KESEHATAN

Mengenal virus TORCH yang menyerang ibu dan bayi

Ilustrasi TORCH.
Ilustrasi TORCH. | Jarun Ontakrai /Shutterstock

Seorang anak laki-laki bernama Bachtiar Ridho (13 tahun) di Ponorogo, Jawa Timur terinfeksi virus TORCH. Video yang diunggah akun Instagram InfoPonorogo memperlihatkan kondisi Bachtiar yang tengah kejang-kejang viral di media sosial.

Dalam kapsi foto, disebutkan bahwa Bachtiar telah terinveksi virus TORCH (hasil laboratorium Pramika tahun 2012) dan sudah mencoba pengobatan di klinik spesialis TORCH di Surabaya dan dokter spesialis syaraf di Ponorogo. Pengobatan terhenti karena masalah jarak dan biaya.

Tiga tahun berlalu, kondisi Bachtiar semakin parah. Ia bisa kejang-kejang 6 sampai 7 kali dalam sehari.

Setelah informasinya menyebar, bantuan pun berdatangan. Situs Kitabisa.com pun membuka penggalangan dana untuk membantu Bachtiar dengan target Rp13 juta.

Apa itu virus TORCH?

TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes Simplex Virus. Salah satu atau gabungan dari virus tersebut biasanya menyerang ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Mengutip situs PubMed.gov, infeksi TORCH bisa mengakibatkan kelainan bawaan (congenital anomalies). Oleh karena itu, perempuan dianjurkan untuk memeriksakan diri apakah mereka telah terinfeksi TORCH atau tidak sebelum memutuskan untuk hamil, pun selama mengandung.

Sebagian besar infeksi TORCH menyebabkan morbiditas sedang pada sang ibu, tetapi bisa berisiko serius terhadap janin yang dikandungnya. Pasalnya, pengobatan infeksi pada ibu tidak berpengaruh terhadap janin.

Oleh karena itu, jika sang ibu terinfeksi TORCH, janin yang dikandung mesti terus dimonitor untuk mengetahui perkembangannya. Sistem kekebalan tubuh bayi belum mampu melawan virus ini. Sehingga, jika tidak dirawat dengan baik, bakal menyebabkan organ bayi itu tak berkembang dengan sempurna.

Infeksi pada bayi, dituturkan WebMD, dapat menyebabkan demam, kesulitan makan, munculnya bintik kemerahan atau keunguan kecil, pembesaran hati dan limpa, perubahan warna kulit, sklera (bagian putih pada mata) dan selaput lendir menjadi kuning, disertai gangguan pendengaran, dan kelainan mata.

Berikut ini kami bahas secara singkat satu-persatu virus tersebut.

Toksoplasma

Toksoplasma adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii, salah satu parasit paling umum di dunia. Infeksi biasanya terjadi karena memakan daging tidak matang, paparan dari kotoran kucing yang terinfeksi, atau penularan dari ibu-ke-bayi selama kehamilan.

Toksoplasma dapat menyebabkan gejala seperti flu pada beberapa orang, tapi tidak semua orang terkena dampaknya dan tidak pernah mengembangkan tanda dan gejala.

Bagi ibu yang terinfeksi toksoplasma dan baru melahirkan, ini bisa menyebabkan komplikasi serius. Saat terinfeksi, orang akan mengalami tanda serupa flu seperti pegal, sakit kepala, demam, kelelahan, dan pembengkakan pada kelenjar getah bening.

Rubela

Rubela (campak Jerman) merupakan virus yang paling sering menular pada anak-anak dan remaja. Virus ini penyebab cacat lahir ini sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin.

Infeksi rubela pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian janin atau cacat bawaan yang dikenal sebagai sindrom rubela kongenital.

Penularan virus rubela melalui udara saat orang yang terinfeksi bersin atau batuk. Gejalanya pada anak meliputi ruam, demam rendah di bawah 39 derajat celcius, dan mual.

Pada orang dewasa biasanya menderita radang sendi dan nyeri sendi yang biasanya berlangsung 3 sampai 10 hari.

Saat perempuan terinfeksi virus rubela di awal kehamilan, maka ia memiliki kemungkinan 90 persen untuk menyebarkan virus ke janinnya.

Cytomegalovirus (CMV)

Cytomegalovirus (CMV) adalah virus yang bisa menginfeksi hampir semua orang. Setelah terinfeksi, tubuh Anda mempertahankan virus ini seumur hidup. Kebanyakan orang tidak tahu mereka memiliki CMV karena jarang menimbulkan masalah pada orang sehat.

Namun, saat Anda hamil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, CMV mulai menimbulkan masalah. Ibu hamil dapat mengembangkan infeksi CMV aktif dan menyebarkan virus ke bayinya.

CMV menyebar dari orang ke orang melalui cairan tubuh, seperti darah, air liur, air kencing, air mani, dan air susu ibu.

Tanda bayi dengan CMV antara lain lahir prematur, berat badan rendah, kulit dan mata kuning, hati yang membesar, kulit memiliki bercak atau ruam, kepala kecil, limpa membesar, dan kejang-kejang.

Sedangkan pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah, CMV akan berpengaruh pada mata, paru-paru, hati, perut, usus, dan otak.

Herpes Simplex Virus (HSV)

Herpes Simplex Virus adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Herpes dapat muncul di berbagai bagian tubuh, paling sering pada alat kelamin atau mulut.

Ada dua jenis virus herpes simpleks yaitu HSV-1 atau herpes oral yang menyebabkan luka dingin dan demam melepuh di sekitar mulut dan di wajah. Juga HSV-2 yang bertanggung jawab atas herpes herpes genital.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, sekitar 3,7 miliar manusia yang berusia di bawah 50 tahun, atau 67 persen populasi, terpapar virus ini, terutama HSV-1.

HSV bisa ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung, seperti makan dari peralatan yang sama, berbagi lipstik, ciuman, hubungan seksual tanpa pengaman, dan berganti-ganti pasangan.

Obat antivirus seperti acyclovir dan valacyclovir dapat menghambat perkembangan virus, mengurangi terjadinya lesi dan mengurangi kemungkinan terjadinya penularan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR