rumah karena memainkan korek api tanpa pengawasan orang tua.

Menurut Kain Karawahn, mengajarkan anak bahaya bermain api itu perlu dimulai dari membebaskan anak mengenal api. Karawahn adalah seorang seniman sekaligus pendiri pusat pelatihan tanggap api bagi anak-anak di Berlin.

Ia mengajari anak kecil bermain api yang aman demi mencegah tragedi tak diinginkan. Karawahn membiarkan anak-anak memanjakan rasa ingin tahunya dengan bermain api secara terbuka, di bawah pengawasan orang tua.

Ini memungkinkan anak-anak tidak perlu diam-diam menyalakan api karena takut dihukum, dan malah mati terbakar akibat api menjalar.

Ia juga mengajarkan anak cara membakar sesuatu dengan benar. Misalnya bagaimana menggunakan lilin, korek dipakai untuk apa, sejauh apa perlu menghindar dari sumber saat menyalakan api, hingga menjauhkan korek dan lilin dari barang-barang.

Efektivitas pendekatan Karawahn memang belum terbukti secara ilmiah, ada juga ahli yang tak sependapat. Namun, seperti dilaporkan New York Times, metode Karawahn telah diterapkan oleh sebagian besar organisasi keselamatan di Jerman.

Ia pun telah melatih 2.000 pendidik, dan pusat pelatihan api miliknya telah berdiri lebih dari satu dekade tanpa pernah ada laporan anak-anak peserta didik yang membuat struktur terbakar.

Kunci dari keberhasilan metode Karawahn, pada dasarnya adalah komunikasi dan contoh kepada anak. Keduanya bisa membantu anak lebih memahami bahaya api berapa pun usianya dan telah diterapkan banyak ahli di dunia.

Di rumah, bila Anda tak ingin mengenalkan api secara langsung pada anak, Kidshealth menyarankan orang tua untuk membicarakan betapa panasnya api dan bagaimana korek dapat melukai tangan juga menyakiti orang lain.

Jelaskan dan contohkan juga, sama halnya barang terlarang lain seperti menyentuh pisau atau oven, korek api dan lilin adalah alat yang hanya boleh dipergunakan dengan tepat, bukan sebagai mainan atau hiburan.

Namun, jangan pernah melarang. Pada anak-anak yang bebal dan tak mempan diberi pemahaman sekalipun, meminta bantuan profesional lebih bijak.

Pasalnya, menurut Profesor James Ogloff, psikolog forensik dari Monash University, Australia, masalah sering muncul ketika orang dewasa tidak paham seberapa besar keinginan anak bermain api lalu melarangnya, pun tidak tahu mana anak-anak yang memiliki potensi bahaya terhadap api.

"Semua hal yang Anda larang akan menarik bagi anak, dan semakin Anda melarang mereka, semakin menarik hal itu," kata Frieder Kircher, Asisten kepala Departemen Pemadam Kebakaran di Berlin.

Sebagaimana dicatat American Psychological Association, alasan utama balita hingga anak 10 tahun bermain api karena mereka penasaran dan tidak paham konsekuensinya.

Selebihnya, anak-anak bisa menyulut api karena motif rumit yang perlu intervensi khusus seperti memiliki kecenderungan perilaku antisosial atau kenakalan yang berawal dari lelucon untuk mencari perhatian, juga menderita gangguan kognitif atau disabilitas, hingga gangguan mental.

Kata Ogloff, kita sebetulnya tak perlu heran jika sebagian besar tragedi api bermula dari anak-anak. Anak kecil khususnya balita memang memiliki ketertarikan alami terhadap api sehingga normal dan wajar jika mereka bermain api.

Secara evolusi, jelas Daniel Fessler, antropolog di University of California, Los Angeles, “Kita telah bergantung pada api untuk waktu yang sangat lama.” Nenek moyang kita belajar menggunakan api untuk mengembangkan otak yang lebih besar.

Dengan begitu, dorongan anak-anak yang mungkin telah terprogram untuk bermain api pasti sulit ditekan.

Apalagi, sambung Robert Cole, seorang pendidik keselamatan kebakaran di New York, anak-anak mengasosiasikan api dengan perayaan dan kegembiraan, “Rata-rata anak-anak punya pengalaman dengan api. Biasanya kecil dan mudah padam seperti lilin ulang tahun sehingga mereka percaya diri dengan merasa mampu menanganinya.”

Padahal, lanjut dia, balita belum memiliki kemampuan intelektual untuk memahami konsekuensi rumit dari api seperti bagaimana lilin jatuh bisa menyambar serbet dan menyulut kebakaran.

Oleh karena itu, selain mengomunikasikan pemahaman dengan sederhana, orang tua juga perlu melakukan sejumlah pencegahan.

Pertama, pastikan seluruh sumber api aman. Simpan korek api dan lilin di wadah tertutup yang sulit dijangkau anak-anak. Pastikan perangkat listrik rapi pada tempatnya, dan kompor berjauhan dari barang-barang berpotensi terbakar. Lalu, jangan tinggalkan anak sendiri dengan obat nyamuk atau lilin menyala, meski sebentar.

Kedua, ajarkan reaksi tanggap kebakaran dan praktikkan berulang. Misal, selain membuat rute pelarian, kepala rendah ke lantai saat ada asap, jangan buka pintu jika terasa panas, dan bila tubuh terbakar: diam, tempelkan tubuh ke tanah, lalu berguling.

BACA JUGA