Mengenali tanda autisme pada anak

Ilustrasi
Ilustrasi | Chinnapong /Shutterstock

    Setiap tanggal 2 April, masyarakat dunia memperingati Hari Kesadaran Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day. Peringatan ini adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran autisme pada semua lapisan masyarakat.

    Autisme atau dikenal dengan sebutan autis merupakan gangguan perkembangan kompleks yang memengaruhi cara orang berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain. Orang dengan autisme sulit berinteraksi sosial serta kurang bisa berbahasa lisan. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

    Mengenali tanda autisme

    Penting untuk mengenali tanda-tanda autisme pada anak untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan segera. Ada beberapa ciri khas anak autisme yang patut diwaspadai sejak dini, misalnya bila anak tidak senyum lebar serta tidak menunjukkan ekspresi gembira sampai usia 6 bulan.

    Tanda lain ketika anak juga tidak mengoceh sampai usia 12 bulan, lalu tidak ada gerakan mundur dan maju seperti menunjuk, menggapai sesuatu, atau melambaikan tangan pada usia 12 bulan.

    Selain itu, pada usia 16 bulan sang anak belum bisa bicara satu kata pun dan saat 24 bulan pun tidak bisa mengeluarkan kata yang bermakna atau tidak berbicara sama sekali.

    Selain masalah bicara, anak juga biasanya melakukan perilaku berulang, misalnya mengepakkan tangan, bergoyang, melompat dan memutar, mengatur dan menata ulang objek.

    Anak autis juga cenderung terlibat dalam berbagai kegiatan terbatas. Salah satu contoh, ia akan fokus pada satu mainan dalam waktu lama, seperti melapisi mobil-mobilan dengan cara tertentu daripada benar-benar memainkannya.

    Meski pendengarannya normal, anak autis tidak menanggapi jika dipanggil, ia juga bereaksi berlebihan ketika diminta untuk melakukan sesuatu oleh orang lain.

    Anak autis hanya punya sedikit minat untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk anak-anak dari usia yang sama. Saat berinteraksi, anak akan jarang menggunakan gerakan atau ekspresi wajah serta menghindari kontak mata.

    Alih-alih merasa senang berada di pesta ulang tahun, anak autis akan lebih memilih bermain sendiri.

    Merawat dan melatih anak dengan autisme

    Bila anak mengalami tanda-tanda autisme, kunjungi dokter umum terlebih dahulu untuk mengetahui perkembangannya. Setelah itu, dokter umum akan merujuk Anda ke profesional kesehatan atau tim yang mengkhususkan diri dalam mendiagnosis autisme untuk melakukan penilaian mendalam.

    Diagnosis pada anak akan mencakup pemeriksaan untuk kondisi kesehatan fisik dan mental untuk melihat apakah ada kondisi lain seperti neurofibromatosis atau sindrom Down.

    Dokter mungkin akan memberikan obat untuk depresi, kecemasan, hiperaktif, dan perilaku obsesif-kompulsif. Namun, autisme tak dapat diobati.

    Bagi anak autis, ada berbagai intervensi spesialis yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi dan membantu pengembangan pendidikan dan sosial. Ini akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

    Beberapa aspek yang bisa dilatih pada anak autis antara lain keterampilan komunikasi, keterampilan interaksi sosial meliputi kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan menanggapi mereka, keterampilan bermain imajinatif, serta keterampilan akademik seperti belajar membaca, menulis, dan matematika.

    Pelatihan pada anak autis akan melibatkan dokter anak, spesialis kesehatan mental seperti seorang psikolog dan psikiater, serta terapis bicara dan bahasa.

    Orang tua dengan anak autis

    Memiliki anak dengan autisme tentu bukan perkara mudah. Bagi orang tua, ada beberapa tip yang bisa diterapkan, seperti menjaga agar rumah tidak terlalu bising, dan menggunakan bahasa sederhana.

    Saat memanggil anak, gunakan namanya agar ia tahu jika Anda bicara dengannya, berbicaralah perlahan dan jelas, serta berikan waktu tambahan bagi anak untuk memproses apa yang Anda katakan.

    Tetaplah fokus pada hal yang positif. Anak autis merespons dengan baik bila perilakunya dipuji. Ini akan membuat anak merasa baik. Berikan anak hadiah jika telah berperilaku baik, misalnya memberikan stiker atau waktu main tambahan.

    Anak autis menyukai rutinitas sehingga orang tua bisa membuatkan jadwal yang konsisten. Ini akan membuat belajar keterampilan dan perilaku baru lebih mudah.

    Agar anak terbiasa dengan dunia di sekitarnya, bawalah anak keluar rumah untuk belanja bahan makanan, ke pusat perbelanjaan, makan di restoran, atau saat Anda menabung di bank.

    BACA JUGA
    Tanya Loper Tanya LOPER
    Artikel terkait: SPONSOR