Mengenal telur astaxanthin yang kuningnya susah pecah

Ilustrasi telur astaxanthin.
Ilustrasi telur astaxanthin. | Kamira /Shutterstock

Video telur palsu tengah diperbincangkan di media sosial. Di dalamnya tampak kuning telur yang sulit hancur, cangkangnya pun disebut mirip kertas. Sebagian meragukan kebenarannya, yang lain meresahkan bahaya peredaran terkait kandungan astaxanthin di dalamnya.

Menjawab palsu tidaknya, Prof Hardinsyah, ahli pangan dari Universitas Sahid Jakarta mengatakan pada detikHealth perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan.

Meski mengaku belum pernah menemukan telur palsu di pasaran, ia menyebut dukungan teknologi memungkinkan telur itu dibuat di laboratorium. Hanya saja harganya pasti mahal, dan berarti tidak menguntungkan.

Di luar itu, ternyata ada video-video serupa telur palsu yang bisa ditelusuri dengan kata kunci 'astaxanthin egg'. Bedanya dengan telur biasa, selain sulit hancur warna kuning telurnya cenderung lebih gelap. Banyak orang mencurigai kandungan senyawa astaxanthin lah penyebabnya.

Apa itu astaxanthin, dan apakah itu berbahaya bila dikonsumsi?

WebMD melansir, Astaxanthin (dibaca astazantin) merupakan pigmen atau pewarna alami kemerahan yang tergolong dalam senyawa karotenoid. Secara alami ditemukan pada ganggang laut tertentu, aneka makanan laut seperti ikan trout, lobster, dan udang, juga bulu flamingo dan burung puyuh.

Di luar itu, konsentrasi astaxanthin alami tertinggi ditemukan pada ikan salmon. Khususnya salmon pasifik liar jenis sockeye. Salmon liar ini mendapatkan astaxanthin secara alami dari ikan dan udang kecil yang mereka makan. Kadar astaxanthin itulah yang kemudian memengaruhi perbedaan warna salmon.

Hal ini pula yang terjadi pada telur. Menurut dr Hari Nugroho dari Institute of Mental Health Addiction And Neurosience (IMAN) dikutip detikHealth, kandungan astaxanthin membuat kuning telur menjadi kemerahan.

Bagaimana telur bisa mengandung astaxanthin bisa melalui dua cara, alami dan sintetis.

Secara sintetis, telur-telur ini disuntikkan astaxanthin yang dibuat dalam laboratorium. Bisa juga setelah dihasilkan ayam-ayam petelur yang diberi pakan astaxanthin sintetis.

Namun, astaxanthin sintetis harganya mahal dan kandungannya tentu tak sebaik yang alami. Sebab ada kemungkinan terkontaminasi sebagaimana terlihat pada penelitian salmon ternak.

Astaxanthin alami jauh berbeda dari sintetis. Umumnya diekstrak dari ganggang laut. Periset dari Universitas Diponegoro bahkan telah menemukan bahwa mikrobia berupa khamir (ragi) bernama Phaffia rhodozyma, dapat dimanfaatkan sebagai sumber astaxanthin alami dengan harga yang relatif lebih murah, lewat bantuan air kelapa.

Apapun asalnya, astaxanthin alami terbukti sebagai pewarna makanan berkhasiat pada pakan hewan seperti ayam dan ikan. Bahkan, bermanfaat juga bagi manusia.

Seperti diprediksi dr. Hari, kuning telur yang mengandung astaxanthin jadi sulit hancur karena efek antioksidan di dalamnya. Sebab adanya antioksidan itu, penggunaan astaxanthin pada manusia lebih sering untuk suplementasi.

Astaxanthin berjuluk raja karotenoid. Penelitian menunjukkan senyawa ini adalah salah satu antioksidan paling kuat di alam.

Kemampuannya melawan radikal bebas telah terbukti 6.000 kali lebih tinggi dari vitamin C, 550 kali lebih tinggi dari vitamin E dan 40 kali lebih tinggi dari beta-karoten.

Sejak lama penelitian soal khasiat astaxanthin pun telah dilakukan. WebMD dan Examine.com punya puluhan daftar referensi klinisnya.

Lebih rinci, Healthline.com merumuskan tujuh manfaat astaxanthin. Yakni bermanfaat bagi kecantikan kulit, mencegah penyakit jantung dan kolesterol, mengatasi sakit sendi, meningkatkan kesuburan lelaki, daya tahan tubuh, memberi efek antioksidan, dan sebagai pengobatan kanker masa depan.

Meski begitu penelitian lebih lanjut untuk semua itu masih diperlukan.

Yang pasti, meski uji klinis terhadap manusia masih terbatas, astaxanthin telah terbukti baik bagi kesehatan mata karena jauh lebih unggul dibanding beta-karoten (provitamin A), efektif mengatasi kelelahan, bisa memberi perlindungan kulit semacam tabir surya, dan mampu meringankan nyeri serta peradangan.

Bahkan, suplemen astaxanthin telah dikonsumsi oleh pengidap alzheimer, parkinson dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Karenanya, ilmuwan nutrisi dan olahraga Kathleen Alleaume mengaku heran mengapa astaxanthin belum banyak dikenal orang. Kepada Womenshealth.com, ia mengatakan astaxanthin merupakan salah satu suplemen berkhasiat tinggi yang justru diremehkan.

Padahal, penggunaan suplemen astaxanthin sudah banyak direkomendasikan pakar kesehatan. Tak ketinggalan dokter-dokter kesohor dunia maya seperti Dr. Mehmet Oz dan Dr. Joe Mercola.

Dengan begitu jelas sudah, tak ada masalah soal keamanannya bila dikonsumsi. Jumlah astaxanthin yang ditemukan di seluruh sumber makanan pada umumnya sangat aman, tanpa risiko.

Tak salah pula jika beberapa produk telur 'premium' dengan kandungan astaxanthin kerap diklaim lebih sehat.

Kendati demikian situs Dr. Axe menyebutkan, layaknya banyak hal, berlebihan mengonsumsi suplemen astaxanthin bisa menimbulkan sejumlah masalah. Di antaranya peningkatan pigmentasi kulit, perubahan tingkat hormon, pertumbuhan bulu berlebih, mengurangi kadar kalsium darah, penurunan tekanan darah, hingga mengubah dorongan seks.

Dalam bentuk suplemen, dosis yang terbukti aman adalah hingga 40 miligram setiap hari selama 12 minggu. Namun, para ahli hanya menganjurkan 4-8 miligram, satu sampai tiga kali per hari setelah makan.

Itu pun digunakan sesuai kebutuhan tubuh, dan sama sekali tidak dianjurkan untuk dikonsumsi ibu hamil atau menyusui. Sebab penelitian mengenai efeknya masih terbatas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR