MAKANAN INSTAN

Mengapa mi instan tidak sehat

Ilustrasi mi instan.
Ilustrasi mi instan. | Watchara panyajun /Shutterstock

Jenis mi ada dua. Mi instan kemasan dan buatan sendiri. Jelas, ada beda besar antara keduanya.

Seperti disebutkan Cookinglight.com, jenis mi tak sehat adalah yang instan. Apa yang benar-benar terkandung di dalamnya, dan bagaimana efeknya bagi tubuh lah yang akan menjelaskan mengapa mi instan tidak sehat.

Hana Hong, jurnalis Reader's Digest mengungkapkan, karena kerap diingatkan bahwa makan ramen instan tak sehat ia ingin membuktikan kebenarannya. Hong kemudian menantang dirinya bereksperimen mengonsumsi ramen instan lima hari berturut-turut di tiap waktu makan.

Ternyata, walau ramen instan yang dipilihnya adalah kualitas terbaik, ia merasakan dampak langsung terhadap fisik, juga mental.

Tubuh Hong mudah lelah sejak hari ketiga makan ramen. Di hari berikutnya, mulutnya terasa asin begitu bangun tidur. Mirip orang dengan gejala flu yang nyaris kehilangan nafsu makan dan dehidrasi. Selama seminggu ia juga merasa lebih lesu, kurang bergairah, dan begitu lelah tiap malam.

Ia pun menjadi sangat sensitif, dan sadar perubahan suasana hatinya yang menyebalkan tak bisa diprediksi. Ia mengaku lebih rewel dan gampang tersinggung seharian. Namun, begitu tantangannya usai, ia kembali seperti sedia kala. Rutinitasnya pun normal lagi.

Apa yang dialami Hong hanya efek jangka pendek. Sebuah studi yang terbit dalam Journal of Nutrition membuktikan efek jangka panjang makan ramen instan.

Studi oleh periset dari Baylor University ini menguji efek makan ramen instan pada lebih dari 10.000 orang dewasa di Korea Selatan usia 19-64 tahun. Pasalnya, masyarakat Asia memang paling gemar makan mi ketimbang negara lain.

Peserta dibagi dua kelompok, yang mengikuti pola diet tradisional berisi makanan sehat seperti nasi, buah, kentang dan sayuran. Juga yang mengikuti diet daging dan makanan siap saji seperti soda, gorengan, juga ramen instan.

Hasil studi membuktikan, orang yang makan ramen setidaknya dua kali seminggu berisiko signifikan mengalami sindrom metabolik. Dan perempuan 68 persen lebih mungkin terpapar ketimbang laki-laki, karena perbedaan tingkat hormon dan metabolisme antara dua gender tersebut.

National Institute of Health menjelaskan, sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko, termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan gula darah, yang meningkatkan risiko penyakit jantung, strok, dan diabetes.

Menariknya lagi menurut studi, tak ada makanan lain yang berisiko tinggi sebagaimana makan ramen instan. Dan dampaknya tetap berlaku meski Anda rajin olahraga, menyelingi dengan makan sehat, atau menambahkan sayuran dan sejumlah makanan sehat lain ke dalam ramen.

Penyebab ramen instan tak sehat adalah kandungan natrium, kalori, dan lemak jenuh tinggi yang identik sebagai pemicu kerusakan jantung. Dalam satu porsi ramen instan terdapat 380 kalori, 14 gram lemak dan 1.820 mg sodium--ini melebihi setengah anjuran garam harian Food and Drug Administration Amerika (FDA) sebesar 2.300 mg.

Terlebih lagi, mengutip Business Insider, di dalam ramen instan terdapat kandungan aditif tinggi yang disebut Tertiary-butyl hydroquinone (TBHQ). Yakni pengawet dalam makanan, yang sebetulnya produk sampingan industri minyak bumi.

TBHQ terkait dengan gangguan penglihatan manusia, pembesaran hati, dan perkembangan tumor pada tikus. Studi ramen instan lainnya yang dilakukan oleh Dr. Braden Kuo dari Harvard University bahkan menemukan, TBHQ merupakan penyebab mengapa tubuh begitu sulit mencerna mi instan.

Bukan hanya pada mi, kemasan yang menggunakan styrofoam juga berbahaya. Di dalamnya terkandung bisphenol-A (BPA), zat kimia yang perlu dihindari sama sekali karena bisa berupa karsinogen--zat penyebab kanker pada jaringan hidup.

Dengan demikian jelas sudah, mi instan tidak sehat dan perlu dihindari. Meski begitu, ada pengecualian.

Dr. Frank B. Hu, seorang profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard, mengatakan kepada The New York Times (h/t Harvard.edu) agar Anda mengonsumsi ramen instan dengan bijak. "Sekali atau dua kali sebulan boleh-boleh saja. Namun beberapa kali seminggu itu bisa jadi masalah."

Karenanya jika sedang ingin makan ramen, membuatnya sendiri lebih direkomendasikan. Bonnie Taub-Dix, RD, ahli gizi dan kontributor Better di Nbcnews.com menyajikan lima resep favorit yang bisa Anda coba di rumah.

Taub-Dix berkata, untuk membuat ramen enak dan sehat rahasianya adalah, "mengendalikan kandungan garam, protein dan sayuran, tetapi tetap perhatikan ciri khas umami yang kita semua kenal dan sukai."

Ia juga menyarankan Anda membuat ramen menggunakan kaldu ayam rendah sodium, banyak sayuran, mie gandum atau nabati, lalu olah jadi makanan sehat dengan menambahkan ayam, ikan, makanan laut, telur atau daging tanpa lemak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR