KESEHATAN

Mengenal AFM, penyakit misterius mirip polio

Ilustrasi penderita Acute flaccid myelitis (AFM).
Ilustrasi penderita Acute flaccid myelitis (AFM). | Wavebreakmedia /Shutterstock

Penyakit neurologis mirip polio yang dianggap misterius lantaran tidak diketahui penyebabnya melanda puluhan anak kecil sehat seantero Amerika Serikat. Kendati langka, penyakit bernama Acute flaccid myelitis (AFM) ini terbilang mengancam.

Para ilmuwan mengimbau orang tua agar waspada dengan memahami tanda dan gejala, juga pencegahan.

Seperti dilaporkan Snopes, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS (CDC) telah mengeluarkan peringatan “tidak biasa” pada Selasa (16/10/18) tentang peningkatan AFM. Setidaknya 62 kasus telah dikonfirmasi di 22 negara bagian AS dan lebih dari 65 kasus masih diselidiki.

“Dari kasus yang dikonfirmasi, lebih dari 90 persen terjadi pada anak-anak usia di bawah 18 tahun. Usia rata-rata adalah sekitar 4 tahun," kata Dr. Nancy Messonnier, direktur Pusat Nasional Imunisasi dan Penyakit Pernapasan CDC (NCIRD), dalam jumpa pers dinukil NBC News.

AFM adalah penyakit yang memengaruhi sistem saraf, khususnya pada materi abu-abu di daerah sumsum tulang belakang. Tergantung bagian yang terserang, ini menyebabkan otot berbeda dan refleks di dalam tubuh mengalami kelemahan ekstrem bahkan lumpuh.

“Jadi jika AFM memengaruhi sisi bawah sumsum tulang belakang, kelumpuhan cenderung terjadi di kaki. Dan jika itu memengaruhi sisi yang lebih tinggi, lengan lebih mungkin mengalami kelumpuhan,” jelas Dr. Fernando Acosta, seorang ahli saraf pediatrik di Cook Children's Medical Center, Texas.

“Atau jika lebih dekat ke leher, maka mereka tidak bisa menggerakkan kepala, leher, dan bahu. Kami memiliki satu kasus dan itu sangat buruk," tambahnya.

Dr. Messonnier menyebut AFM adalah penyakit serius yang misterius, sangat langka. Paparannya memengaruhi kurang dari satu dalam satu juta orang per tahun di AS.

Dr. Todd Ellerin, direktur penyakit menular di South Shore Hospital di Weymouth, mengatakan gejala AFM mirip-mirip poliomyelitis--penyakit mirip polio yang telah dianggap punah di AS berkat vaksin, dan serupa gejala penyakit pernapasan berat alias flu parah.

Meski CDC tidak menemukan bukti bahwa AFM menular, Dr. Ellerin mengatakan para ahli akan terus memantau penyebarannya, mengingat penyakit-penyakit serupa AFM biasanya menular.

Sebagaimana flu, gejala AFM bisa muncul bersama batuk, bersin, dan demam tetapi diiringi tanda-tanda neurologis.

AFM ringan umumnya ditandai dengan serangan lemah mendadak pada otot lengan atau kaki, juga refleks tubuh yang lebih lambat. Kemudian, bicaranya berubah cadel, wajah terkulai, hingga sulit melakukan gerakan sederhana macam menggerakkan mata, menelan, dan paling parah, sesak napas.

Beberapa anak bisa pulih sepenuhnya dengan cepat, tetapi yang lain bisa lumpuh bertahun-tahun bahkan permanen dan butuh perawatan berkelanjutan.

Situs NPR dan Washington Post menulis, sejak pertama kali mendapati AFM pada 2014, CDC telah melakukan beragam penelitian dan mulai mengenali pola. Akan tetapi, bagaimana AFM menyebar, siapa yang berisiko tinggi terpapar dan apa penyebabnya, semuanya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Kasus AFM yang melonjak signifikan pada 2016 diduga terjadi musiman, biasanya di Bulan Agustus atau September. Walaupun satu anak tercatat meninggal akibat komplikasi neurologis AFM pada 2017, tak ada korelasi antara vaksin dan anak-anak penderita AFM. Baik pada anak-anak yang mengikuti vaksin lengkap atau tidak keduanya tetap bisa terserang AFM.

Sejauh ini ada tiga prediksi penyebab AFM, yaitu virus, racun lingkungan, dan kelainan genetik. Pasalnya, penelitian menunjukkan tidak ada patogen atau kuman yang secara konsisten terdeteksi pada cairan tulang belakang penderita.

Pada beberapa anak, temuan CDC memastikan AFM berasal dari infeksi virus. Sesuai kata Dr. Samuel Dominguez, direktur medis dari laboratorium mikrobiologi klinik di Children's Hospital Colorado. AFM mungkin komplikasi langka dari virus (yang sebetulnya) umum.

Dugaan kuat tertuju pada enterovirus (EV), penyebab banyak penyakit tergolong ringan seperti flu dan demam—termasuk polio. Dari sekian banyak jenis EV, tahun ini 11 anak di AS positif EV A71, suatu penyebab flu yang biasanya beredar di Asia dan bagian dunia lain.

Sementara itu, virus-virus lain yang dicurigai peneliti seperti West Nile, polio, dan adenovirus; ditegaskan Dr. Messonnier bukan penyebab AFM setelah menguji spesimen tinja pasien.

Mengingat virus masa kini bisa berkembang sedemikian parah, C. Buddy Creech, MD, seorang profesor pediatrik dan spesialis penyakit menular menyarankan pencegahan dengan rutin mencuci tangan, jaga jarak dari orang yang sedang sakit pilek, selalu melindungi diri dari gigitan nyamuk, dan tidak mengabaikan imunisasi, khususnya polio.

Benjamin Greenberg, seorang ahli saraf dari University of Texas Southwestern di Dallas yang mengkhususkan diri dalam mengobati penyakit otak dan sumsum tulang belakang, mengatakan tidak ada pengobatan khusus untuk AFM.

Setelah virus menyerang sistem saraf, tidak ada intervensi medis yang diketahui dapat membalikkan efeknya. Namun, terapi rehabilitasi bisa membantu walau pemulihan cenderung bervariasi karena pengobatan ditentukan berdasarkan kasus per kasus.

Greenberg merekomendasikan terapi fisik atau okupasi. Kata dia, beberapa anak yang lumpuh karena AFM akhirnya bisa berjalan lagi meski butuh waktu.”Pemulihan yang lambat tetapi stabil," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR