KESEHATAN PEREMPUAN

Menimbang saran tes mammogram di usia 30

Ilustrasi seorang perempuan yang tengah menjalani tes mammogram.
Ilustrasi seorang perempuan yang tengah menjalani tes mammogram. | Tyler Olson /Shutterstock

Studi baru menyarankan perempuan dengan peningkatan risiko kanker payudara, wajib memulai tes mammogram lebih awal dari yang sudah direkomendasikan, yaitu di usia 30 tahun.

Namun, para ahli berpendapat mamografi mungkin tidak efektif untuk perempuan di kelompok usia ini. Apa yang perlu dilakukan?

Studi baru, yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA) di Chicago, menemukan bahwa mamografi tahunan yang dimulai sedini 30 tahun bisa memberi manfaat sama banyak seperti yang dilakukan perempuan usia 40-an.

Khususnya bagi perempuan muda yang setidaknya memiliki salah satu dari tiga faktor risiko seperti payudara padat, pernah didiagnosis kanker payudara sebelumnya, atau memiliki sejarah keluarga kanker payudara.

Untuk studi, peneliti menganalisis data lebih dari 5,7 juta skrining mammogram yang dilakukan pada lebih dari 2,6 juta perempuan antara tahun 2008-2015 di 150 fasilistas kesehatan Amerika Serikat.

"Perempuan dengan setidaknya satu dari tiga faktor risiko itu kemungkinan mendapat manfaat dari skrining mammogram dimulai pada usia 30, bukan 40," kata Dr. Cindy Lee, pemimpin studi baru yang juga asisten profesor radiologi di NYU Langone Health di New York City, dinukil WebMD.

Secara global, situs Imaging Technology News menyebutkan insiden kanker payudara telah mengalami peningkatan signifikan dengan perkiraan ada 1 dari 8 perempuan yang terdiagnosis, dan 40.000 perempuan diperkirakan meninggal akibat kanker payudara pada tahun 2018 saja.

Berdasarkan peningkatan itu--dan yang telah terjadi sebelumnya--para ahli sepakat bahwa mendeteksi kanker lebih awal sangat penting.

Masalahnya, mammogram yang dianggap sebagai salah satu standar emas untuk skrining dan pendeteksian kanker payudara, masih memicu perdebatan di kalangan ilmuwan terutama soal kapan perempuan harus mulai melakukannya dan seberapa sering.

Tahun lalu U.S Preventive Services Task Force (USPSTF) merekomendasikan agar perempuan mulai usia 50-74 tahun melakukan mammogram setiap dua tahun sekali. Sementara itu, American Cancer Society (ACS), American College of Radiology (ACR), National Comprehensive Cancer Network, Society of Breast Imaging, dan banyak lagi, seluruhnya setuju bahwa mammogram tahunan baiknya dimulai pada usia 40 tahun.

Namun, tidak ada yang benar-benar meneliti manfaat dari memulai skrining kanker payudara pada perempuan berusia 30-an.

“Tidak ada cukup data yang dipublikasikan tentang topik ini, tetapi sebagian besar organisasi mengakui bahwa perempuan yang berisiko kanker payudara memerlukan skrining dini atau tambahan,” ujar Lee kepada Healthline.

Ia sendiri mengaku kesulitan saat meneliti data perempuan berusia 30-39 tahun karena sangat jarang yang mengikuti tes mammogram. Padahal, kata Dr. Lauren Nye, seorang ahli onkologi di Pusat Kanker dari University of Kansas, statistik terbaru ACS menunjukkan bahwa 4 persen dari sekitar 250.000 perempuan yang didiagnosisis kanker payudara setiap tahun berusia kurang dari 40.

Shape menulis, sejauh ini memang tidak ada negara atau organisasi yang memiliki pedoman merekomendasikan perempuan di bawah 40 tahun melakukan mammogram kecuali jika faktor risiko begitu tinggi. Ada setidaknya tiga alasan.

Pertama, payudara perempuan muda begitu padat sehingga mammogram sering gagal mendeteksi kanker.

Kedua, kanker payudara relatif jarang terjadi pada perempuan muda. Di usia 30, peluang Anda untuk didiagnosis (dengan asumsi Anda tidak memiliki faktor risiko khusus) adalah satu dari 2.000; pada 35, menjadi satu dari 600; dan di usia 40, perbandingannya 1:225. Sementara di usia lebih tua semisal 80 tahun, menjadi 1:9.

Ketiga, bahaya paparan radiasi. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa payudara perempuan muda lebih sensitif terhadap radiasi daripada perempuan yang lebih tua.

Apalagi pada perempuan dengan mutasi genetik terkait kanker payudara--BRCA1 dan BRCA2. Pemilik gen ini selain didorong mendapatkan mammogram lebih dini dan lebih sering daripada masyarakat umum, juga sangat rentan terhadap radiasi.

Jadi bisa saja mammogram justru meningkatkan risiko kanker payudara, walaupun jumlah radiasi relatif kecil.

Berdasarkan hal itu, pada Oktober 2018, studi Denmark yang menganalisis statistik dari beberapa studi mamografi besar pada tahun 1963, menyimpulkan sesuatu yang kontroversial bahwa mammogram tidak menyelamatkan nyawa.

Kendati demikian, pernyataan kontoversial tersebut buru-buru dibantah Institut Kanker Nasional AS (NCI) setelah mengevaluasi studi yang sama. Simpulan terakhir, yang kemudian disetujui organisasi kanker lainnya, adalah mammogram tetap menyelamatkan nyawa.

Agar kanker payudara bisa dihindari, Lee menyarankan, "Setiap perempuan di usia 30 tahun harus memiliki penilaian risiko dari dokter perawatan primer atau ob-gyn untuk melihat apakah mereka mengalami peningkatan risiko kanker payudara."

Selain mencari tahu riwayat kanker keluarga, pemeriksaan payudara secara mandiri, atau SADARI sejak berusia 20 tahun juga penting.

Sependapat, Dr. Ellen Bahtiarian, ahli radiologi dan pengobatan nuklir dari Beebe Healthcare di Delaware, AS, menambahkan bahwa mayoritas ahli setuju jika Anda di bawah 40 tahun tanpa faktor risiko yang signifikan, maka Anda belum memerlukan mammogram.

Sebaliknya, jika setelah konsultasi dokter Anda dinyatakan berisiko, maka mammogram atau tes skrining lainnnya seperti MRI dan USG payudara cocok untuk perempuan tanpa masalah payudara.

BACA JUGA