Mengenal Mipster, muslim hipster

Darimana asalnya Mipster, siapa mereka? Simak dalam artikel ini.
Darimana asalnya Mipster, siapa mereka? Simak dalam artikel ini.
© Taraskin /shutterstock

Pernah dengar istilah mipster? Mipster adalah akronim dari muslim hipster. Artinya kurang lebih umat muslim yang hipster.

Istilah mipster dipopulerkan oleh Abbas Rattani, pemuda muslim asal Amerika pada 2013. Ia berusaha menyelaraskan Islam dengan gaya hidup kaum urban secara positif.

Mipster yang bermula dari mailing list ini sekaligus merupakan gerakan menentang stereotip pada umat muslim di Amerika.

Layaknya magnet dengan dua kutub, ada yang suka dan tak suka dengan tercetusnya Mipster. NPR mengemas rangkuman kontroversi Mipster. Bagaimana mereka berusaha memerangi stereotip namun sekaligus memicu tiga kategori pengkritik.

Tentang hipster

Mengacu pada kamus Merriam Webster, hipster diartikan sebagai orang yang menyukai atau tertarik pada hal-hal baru yang tidak biasa.

Pada tahun 1940-an, istilah hipster digunakan untuk menggambarkan penggemar jazz yang tertarik pada mode, orang-orang yang gemar bergaul, dan bersikap santai.

Penulis Matt Granfield menjelaskan definisi hipster dalam buku HipsterMattic. Menurut Matt, hipster pada tahun 2010-an, adalah mereka yang menggunakan sepeda fixed gear, gemar merajut, dan menjadi vegan.

Hipster kurang lebih adalah anak-anak muda dari lingkungan kelas menengah, dengan selera yang berlawanan dengan arus utama. Mereka bukan pengikut tren, tapi pencipta tren. Selera yang dimaksud bisa termasuk musik, mode, dan gaya hidup.

Foto kiriman Hijab Fashion (@hijabfashion) pada

Mipster

"Mipster adalah seseorang yang berada di garis depan untuk musik terbaru, mode, seni, pemikiran kritis, makanan, imajinasi, kreativitas, dan segala hal. Mipster jugamerupakan orang yang berani, namun tetap rendah hati, memiliki pikiran terbuka untuk ide-ide yang berbeda. Tak ada syarat apa pun untuk jadi mipster. Siapa saja boleh dan bisa jadi mipster," tulis laman Facebook resmi grup ini, Mipsterz- Muslim Hipsters.

Tahun 2013 lalu, Rattani dan kelompok Mipsterz membuat foto dan video yang menggambarkan kehidupan para mipster. Di dalam video tersebut, kita bisa melihat perempuan berhijab bermain papan luncur, berjalan-jalan dengan latar belakang perkotaan, berfoto, menari, bermain anggar, dan bersenang-senang dengan berbagai busana sesuai karakter masing-masing.

Video tersebut menjadi viral dan memancing komentar. Ada yang mendukung dan menyukai video ini karena memberi gambaran tentang sosok perempuan Muslim yang sopan, bergaya, dan tampil percaya diri.

Namun, ada juga yang sinis. Para mipster dianggap sekadar pamer gaya. Kecaman juga datang untuk video ini karena beberapa perempuan di dalamnya tak mengenakan hijab sesuai syariat islam, seperti dilansir The Daily Beast.

Terlepas dari semua itu, menurut Mipsterz, video ini dibuat untuk memberikan makna yang lebih luas tentang bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim berkebangsaan Amerika.

Nyatanya, perempuan muslim tak selalu identik dengan hal-hal yang ketinggalan zaman, sungkan untuk bersuara, namun juga bisa tampil percaya diri.

Somewhere In America #MIPSTERZ
© Sheikh Bake

Mereka yang masuk dalam kategori Mipster adalah kaum muslim muda, berusia 16 hingga 24 tahun. Mereka juga tipikal orang yang sadar mode dan identik dengan persahabatan serta pergaulan di lingkungan pendidikan, seperti ditulis The Guardian.

Salah satu sosok perempuan mipster di Amerika adalah Yasmin Chebbi. Gayanya kekinian, berani memakai baju dengan warna-warna cerah, dan memakai pakaian dengan potongan yang tidak biasa. Yasmin mengenakan hijab dan ia tetap bisa bebas mengekspresikan diri lewat gaya.

Dengan karakter yang dimiliki, tak mengherankan jika mipster juga menjadi target pasar mode dunia. Banyak jenama yang tadinya tak punya pakaian khusus untuk perempuan berhijab, kini menciptakannya.

Mulai dari pakaian untuk kelas menengah, hingga jenama high fashion. Di Indonesia, ada Uniqlo yang menggandeng desainer Hana Tajima. Di dunia, Dolce & Gabbana adalah salah satunya.

Konfererensi Muslim Lifestyle Expo di London menyatakan bahwa umat muslim adalah target pasar komersial yang besar. Pasar halal bernilai USD2,1 triliun setiap tahun di seluruh dunia, dan meningkat pada USD500 miliar per tahun.

Guardian menulis banyak jenama global melihat peluang besar pasar Muslim di seluruh dunia. Namun masih banyak yang belum dapat memahami, atau mengabaikan potensi dari sektor berkembang.

Yakni mereka yang masih muda, berpendidikan tinggi dan secara kolektif memiliki daya beli yang sangat besar. Mereka ini lah yang disebut mipster.

Banyak sektor bisnis yang belum menjangkau mipster. Beberapa di antaranya seperti agen perjalanan wisata, mode, perawatan kulit, dan yang berhubungan dengan gaya hidup.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.