Mengenal operasi rahang yang tak semata buat kecantikan

Ilustrasi rekonstruksi rahang
Ilustrasi rekonstruksi rahang | SizeSquare's /Shutterstock

Tujuan kecantikan sebetulnya hanya salah satu manfaat sekunder dari operasi rahang. Namun, sejak beberapa tahun belakangan, justru banyak orang normal turut menjajal operasi rahang demi manfaat sekunder semata.

Di YouTube Channel milik pengacara kondang Hotman Paris, selebritas Lucinta Luna mengaku telah menjalani berbagai prosedur kecantikan dengan dana tak sedikit. Salah satunya dengan melenggang ke Korea Selatan dan mengeluarkan Rp300 juta hanya untuk operasi rahang.

Adanya kenyataan semacam itu diakui kalangan dokter. “Ada juga yang bertujuan memperbaiki bentuk wajah agar wajah tampak lonjong. Kecil kayak artis-kecil korea itu," ungkap Dr dr Fonny Josh SpBP-RE(K), dari Klinik FJ Aesthetik immortal di Makassar.

Ia menuturkan bahwa salah satu prosedurnya adalah memotong sudut rahang bawah agar tidak terkesan lebar atau kotak. Umumnya dikombinasi dengan memotong tulang dagu kemudian dimajukan agar menghasilkan kontur dan bentuk wajah jadi lonjong.

Padahal, melansir Mayo Clinic, operasi rahang yang dalam istilah medis disebut pembedahan rahang korektif atau bedah ortognatik, pada dasarnya digunakan untuk mengoreksi ketidakselarasan susunan rahang atas (osteotomy maxilla) dan bawah (osteotomy mandible).

Sederhananya, "Memosisikan rahang atas dan rahang bawah pada posisi yang baik terhadap dasar kepala," jelas Profesor Coen Pramono, spesialis bedah mulut dan maksilofasial sekaligus Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga Surabaya yang sukses melakukan operasi rahang pertama di Indonesia pada akhir Desember 2018 lalu.

Daniel Murrell, MD, mengatakan setidaknya ada tiga penyebab yang membuat orang memiliki rahang tidak selaras.

Paling umum adalah cedera wajah seperti rahang terkilir dan patah akibat kecelakaan atau cedera olahraga. Lalu, cacat lahir semisal bibir sumbing dan memiliki rahang bengkok secara alami (faulty jaw).

Tak kalah sering, tambah Dr John Scmmitz, spesialis bedah mulut dan maxillofacial dari Texas adalah kelainan tertentu yang membuat rahang atas dan bawah tumbuh dengan laju berbeda.

Kelainan ini bisa dipicu gigi tidak sejajar, kebiasaan sewaktu kecil mengenyot tangan atau mengisap jempol sehingga gusi dan dagu terdorong ke depan, hingga gangguan sendi temporomandibular (TMJ) akibat cedera atau radang sendi.

Ketidakselarasan rahang biasanya menimbulkan berbagai dampak fisik terutama penurunan fungsi gigitan dan fungsi kunyah. Dampak sampingannya seperti tidak bisa menutup rahang dan bibir dengan benar dan nyaman, hingga gangguan tidur, sulit bernapas lewat hidung dan berbicara. Bahkan pada kasus TMJ, diiringi rasa pusing sekaligus nyeri dan radang di bagian rahang.

Dalam kasus ringan atau setidaknya bisa tertangani lebih dini, mengenakan behel ditambah alat gigi ortopedi untuk memosisikan kembali rahang sudah bisa menuntaskan masalah.

Sementara kasus rumit yang perlu dioperasi, menurut Coen sama sekali tidak mudah karena tingkat kesulitannya tergantung seberapa berantakan anatomi rahang pasien.

Apalagi prosedurnya sering melibatkan mengoreksi kelainan gigi yang tidak bisa diselesaikan cuma dengan ke dokter gigi atau pakai behel. Ini termasuk memperbaiki presisi bentuk dagu (operasi dagu atau genioplasti), atau kombinasi dari seluruhnya.

Untuk satu prosedur bedah saja bisa berlangsung 5-6 jam dengan pemulihan sampai 3 bulan. Bahkan banyak kasus di mana operasi perlu diulang dan mengalami komplikasi. Itulah mengapa operasi rahang wajib ditangani pakar maksilofasial bersama dokter gigi berpengalaman.

Jadi, bisa dibilang operasi rahang sebetulnya merupakan prosedur medis opsional terutama bagi orang-orang yang mengalami dampak fisik dan psikologis, akibat ketidakselarasan rahang, dagu dan gigi.

Dikatakan opsional karena banyak penderita ketidakselarasan ini yang tidak mendapat penanganan apapun tapi mampu hidup seiring dengan dampak. Meski begitu. banyak pula yang memilih perlu melakukan operasi rahang dengan tujuan utama mengoreksi masalah fungsional, sekaligus memperoleh manfaat sekunder terkait citra diri alih-alih sekadar meningkatkan penampilan.

Sebagaimana dikisahkan Martha Hayes asal AS, hidupnya berubah lebih baik dan percaya diri setelah operasi. Awalnya ia sulit merapatkan mulut, merasa jelek, dan menderita bertahun-tahun akibat dirundung. Hayes mengalami kelainan rahang overbite (tonggos) parah sehingga gigi kelincinya terlihat sangat besar dan merenggang sangat lebar.

Di luar itu, popularitas operasi rahang agar tampak kecil dan tirus tak terlepas dari standar kecantikan di Korea Selatan.

Alih-alih meniru kecantikan ideal Barat yang serba tegas dan tajam, perempuan di negara yang terkenal sebagai "ibukota operasi plastik dunia" itu sejak lama mengagungkan fitur eurocentric: mata lebar, garis rahang ramping, tulang pipi tinggi, dan hidung berujung kecil miirp kancing.

Kata Dr. Charles Galanis, ahli bedah plastik bersertifikasi di Beverly Hills, daya tarik estetika ini sebagian besar karena pengaruh budaya K-pop. Ditambah internet, media sosial dan tren selebritas, tak mengherankan terjadi homogenisasi budaya soal apa yang dianggap indah.

Benar saja. Korea berhasil menggawangi operasi rahang gandayang diklaim sangat berbahaya pada 2013, dan terbaru adalah tren Mew, teknik ortodontik alternatif dengan menempelkan lidah ke langit-langit mulut untuk memperjelas garis rahang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR