Mengapa ada orang yang kurang bisa berempati

Ilustrasi
Ilustrasi | Andrei_R /Shutterstock

Anda baru saja patah hati, kehilangan pekerjaan, mengalami bencana, atau kehilangan orang yang dicintai. Sebagai upaya agar tidak stres atau sekadar berbagi cerita mengenai kesedihan yang sedang dihadapi, Anda mungkin akan memilih bertemu sahabat atau seseorang yang dekat untuk menceritakannya.

Namun, sayang sekali. Ternyata, teman curhat Anda tersebut tak memiliki empati. Alih-alih memberikan dukungan, Anda malah merasa menjadi lebih tidak tenang, marah, dan kecewa.

Memang tak semua orang dapat mengekspresikan empatinya dengan baik. Bahkan, sebagian orang mungkin belum memahami apa itu empati.

Dilansir Psychology Today, empati ialah pengalaman memahami pikiran, perasaan, dan kondisi orang lain dari sudut pandang mereka, bukan dari pikiran Anda sendiri.

Saat berempati, artinya Anda mencoba membayangkan diri Anda ada di posisi mereka supaya memahami apa yang mereka rasakan atau alami.

Empati menyebabkan Anda memiliki perasaan untuk membantu secara alami untuk tanpa paksaan.

Biasanya orang yang tak memiliki empati memperlihatkan tanda-tanda seperti sering mengkritik tanpa menempatkan diri pada posisi orang lain, cenderung tampak dingin, sangat percaya pada keyakinan sendiri, dan menilai bodoh siapa saja yang tidak satu pemahaman dengan mereka.

Tanda lainnya adalah sulit merasa bahagia untuk orang lain, sulit menjaga pertemanan, sulit bergaul dengan keluarga, bicara lebih banyak tentang diri sendiri tanpa peduli cerita orang lain, mengatakan sesuatu yang menyakiti orang lain, dan sulit untuk menciptakan hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain.

Tumbuhnya rasa empati berasal dari pengalaman diri sendiri yang menyakitkan dan menyedihkan.

Mengapa empati itu penting? Karena dapat membantu Anda memahami perasaan orang lain sehingga dapat menanggapi situasi dengan tepat. Hal ini biasanya terkait dengan perilaku sosial.

Lantas, mengapa ada orang tidak memiliki empati? Kemungkinan adalah orang tersebut dibesarkan dalam keluarga yang menghindari pengalaman emosional dan tidak punya hubungan yang hangat antar anggota keluarga.

Alhasil, seseorang menekan perasaan pribadi secara terus menerus hingga akhirnya mereka menutup hati dan tak lagi dapat merasakan perasaan mereka sendiri, apalagi perasaan orang lain. Dampaknya, orang-orang ini akhirnya kurang memiliki rasa cinta terhadap diri sendiri dan terputus dari dirinya sendiri.

Penyebab orang kurang empati juga bisa karena faktor genetik. Para ilmuwan menganalisis empati dari 46.861 orang dan ditemukan bahwa genetik menjelaskan sejumlah besar perbedaan dalam kemampuan untuk memahami emosi orang lain.

Sementara itu, penelitian sebelumnya menemukan bahwa perempuan cenderung lebih berempati daripada laki-laki. Namun, peneliti tak menemukan adanya faktor genetik untuk menjelaskan hal ini.

Bagaimana cara menghadapi orang yang kurang empati? Pertama, jangan terpancing emosi. Ingatkan diri Anda bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki masalah dengan hubungan emosional dengan orang lain.

Kemudian, tak perlu mencoba untuk membuat mereka memahami perasaan Anda. Ini hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Daripada berbicara soal perasaan Anda, bicaralah soal apa yang Anda pikirkan. Cara ini juga membuat mereka tak merasa disalahkan

Bila bukan orang yang dekat Anda, cobalah untuk menjauhkan diri. Tak harus mengakhiri pertemanan atau hubungan, Anda hanya butuh batasan untuk menghindari pertengkaran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR