KESEHATAN MENTAL

Mengapa ibu tega membunuh anaknya

Ilustrasi
Ilustrasi | POJ THEVEENUGUL /shutterstock

Diduga karena sering mengompol, Greinal Wijaya (5) dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, Novi Wanti (26), di kamar kosnya yang berlokasi kawasan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Serangkaian perlakuan yang diberikan oleh NW pada anaknya berupa pukulan pada bagian kelamin, gigitan pada telinga kanan, tamparan pada pipi kiri, lalu menyemprotkan obat serangga pada wajah sang anak, mengikat tangan anak dengan tali rafia, kemudian menutup wajah anaknya menggunakan kantong plastik warna merah.

Pada pemeriksaan awal, Novi mengaku melakukan penyemprotan obat serangga itu untuk menghentikan tangisan anaknya. Menurut Novi, anaknya sudah dua bulan terakhir menjadi lebih rewel dan sering mengompol.

Kombes Pol Raden Argo Yuwono, Kabid Humas Polda Metro Jaya, mengatakan bahwa anak ini merupakan hasil dari hubungan gelap. Laki-laki yang menghamili Novi telah pergi dan tak bisa dihubungi.

Selain harus membesarkan anak tanpa didampingi suami, Novi juga harus membiayai kebutuhan anaknya. Padahal sejak September 2017 ia telah berhenti bekerja.

"Intinya, dia sedang mengalami gangguan psikologis. Kalau tidak kerja, bagaimana dia sekolahkan anaknya. Kemudian tabungan berkurang. Itu yang membuat dia stres," kata Rita Pranawati, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kepada Detik.com.

Saat ini, pemeriksaan terhadap Novi masih berlanjut. Kombes Roycke Langie, Kapolres Metro Jakarta Barat mengatakan bahwa polisi melakukan penyelidikan baik terhadap tersangka maupun korban.

Penganiayaan anak menurut Psikolog

Melihat kasus tersebut, Psikolog sosial dari Universitas Airlangga, M G Bagus Ani Putra, mengutarakan pendapatnya bahwa ada banyak faktor sehingga seseorang melakukan kekerasan.

"Bisa karena faktor ekonomi, rumah tangga atau beban hidup lainnya," tutur Bagus kepada Koran Sindo.

Psikolog tersebut menyarankan bila emosi meningkat, lebih baik keluar sebentar dari objek emosi dan melakukan pelampiasan yang sifatnya positif. Misalnya liburan, beribadah, melakukan hobi atau sekadar menjalankan hal-hal ringan yang disukai.

Psikolog Dewi Haroen juga menjelaskan berbagai faktor yang dapat memicu seseorang melakukan tindakan kekerasan.

Pertama, faktor kejiwaan. Dewi melihat sosok Novi rentan stres dan jiwanya lemah. Dari skala 1-100 persen, tingkat stres yang dialami seseorang saat kehilangan pasangan adalah 75 persen.

Selain kehilangan pasangan, Novi juga harus menjadi ibu tunggal, mengurus dan membiayai anaknya seorang diri, yang merupakan faktor sosial-ekonomi. Dengan beban berat, Novi diduga frustrasi sehingga melampiaskan emosi pada anaknya.

Faktor lingkungan juga dapat berpengaruh. Dewi menilai lingkungan tempat tinggal Novi tidak mendukung. Tinggal di kamar kos membuat Novi sulit bicara dan berbagi informasi, sehingga menciptakan tekanan tersendiri.

Di Amerika Serikat, 500 anak terbunuh setiap tahun

Meski banyak orang kaget dan tak menyangka bahwa seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri, ini bukan kasus pertama yang terjadi.

Sebuah studi di jurnal Forensic Science International melihat kasus pembunuhan anak pada tiga dekade (antara 1976 dan 2007) dan menemukan bahwa kasus ini terjadi sekitar 500 kali setahun di Amerika Serikat.

Jurnal tersebut memaparkan berbagai data soal kasus pembunuhan anak. Misalnya, hampir 72 persen dari mereka yang dibunuh oleh orang tua adalah anak usia 6 tahun atau lebih muda. Sepertiga korban adalah bayi di bawah usia 1 tahun.

Cheryl Meyer, salah satu penulis buku tentang masalah ini, mengatakan bahwa ada kemungkinan seorang ibu membunuh seorang anak di Amerika Serikat setiap tiga hari.

Fakta lain adalah hanya 10 persen korban dibunuh oleh orang tua tiri mereka. Itu berarti 90 persen korban adalah anak kandung. Pembunuhan pada anak laki-laki juga lebih besar, yaitu 52 persen, sedangkan anak perempuan 38 persen.

Penulis utama pada studi ini, Dr. Timothy Mariano, mengatakan bahwa orang tua yang sakit secara mental memiliki kadar testosteron lebih tinggi dan anak yang mereka bunuh mungkin dianggap tidak diinginkan.

Ada lima alasan mengapa orang tua tega menganiaya anaknya, menurut Phillip J. Resnick, seorang psikiater forensik. Di antaranya altruisme, atau membunuh anak karena menganggap itu demi kebaikan sang anak.

Misalnya jika anak menderita penyakit tertentu, atau karena orang tua juga akan bunuh diri dan tak tega meninggalkan anaknya sendiri.

Alasan lain adalah psikosis akut, orang tua membunuh anak berdasarkan gagasan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, orang tua percaya anak itu telah dimiliki setan.

Selain itu, orang tua juga bisa membunuh anak yang dianggap sebagai penghalang dan memang kehadirannya tak diinginkan. Atau, ini terjadi untuk balas dendam pada pasangan.

Namun, alasan lain adalah faktor ketidaksengajaan. Kematian anak bisa juga terjadi karena orang tua yang tak sengaja menganiaya anaknya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR