Mengenal Glioblastoma, kanker otak yang agresif

Ilustrasi hasil pemindaian otak.
Ilustrasi hasil pemindaian otak. | Ahuli Labutin /Shutterstock

Senator Amerika Serikat John McCain, calon presiden dari Partai Republik yang bersaing dengan Barrack Obama pada 2008, didiagnosis menderita tumor otak primer yang disebut glioblastoma.

Penyakit tersebut diketahui usai pria berusia 80 tahun ini menjalani operasi pada 14 Juli untuk mengeluarkan gumpalan darah dari atas mata kirinya. Demikian pernyataan yang diberikan kantor McCain pada Rabu (19/7) waktu setempat.

Apa itu Glioblastoma?

Tak seperti tumor otak lain yang dimulai di dalam tubuh dan menyebar ke otak, glioblastoma dimulai di otak atau sumsum tulang belakang. Tumor muncul dari astrosit, sel berbentuk bintang yang membantu memelihara sel saraf di otak.

Walau masih termasuk langka, hanya tiga kasus per 100.000 orang, penyakit ini cenderung menyerang laki-laki dibanding perempuan--sekitar 60 persen kasus per tahun.

Glioblastoma dikenal di kalangan medis sebagai bentuk kanker otak yang paling umum, sangat agresif, dan menantang untuk diobati. Asosiasi tumor otak di Amerika (ABTA) mengategorikan Glioblastoma sebagai tumor yang sangat ganas, berbahaya, dan berpotensi kanker.

Selain kemampuannya untuk menyerang dan tinggal di dalam jaringan otak normal, sel-selnya juga bereproduksi dengan sangat cepat dan mudah menyebar.

Glioblastoma bisa tumbuh 1,4 persen dalam satu hari. Sebagai perbandingan, kanker paru-paru dengan pertumbuhan tercepat dapat berlipat ganda sekitar 14 minggu, sedangkan glioblastoma hanya dalam tujuh minggu.

Apa penyebab Glioblastoma?

Glioblastoma diperkirakan muncul secara spontan dan bisa menimpa siapa saja pada usia berapa pun. Walau demikian, pertambahan usia merupakan faktor utama, kata Dr Elizabeth Stoll, seorang peneliti dari University of Newcastle's Institute of Neuroscience di Inggris pada TIME.

Menurutnya, Akumulasi mutasi dalam sel dari waktu ke waktu dapat menyebabkan tumor spontan. "Seperti banyak kanker, Anda lebih mungkin mendapatkannya saat Anda lebih tua," jelasnya.

Jenis tumor ini pada dasarnya tidak dipengaruhi faktor genetik atau lingkungan, pun riwayat penyakit tertentu.

Namun Pada kasus McCain, yang diketahui mengidap melanoma--sejenis kanker kulit-- sejak lama, besar kemungkinan riwayat penyakitnya berhubungan dengan glioblastoma. Diprediksi mutasi gen lah yang jadi penyebab.

"Jauh sebelum menjadi kanker. sel kulit ini muncul dari puncak saraf embrio, atau sebaliknya. Kemudian sel asli dari daerah tersebut mengalami mutasi, sesuatu yang diwariskan atau berkembang selama hidupnya sehingga terkena kanker," terang Dr. John Yu, spesialis kanker di Cedar-Sinai Medical Center.

Bagaimana gejalanya?

Gejala glioblastoma biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan di otak, akibat pertumbuhan tumor yang cepat. Gejala ini umumnya bersifat neurologis, termasuk kejang, sakit kepala, mual, muntah dan mengantuk.

Beberapa penderita mungkin mengalami gejala lain, bergantung pada di mana tumor berada. Misalnya merasa lemah di satu sisi tubuh, kesulitan mengingat atau bicara, dan mengalami perubahan visual.

Pengobatan apa yang bisa dilakukan?

Saat ini ada tiga perawatan utama yang tersedia. Yaitu operasi bedah, diikuti radiasi, dan kemoterapi.

Menurut Dr. Behnam Badie, direktur program tumor otak di City of Hope di Duarte, pengobatan standar dimulai dengan pembedahan untuk menghilangkan sebanyak mungkin tumor dari otak seaman mungkin, sekaligus mengurangi tekanan di otak.

Setelah beberapa minggu pulih, diikuti lima sampai enam minggu pengobatan dosis harian, dan radiasi dosis rendah serta kemoterapi. Kemoterapi di sini untuk membantu radiasi agar lebih efektif.

Langkah terakhir adalah kemoterapi dosis tinggi. Jadwal biasanya lima hari kemoterapi setiap hari, lalu tiga minggu libur, kemudian lima hari pengobatan lagi. Ini berlanjut selama enam bulan sampai satu tahun.

Namun kembali lagi pada lokasi dan penyebaran tumor di otak. Ada beberapa tempat di otak yang dianggap berisiko tinggi, pun menimbulkan efek samping terutama pada fisik.

"Tidak semua sel berperilaku dengan cara yang sama. Bahkan saat Anda membunuh beberapa, sel residu dapat bertahan dan tumbuh lagi. Jadi Anda perlu melawan dan melalui perjuangan berat terus-menerus untuk menyingkirkan setiap sel hingga akhir," ujar Susan Chang, Direktur neuro-onkologi di University of California di San Francisco.

Itu sebabnya Glioblastoma dianggap sangat sulit diobati dan penyembuhannya seringkali tidak mungkin dilakukan. Sebaliknya, perawatan dapat memperlambat perkembangan kanker dan mengurangi tanda serta gejala.

Berapa tingkat kelangsungan hidup?

Untuk pasien berusia di atas 55 tahun, tingkat kelangsungan hidup untuk glioblastoma sangat rendah--sekitar empat persen atau setidaknya lima tahun. Bahkan di antara pasien yang merespons obat-obatan dan radioterapi, kanker tetap bisa kembali. Biasanya dalam 12 sampai 24 bulan.

Sementara kelangsungan hidup jangka panjang untuk orang di atas 65 tahun mendekati satu persen, berdasar studi tahun 2008 terhadap lebih dari 4.000 orang dari kelompok usia tersebut. Walau ada kemungkinan lain yang menyebutkan hanya sekitar empat bulan.

Kabar baiknya, kini periset sedang melangsungkan uji coba klinis imunoterapi, jenis obat baru yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk mengobati glioblastoma pada masa depan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR