Mengapa ketidakpastian itu menyiksa

Ini bukan sekadar perasaan. Sains membuktikan, ketidakpastian memang menyiksa.
Ini bukan sekadar perasaan. Sains membuktikan, ketidakpastian memang menyiksa. | Comaniciu Dan /Shutterstock

Jika kita tak mengetahui sesuatu, maka kita tidak akan mengkhawatirkannya. Ungkapan itu benar juga, terutama jika menyangkut ketidakpastian.

Penelitian University College London membuktikannya. Ketidakpastian akan suatu hal, menunggu sesuatu yang tak jelas kapan datang lebih memicu stres daripada jika kita tahu pasti, bahkan ketika itu hal buruk sekalipun.

"Lebih baik kita tahu penerbangan dibatalkan, daripada tak tahu pasti seberapa lama penerbangan ditunda, dan akan dibatalkan atau tidak," jelas ketua penelitian Dr. Archy de Berker dikutip Today.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, Berker dan tim riset merekrut 45 partisipan. Mereka diminta mencoba permainan di komputer.

Dalam permainan itu, mereka harus membalik batu yang di baliknya mungkin ada ular. Peserta harus menebak, menghindari ular.

Jika ada ular pada batu saat dibalik, mereka akan merasakan sengatan mengagetkan. Kadang para peneliti memberi petunjuk pada partisipan, kadang tidak.

Terbukti, partisipan paling stres saat kemungkinan ular bersembunyi di balik batu adalah 50:50. Mereka mengeluarkan keringat lebih banyak, pupil mata pun membesar.

"Ketidakpastian adalah situasi yang menyusahkan untuk otak, karena membuat keputusan bertindak jadi lebih sulit," lanjut Berker.

Sementara itu, para partisipan tidak stres, saat tahu pasti atau sama sekali tak tahu tentang keberadaan ular, pun sengatan mengagetkan.

"Sama halnya saat kita melamar pekerjaan. Kita lebih santai jika tahu tak mungkin diterima, atau pasti diterima," jelas peneliti lain Dr Robb Rutledge.

Berangkat dari fakta itu, Berker dan tim menduga stres membantu kita menghadapi situasi tak pasti, mungkin dengan membuat kita lebih waspada, juga mendorong kita menghindarinya.

Belum ditemukan mekanisme pasti untuk menghadapi ketidakpastian, namun kata Berker, meditasi setidaknya dapat mengurangi stres.

Itu mengapa orang dengan tingkat stres rendah punya kemampuan lebih untuk menata dan mengukur stres sebagai respons situasional.

"Karena ketidakpastian adalah soal apa yang akan terjadi di masa depan, jika kita benar-benar meresapi momen yang ada di depan mata, maka ketidakpastian cenderung tidak memicu stres," papar Berker dikutip Time.

BACA JUGA