Mengenal lebih dekat kain tenun asal Garut

Pengrajin tenun sedang membuat kain tenun warna biru dengan mesin tradisional.
Pengrajin tenun sedang membuat kain tenun warna biru dengan mesin tradisional. | ESstock /Shutterstock

Presiden Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi terlihat berbeda saat menghadiri Muslim Fashion Festival (Muffest) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC).

Kala itu, Jokowi terlihat serasi mengenakan kemeja batik warna coklat yang dipadankan dengan kain tenun biru tua.

Kain tenun yang dililit menjadi sarung tersebut dilengkapi dengan aksen ikatan pada sebelah kanan dan sabuk songket asal Pekanbaru.

Dinukil dari Kompas.com, kain tenun yang dipakai Presiden Jokowi adalah kain tenun yang berasal dari Garut, Jawa Barat.

Selama ini, Garut cukup dikenal dengan kerajinan batiknya. Ternyata, kota yang juga tersohor dengan olahan dodolnya ini juga memiliki tenun sutera dengan warna-warna cerah.

Selain warna yang terang, kain tenun garut memiliki motif khas garis geometris dan gambar bunga-bunga, mulai dari bunga puspa, bunga tapak dara, bunga gambir, bunga kusuma, dan lain-lain. Umumnya, tenun garut terbuat dari bahan sutera.

Mengapa sutera? Hal ini dikarenakan kota Garut adalah salah satu daerah penghasil sutera, mulai dari bahan sutera hingga tenun sutera. Oleh karena itu jangan heran jika melihat tenun Garut selalu terlihat menawan dan menarik perhatian.

Pengaruh budaya dan alam membuat tenun sutera garut menjadi unik sehingga mendapatkan tempat spesial di hati para penggemar wastra nusantara.

Pembuatan kain tenun garut yang terlihat indah tersebut terbilang tidak mudah dan membutuhkan keterampilan khusus. Sebab, prosesnya membutuhkan banyak tahapan yang cukup memakan waktu.

Rata-rata proses pembuatan kain tenun memakan waktu dua sampai tiga bulan, mulai dari proses pencelupan warna benang sutra, tahap pemintalan, dan akhirnya ditenun sehingga menjadi satu lembar kain tenun.

Anda yang tertarik untuk melihat proses pembuatan kain tenun sutra alam khas Garut, bisa mengunjungi Kampung Tenun Garut Panawuan yang terletak di Desa Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Daerah ini telah diresmikan sebagai daerah sentra tenun di Garut.

Hadirnya Kampung Tenun Garut yang mayoritas perajin tenunnya adalah pria ini merupakan upaya melestarikan budaya dan menjadikannya sebagai destinasi wisata belanja.

Kain tenun garut dibuat menggunakan alat bukan mesin. Namun, sebelumnya kain harus melewati proses pembuatan kain tenun yang cenderung rumit terlebih dahulu.

Langkah awal adalah pembuatan pola dengan menciptakan ragam hias pada benang dan corak kain.

Selanjutnya, ada proses kelos, yakni benang yang sudah dibersihkan akan dipilin dan digulung selama satu hari. Kemudian, para perajin tenun akan melakukan proses hani, yaitu proses penggulungan benang dengan arah sejajar yang dikerjakan selama empat jam.

Lalu, benang yang sudah disusun akan diikat sesuai pola atau motif awal dan memakan waktu selama empat hari. Proses berikutnya, pencelupan warna sesuai dengan desain yang sudah dibuat.

Biasanya, tahap proses pewarnaan ini membutuhkan waktu selama satu hari. Ada dua pilihan cara pewarnaan, dengan sintetis dan alami.

Kebanyakan bahan pewarna yang digunakan untuk membuat kain tenun adalah memakai bahan-bahan natural yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, seperti misalnya, sayuran, buah, dan bunga, karena bisa menghasilkan warna yang lebih muda atau kalem.

Usai proses pencelupan selama satu hari, perajin pun menjemur benang sampai dengan warnanya meresap sempurna.

Kemudian lanjut ke tahap pencoletan, yaitu proses yang lebih detail untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Proses ini memakan satu hari untuk satu warna. Lalu, benang kembali dijemur selama satu hari.

Perajin selanjutnya melakukan tahap merapikan benang supaya tidak kusut untuk proses pemencaran, yakni merapikan benang.

Selama satu hari perajin melalukan pemencaran dan diikuti dengan pemaletan, yaitu proses penggulungan benang pada palet yang nantinya digunakan sebagai benang dengan arah lebar. Barulah kemudian perajin membuat kain tenun menggunakan gulungan benang tersebut.

Bila melihat prosesnya yang panjang, detail, dan masih mengandalkan keterampilan tangan, maka tidak heran jika perajin hanya bisa menghasilkan kain tenun dalam jumlah produksi terbatas.

Harga kain yang ditawarkan di Kampung Tenun Garut ini mulai dari Rp400 ribu- Rp1 jutaan. Harga kain tenun akan semakin mahal apabila kain menggunakan banyak warna.

Untuk mengetahui kualitas tenun, Anda bisa melihatnya dari mutu bahan, keindahan tata warna motif, dan ragam hias.

A post shared by renitasari (@renitasari) on

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR