Mengenal tipe-tipe pedofil

Ilustrasi
Ilustrasi | Photographee.eu /Shutterstock

Kasus guru bahasa Inggris cabul Tri Sutrisno atau A Ju (25) di SMP BPK Penabur Jakarta Utara belum lama ini mengangkat kembali isu pedofilia. A Ju dianggap pedofil karena mengirim konten pornografi pada keempat siswinya.

Kontak seksual yang terjadi antara orang dewasa dengan anak, tak semuanya sama. Ahli psikologi forensik, membaginya ke dalam kategori usia korban.

"Pedofilia jika korbannya adalah anak-anak usia pra-pubertas. Hebefilia, anak-anak usia pubertas. Efebofilia, anak-anak pasca-pubertas," kata Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) sekaligus ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel pada CNN Indonesia.

Kendati demikian, ia menjelaskan, semuanya memiliki konsekuensi hukum yang sama, yakni pidana bagi pelaku. "Namun untuk kepentingan rehabilitasi, implikasinya bisa berlainan."

Mengapa demikian? Bagaimana mencegah dan menanggulanginya? Mari mengenal perbedaan Paedofilia, Hebefilia dan Efebofilia, serta seluk beluk dan mencoba mencari solusinya.

Akar masalah: Orientasi seksual dan preferensi

Pada 2016, dalam sebuah artikel di jurnal Archives of Sexual Behavior, Michael C. Seto, pemimpin riset forensik di Royal Ottawa Health Care Group, berteori soal temuan barunya tentang orang yang memiliki ketertarikan khusus pada usia paruh baya yang disebut mesofil.

Sebelum mencapai teori tersebut, Seto meneliti bagaimana pedofilia bisa dianggap sebagai orientasi seksual untuk kelompok usia tertentu.

Sebagian besar penelitian normal Seto berfokus pada karakteristik psikologis pelanggar seks, risiko mereka untuk melakukan pelanggaran kembali, serta hubungan antara para parafilia dan pelanggaran seksual.

Di dalam artikelnya, Seto juga mengulas penelitian tentang nepiophilia (daya tarik pada bayi atau balita), pedofilia, hebefilia (anak-anak puber, 11-14 tahun), efebofilia (remaja pascapuber atau dewasa tanggung, 14-19 tahun), teleiofilia (dewasa matang, 20-an dan 30-an), mesofilia dan Gerontofilia (orang tua, 60-an ke atas).

Apa yang diungkap Seto cukup menjelaskan bahwa gender bukan satu-satunya kriteria untuk membangun orientasi seksual. Faktor usia bahkan lebih penting.

Secara luas, definisi orientasi seksual menurut Seto mencakup berorientasi--dalam hal perhatian, ketertarikan, daya pikat, dan gairah genital--terhadap rangsangan seksual tertentu. Ia menggunakan istilah chronophilia (kronofilia) untuk menggambarkan perilaku seksual tidak wajar terhadap korban dengan kategori usia tertentu.

Istilah kronofilia awalnya digunakan oleh John Money pada tahun 80-an. Gambaran dan ruang lingkupnya serupa yang ditulis Seto dalam artikelnya. Istilah ini belum banyak diadopsi oleh seksolog.

Lebih rinci, kronofilia merupakan bagian dari parafilia, yang mengacu pada perilaku seksual tidak wajar akibat dipicu hal tidak wajar pula. Contohnya eksibisionisme (kecenderungan senang menunjukkan alat kelamin di depan umum) atau sadomasokisme (kenikmatan seksual yang muncul dari perasaan menyebabkan atau menderita rasa sakit), dan banyak lagi.

Sementara kronofilia, sering dianggap tak wajar karena preferensi hasrat seksual beda umur. Turunannya yang paling terkenal adalah pedofilia, dengan pelakunya disebut pedofil, yang bisa dianggap demikian jika usianya minimal 16 tahun.

Pedofilia ini penyakit, yang artinya bisa ditanggulangi. Tidak semua pedofil melakukan pelecehan pada anak, dan tidak semua orang yang melakukan kekerasan seksual pada anak merupakan pedofil. Sama halnya dengan efebofilia dan hebefilia.

Oleh psikolog, keduanya tidak didaftarkan sebagai gangguan mental selama tidak mengganggu kehidupan seseorang, dan tentu, juga berlaku sebaliknya. Istilah hebefilia diperkenalkan oleh Glueck pada tahun 1955. Sementara efebofilia pertama kali digunakan sejak akhir abad 19 dan awal abad 20, yang kemudian diperbarui oleh psikolog Ray Blanchard.

Permasalahan dan solusi

Pada kasus guru cabul, kecenderungan kronofilia merupakan akar masalah. Tepatnya hebefilia sebab menimpa siswi SMP. Mengenai kiriman konten fotografi yang dikirimkan pelaku pada korban pun tujuannya jelas--mengacu pada parafilia, studi tentang pornografi mengungkap bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan membangkitkan gairah dan fantasi seksual.

Sementara bagi siswi perempuan sebagai korban, boleh jadi fitur psikologis kedewasaan (pada guru) seperti kecerdasan, kebaikan dan selera humor yang menyenangkan sama penting. Sebab, sebagaimana temuan lain Seto, kebanyakan orang termasuk dalam kategori teleiophilic, yang berarti mereka lebih menyukai orang dewasa yang telah matang secara seksual atau praparuh baya.

Bagaimanapun, walau anak-anak dianggap belum mampu mengambil keputusan baik untuk dirinya sendiri, pada usia pubertas minat seksual biasanya cenderung mulai muncul. Khususnya pada kasus efebofilia, di satu sisi anak adalah korban yang perlu dilindungi, di sisi lain usia mereka legal untuk menikah.

Oleh karena itu, bagi orang tua, menjelaskan rangsangan dan gairah seksual itu penting. Seperti kata Janet Rosenzweig, MS, PhD, MPA, direktur eksekutif di American Professional Society, "Anak yang tidak paham sifat dasar dari gairah, berisiko berpikir bahwa respons fisik tubuhnya memiliki makna emosional yang lebih besar ketimbang yang dirasa. Respons fisik yang umum ini, ditambah dengan pemujaan terhadap 'sosok dewasa', bisa membuat si anak rentan terhadap pesona para kronofil."

Sebagai solusi, orang tua perlu memastikan anak akan bercerita saat ada kejanggalan. Mengumpulkan keberanian dan kenyamanan untuk berkomunikasi hal sensitif adalah kunci.

Terlebih lagi, untuk menghadapi kasus pencabulan di mana pun, bukan hanya peran anak-orang tua serta pemerintah yang bertugas memastikan hukum ditegakkan dengan kesungguhan. Keterlibatan setiap warga masyarakat juga sama penting.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR