HUBUNGAN ASMARA

Menimbang baik buruk berteman dengan mantan

Ilustrasi laki-laki dan perempuan yang berpegangan tangan.
Ilustrasi laki-laki dan perempuan yang berpegangan tangan. | Pushish Images /Shutterstock

Mencoba menjalin hubungan baik berteman dengan mantan boleh jadi bukan tanda kedewasaan. Sebaliknya, perilaku seperti ini mungkin mengungkap sesuatu yang tersirat dan menjurus pada ancaman.

Untuk itu, jika pasangan Anda, atau mantan Anda, bahkan Anda sendiri, tampak terlampau ramah hingga menunjukkan pertemanan kelewat batas yang menyebabkan ketidaknyamanan, disarankan mempertimbangkan pilihan untuk sama sekali tidak berteman dengan mantan.

Saran tersebut diungkap para ahli berdasarkan simpulan penelitian oleh periset Justin Mogilski dan Lisa Welling dari Oakland University, Amerika Serikat. Studi mereka yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences telah membuktikan bahwa berteman dengan mantan bisa menandakan kecenderungan psikopat.

Bahkan lebih rinci--pada pembaruan studinya--seberapa jauh seseorang berhubungan dengan mantan ternyata bisa menjadi tes baru untuk psikopati. Demikian melansir Independent.co.uk (21/12/17).

Sejak 2016, kedua periset tersebut telah meneliti motivasi seseorang berteman dengan mantan berdasar ciri kepribadiannya. Secara khusus, mereka menyoroti yang disebut dark triad atau kepribadian kelam. Dalam psikologi, ini merupakan ciri kepribadian serupa psikopat (gangguan kepribadian antisosial).

Untuk penelitian, periset hanya membatasi dua ciri kepribadian kelam. Yakni narsisisme dan psikopati.

Narsisisme ditandai oleh kemewahan, kebanggaan, egoisme, dan kurangnya empati. Sementara psikopati merujuk pada perilaku antisosial tahan lama, impulsif, egois, sadisme, tidak berperasaan, dan tak mengenal rasa takut.

Secara umum, seluruh kepribadian kelam menunjukkan karakteristik utama egoisme. Bedanya dengan seorang psikopat, ia menunjukkan kekurangan empati menyeluruh, yang menandakan tindakannya murni motivasi diri sendiri.

Guna menganalisis riwayat hubungan dan ciri kepribadian, periset melibatkan 861 responden. Mereka ditanyai status hubungannya saat ini, apakah berteman dengan mantan, dan atas alasan apa. Kemudian mereka diberi kuesioner untuk menentukan kualitas narsistik dan psikopati.

Hasil penelitian mengungkap, orang dengan kecenderungan psikopat akan berhubungan dengan mantan karena alasan terselubung. Yakni yang memungkinkan mereka tetap mendapat kesempatan untuk menuai keuntungan seperti akses informasi, uang, hingga seks.

Pada dasarnya, penggunaan istilah "kepribadian kelam" memang menyiratkan tabiat tidak baik menjurus jahat. Namun, riset juga menyebutkan bahwa orang-orang dengan ciri tersebut memiliki daya tarik tinggi yang membuatnya lebih disukai dan mampu memikat lawan jenis.

Dengan kata lain, akan sangat sulit "melepas" mereka karena pesona palsunya. Itu sebabnya, muncul saran berupa imbauan sekaligus peringatan untuk mempertimbangkan berteman dengan mantan dari periset dan para ahli.

Kepada Business Insider psikolog dan ahli kepribadian kelam Perpetua Neo mengibaratkan perlakuan psikopat yang "mencaplok" mantan, layaknya buaya yang menyimpan mangsa di bawah batu. Kapan pun mereka mau, mereka tinggal santap.

"Psikopat dan narsisis memanfaatkan orang seperti itu, jadi jika Anda terus terhubung dengan mereka, saat itulah memperburuk ikatan trauma, dan Anda merasa sangat sulit melepaskan diri."

Ia juga menyebutkan, mantan-mantan yang jadi korban para psikopat ini, dibohongi sedemikian mungkin sehingga menganggap keadaan dan perilaku yang tidak wajar jadi kelihatan normal, karena dibuat berpikir memang seperti itulah sebuah hubungan.

Perihal senada juga disampaikan seorang psikolog dan penulis "Dating from the Inside Out", Dr Paulette Sherman, dalam Independent.co.uk. Menurutnya, keuntungan praktis yang dilanggengkan psikopat dengan menjalin hubungan baru berkedok pertemanan setelah jadi mantan, sepenuhnya merupakan motif egois yang tidak memikirkan dampak emosional orang lain.

Bahkan, jauh sebelum penelitian soal psikopat ini muncul, psikolog Juliana Breines dalam pcychology Today telah memaparkan 10 alasan mengapa Anda tak perlu berteman dengan mantan berdasarkan riset dan perspektif psikologis.

Misalnya, bagi Anda yang sudah memiliki pendamping anyar, mungkin akan terjangkit sindrom "rumput tetangga kelihatan lebih hijau", alias terus membanding-bandingkan kekurangan dan kelebihan pasangan dengan mantan.

Belum lagi, jika ada salah satu yang ternyata masih memendam cinta, sedangkan yang lain tidak, ini bisa jadi sindrom patah hati berujung harapan sia-sia, kekecewaan, kesepian dan menarik diri dari lingkungan sosial sampai menimbulkan penyakit.

Di luar itu, seluruh keputusan terbaik kembali pada Anda. Dr. Sherman juga berpesan agar kita tak keburu menganggap seluruh mantan yang mengajak berteman adalah psikopat.

Walau tidak mudah, katanya, ia masih menemukan kliennya yang bisa berhubungan sehat dan tahu batasan, bahkan tidak tertarik satu sama lain dan saling menghargai kehidupan baru masing-masing.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR