KESEHATAN PEREMPUAN

Mengenal proses kuret pasca-keguguran

Kuret kerap membuat takut perempuan
Kuret kerap membuat takut perempuan | Aziz Karimov /Shutterstock

Bagi perempuan pada umumnya, keguguran adalah hal menyedihkan. Belum lagi saat harus melalui proses kuret pasca keguguran.

Proses kuret biasanya dilakukan untuk membersihkan rahim dari sisa jaringan janin. Kuret juga lazim dilakukan untuk kejadian keguguran akibat janin tidak berkembang dan kehamilan anggur.

Kondisi rahim yang masih terdapat sisa-sisa dari proses kehamilan bisa memengaruhi perkembangan dari kehamilan berikutnya.

Dalam tindakan medis, kuret dikenal dengan nama Dilatasi dan Kuretase (D&C). Tindakan ini merupakan proses pembedahan untuk memotong atau mengangkat jaringan pada rahim dengan alat yang disebut kuret.

"Kuret itu usaha supaya bersih, tujuannya proses pembersihan," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Benny Johan Marpaung. Menurut dia, selama dilakukan sesuai prosedur dan pasien dalam kondisi baik, proses kuret aman dilakukan.

"Tidak ada istilahnya meninggal karena kuret. Tapi bisa jadi penyebabnya adalah pendarahan atau gangguan pembekuan darah, ada juga karena faktor tekanan darah tinggi," ucap dr. Benny.

Proses kuret memakan waktu sekitar 15 menit. Dokter akan memberi suntikan anestesi atau bius.

Jika Anda mendapat anestesi umum, maka benar-benar tidak sadar selama operasi. Tapi jika bius yang diberikan adalah anestesi spinal atau epidural (sebagian), Anda tetap sadar namun mulai bagian pinggang ke bawah menjadi kebal.

Pasien akan berbaring dan kaki akan dinaikkan pada pijakkan. Dokter akan memasukkan speculum ke dalam vagina dan menahan serviks dengan sebuah penjepit. Meskipun proses kuret tidak melibatkan jahitan atau penyayatan, dokter akan membersihkan serviks dengan larutan antiseptik.

Selepas kuret, dampak yang dirasakan wanita memang berbeda-beda. Ada yang tidak mengalami hal apa pun, namun ada juga yang mengalami gangguan hormon dan perubahan siklus haid.

Menurut dokter Fredrico Patria, SpOG., pada prinsipnya tubuh akan kembali memproduksi hormon esterogen dan progesterone dan kesuburan akan kembali sekitar dua minggu setelah kuret. Namun, hal ini tentu berbeda-beda pada setiap perempuan.

Pasca-tindakan

Setelah melakukan kuret, pasien akan tinggal beberapa jam di ruang rawat agar dokter dapat memantau jika terjadi pendarahan atau ada komplikasi lain setelah tindakan tersebut.

Jika pasien mendapati general anastesi, mungkin akan merasakan mual atau muntah. Bisa pula mengalami sakit tenggorokan. Efek samping kuret yang normal akan terasa beberapa hari kemudian, efeknya yaitu keram ringan dan mengeluarkan bercak darah atau flek.

Pemulihan

Pasca kuret, perempuan dianjurkan melakukan aktivitas seperti biasa namun dengan intensitas ringan. Aktivitas ini akan membantu tubuh memulihkan fungsi organ serta membersihkan sisa darah dan flek yang masih ada.

"Pasca kuret, terkadang masih ada sisa darah yang ada di dalam rahim. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena biasanya dalam dua minggu sisa darah akan keluar dengan sendirinya," jelas dokter Aryando Pradana, Sp.OG. dinukil detikHealth.

"Istirahat setidaknya tiga empat hari setelah itu boleh beraktivitas seperti biasanya. Kalau makan yang penting makanan bergizi seperti yang dianjurkan pada umumnya," tambah dokter yang praktik di rumah sakit Bunda, Jakarta.

Setelah kuret, perempuan juga disarankan untuk tidak segera hamil kembali, karena dikhawatirkan terkena sindrom asherman.

"Asherman terjadi ketika ada perlengketan pada bagian dalam rahim (endometrium). Jadi rongga itu kalau di kuret akan membuka luka yang memicu perlekatan. Misalnya terjadi pada saluran telur (tuba falopi) dia menutup sehingga akan sulit memiliki anak," kata dokter spesialis kandungan Irsal Yan, Sp.OG.

Setelah menjalani operasi kuret biasanya perempuan disarankan menjaga rahimnya minimal enam bulan untuk mencegah terulangnya hal tersebut. Hal ini termasuk tidak melakukan hubungan seksual setidaknya hingga kondisi rahim benar-benar pulih.

Kehamilan berisiko

Perempuan yang hamil di usia 40 tahun, memiliki risiko keguguran lebih tinggi. “Antara usia 35 sampai 44 tahun, risiko mengalami keguguran bisa naik hingga 40 persen. Adapun di atas 44 tahun, risiko tersebut dapat meroket hingga 50 persen,” terang dokter Vito A Damay Sp.JP.MKes.FIHA.FICA.

Juga bagi perempuan yang pernah melakukan aborsi, risiko terjadi keguguran akibat infeksi darah karena reaksi tubuh pada bakteri atau mikro organisme bisa saja terjadi.

Jika keguguran terjadi di bawah usia 10 minggu, 60-70 persen disebabkan kelainan genetik. Bisa jadi karena bibitnya yang kurang baik sehingga secara alami tubuh akan menghentikan kehamilan sebelum usia 10 minggu.

"Penyebab lainnya sekitar 20 persen bisa karena hormonal, kelainan rahim, ataupun penyakit penyerta ibunya, seperti diabetes atau tiroid. Sementara 10 persen sisanya, tidak diketahui penyebabnya,” jelas dokter Yuditiya Purwosunu, Sp.OG. dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Kurangnya hormon tiroid juga kerap menyebabkan keguguran berulang. Pada ibu yang hormon tiroidnya kurang, kehamilan atau janin tidak akan berkembang sampai usianya 20 minggu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR