KESEHATAN

Mengenal leptospirosis, penyakit dari urine hewan

Leptospirosis
Leptospirosis | Tashatuvango /Shutterstock

Selama periode Januari hingga pertengahan Februari 2018, enam warga Boyolali, Jawa Tengah, terkena penyakit leptospirosis. Tiga di antaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan setempat, pada 2017 jumlah kasus leptospirosis ada 34 kasus dan 9 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan pada tahun sebelumnya, ada 7 kasus dan tidak ada korban jiwa.

Saat musim hujan, berhati-hatilah terhadap penyakit ini. Sebab, penyebarannya bisa terjadi di lingkungan tempat Anda tinggal.

"Kalau lingkungan banjir, ada tikus di rumah yang juga ikut ngungsi saat banjir. Tikus ini kencingnya mengandung leptospirosis. Hati-hati," ujar Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Jakarta, Kamis (8/2), dikutip IDN Times.

Untuk mencegah terinfeksi bakteri, mengenali gejala, mengetahui cara pencegahan dan bagaimana cara mengobatinya, berikut kami rangkum informasi mengenai leptospirosis dari berbagai sumber.

Penyebaran bakteri

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dapat menyerang manusia dan hewan.

Bakteri ini bisa menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi. Jenis hewan yang membawa bakteri ini antara lain babi, kuda, anjing, dan tikus.

Saat hewan ini terinfeksi, mereka mungkin tidak memiliki gejala penyakitnya. Namun, hewan dapat terus mengeluarkan bakteri ke lingkungannya secara terus-menerus selama beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Pada manusia, bisa terinfeksi melalui kontak dengan air kencing atau cairan tubuh lainnya, kecuali air liur, dari hewan yang terinfeksi. Bisa juga dari kontak dengan air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi dengan urine hewan yang terinfeksi.

Bakteri bisa masuk ke tubuh melalui kulit atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut), terutama jika kulit pecah dari luka atau goresan. Minum air yang terkontaminasi juga bisa menyebabkan infeksi.

Wabah leptospirosis biasanya disebabkan oleh paparan air yang terkontaminasi, seperti banjir. Penularan orang ke orang jarang terjadi.

Bila sedang musim hujan dan daerah tempat tinggal Anda rentan banjir, waspadalah terhadap penyakit ini.

"Saat membersihkan area setelah banjir, proteksi diri dengan memakai sepatu boots, pakai masker, atau kacamata kalau perlu. Intinya, saat bersih-bersih pasca banjir harus menggunakan alat pelindung diri mulai dari kaki sampai ke kepala," kata Ari Fahrial Syam, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Gastroenterologi-Hepatologi, seperti dikutip Tempo.co.

"Tujuannya agar terhindar atau mencegah diri dari bakteri Leptospira yang menyebar."

Kenali gejalanya

Beberapa orang yang terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala sama sekali. Namun, menurut penjelasan Sherly Jeanne Kilapong, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Boyolali, salah satu gejala leptospirosis ini mirip dengan flu atau demam berdarah dengue (DBD).

Tanda paling umum adalah demam dan nyeri pada betis. Gejala lain meliputi sakit kepala, panas dingin, nyeri otot, muntah, kulit dan mata menguning, sakit perut, diare, dan ruam.

Pasien maupun keluarga akan mengira demam ini hanya flu biasa jadi tidak langsung di bawa ke dokter atau saat di rumah sakit ditangani seperti DBD, sehingga tidak segera diberi antibiotik. Akhirnya terlambat diobati dan meninggal dunia.

Waktu antara saat seseorang terkontaminasi sampai menjadi sakit adalah 2 hari sampai 4 minggu. Penyakit biasanya dimulai tiba-tiba dengan demam dan gejala lainnya.

Bila tidak diobati, leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis (radang selaput sekitar otak dan sumsum tulang belakang), gagal hati, gangguan pernapasan, dan bahkan kematian.

Waspada bila bekerja atau sering dekat dengan hewan

Tak hanya di Indonesia, leptospirosis terjadi di seluruh dunia. Namun, paling sering terjadi di daerah beriklim sedang atau beriklim tropis.

Orang yang banyak bekerja di luar rumah atau banyak berinteraksi dengan hewan memiliki risiko terkena bakteri leptospira seperti petani, pekerja tambang, pekerja di rumah pemotongan hewan, dokter hewan, dan peternak hewan.

Dilansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penyakit ini juga dikaitkan dengan berenang, bermain kayak, dan arung jeram di danau dan sungai yang terkontaminasi.

Leptospirosis dapat dicegah dan diobati

Untuk Anda yang banyak berinteraksi dengan hewan, ada cara mengurangi risiko terkena leptospirosis, seperti cuci tangan dengan sabun dan air setelah menangani hewan atau produk hewani, bersihkan luka-luka sesegera mungkin, tutupi semua luka dengan plester tahan air.

Segera mandi bila Anda pernah berada di air yang berpotensi terinfeksi bakteri. Jangan pernah menyentuh binatang mati dengan tangan kosong serta dilarang minum air yang belum direbus, terutama dari tempat-tempat seperti sungai, kanal, atau danau.

Bila Anda mengalami serangkaian gejala leptospirosis, segera memeriksakan kondisi ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan untuk mendapat perawatan.

Dilansir Medscape, leptospirosis ringan diobati dengan doksisiklin, ampisilin, atau amoksisilin. Untuk leptospirosis berat, penisilin intravena G telah lama menjadi obat pilihan.

Sedangkan kasus yang parah dan memengaruhi sistem organ dan dapat menyebabkan kegagalan multiorgan, bisa mendapatkan terapi penanganan komplikasi ginjal, hati, hematologi, dan sistem saraf pusat.

Situs Alodokter menulis bahwa leptospirosis diobati dengan suntikan antibiotik seperti penisilin dan tetracycline.

Antibiotik ini digunakan selama satu minggu untuk membasmi bakteri dan mengembalikan fungsi tubuh yang terganggu akibat kondisi ini.

Meski demikian, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas terapi antibiotik terhadap leptospirosis.

Proses pengobatan harus diikuti sampai akhir untuk memastikan semua bakteri hilang. Ini juga dilakukan untuk mencegah kemungkinan terulangnya infeksi dari bakteri yang sama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR