Mengenal peran Dewan Pengawas Syariah dalam asuransi syariah?

Ilustrasi mengenal peran dewan pengawas syariah
Ilustrasi mengenal peran dewan pengawas syariah | /Shutterstock

Di Indonesia, penerapan sistem syariah pada produk keuangan mulai diminati sejak beberapa tahun belakangan. Bahkan, sistem syariah dapat dijadikan potensi bagi Indonesia untuk mewujudkan perekonomian yang lebih baik dengan menerapkan instrumen zakat, infak, dan sedekah.

Sistem ekonomi syariah memiliki potensi untuk menyejahterakan rakyat berkat penerapan konsep yang jujur, adil, dan bertanggung jawab. Selain itu, unsur yang harus dipenuhi dalam kegiatan ekonomi syariah ini adalah pelarangan Riba (bunga), Maysir (perjudian/ untung-untungan) dan Gharar (ketidakpastian).

Meski demikian, sistem syariah harus memiliki badan independen untuk mengawasi operasional dan praktik lembaga keuangan syariah agar tetap konsisten dan berpegang teguh kepada prinsip syariah. Badan tersebut dinamakan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

DPS direkomendasikan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN)—sebuah badan di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI)—untuk menjamin seluruh produk, jasa layanan, dan operasional Lembaga Keuangan Syariah (LKS) sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Salah satu LKS yang berada di bawah pengawasan DPS adalah Asuransi Syariah. Dalam kegiatannya, DPS akan mengawasi sistem manajemen, produk yang dipasarkan, dan pengelolaan dana serta kebijakan investasi lembaga tersebut.

Fungsi utama DPS dalam mengawasi kinerja asuransi syariah adalah memastikan konsep syariat Islam berjalan sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian dan Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN_MUI) . DPS dan asuransi syariah harus berjalan berdampingan agar prinsip syariah dapat dipastikan penerapannya, sehingga nasabah mendapat jaminan dan ketenangan.

Asuransi Syariah memiliki beberapa keunggulan, di antaranya dari segi tata cara pengelolaan, kemudahan dan keringanan pembayaran kontribusi serta manfaat yang didapat oleh Peserta. Misalnya manfaat Surplus Underwriting. Manfaat ini akan didapatkan oleh Peserta apabila jumlah Dana Tabarru (dana tolong-menolong) dari seluruh Peserta Asuransi Syariah lebih besar dibandingkan Klaim yang dibayarkan dalam 1 tahun/ 1 periode. Apabila kondisi ini terjadi, maka setiap Peserta yang berhak akan mendapatkan Surplus Underwriting.

Salah satu produk asuransi syariah yang memiliki manfaat lebih adalah AlliSya Protection Plus (APP). Produk ini memberikan kesempatan kepada nasabah untuk mendapatkan perlindungan yang beragam dan lengkap. Tak hanya itu, AlliSya Protection Plus memiliki tingkat keamanan dan stabilitas tinggi dalam kinerja investasinya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR