Menuju masyarakat sadar stunting

SPONSOR: KOMINFO
Infografik: Menuju masyarakat sadar stunting.
Infografik: Menuju masyarakat sadar stunting. | Oky Harmoko /Beritagar.id

Informasi dan edukasi tentang stunting yang masih belum memadai menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat yang menganggap stunting sekadar kondisi anak bertubuh pendek.

Lebih dari sekadar kondisi tubuh yang tidak tumbuh optimal, stunting merupakan buah dari masalah gizi buruk kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama. Hal tersebut menyebabkan balita tumbuh tidak sempurna.

Pertumbuhan tidak optimal bukan hanya pada taraf ukuran tubuh, tapi juga organ tubuh lainnya, seperti perkembangan otak yang dapat menyebabkan hambatan inteligensi pada kemudian hari. Gejala stunting terjadi sejak bayi berada dalam kandungan dan dampaknya terlihat saat anak berusia dua tahun.

Kemudian, yang menjadi ironi adalah tidak sedikit masyarakat yang menganggap stunting sekadar kondisi tinggi badan anak di bawah rata-rata normal. Padahal, kenyataannya, anak yang memiliki tinggi badan di bawah rata-rata belum tentu mengalami stunting. Boleh jadi ada pengaruh faktor genetik.

Sebagai orang Asia, masih banyak juga orang tua yang menganggap kurangnya tinggi badan pada anak adalah hal wajar. Kesalahpahaman tersebut diperburuk oleh kurangnya informasi tentang stunting dan orang tua yang belum #SadarStunting.

Minimnya pengetahuan masyarakat tentang gejala, dampak, dan cara pencegahan stunting membuat kondisi balita di Indonesia semakin buruk. Menurut data yang dipublikasikan oleh Riskesdas Kemenkes RI, pada 2013 sebanyak 8.4 juta atau 37.2 persen balita di Indonesia mengalami stunting.

Infodatin dalam laporan "Situasi Balita Pendek" juga menegaskan, jika tak ada upaya penurunan, maka tren balita pendek diproyeksikan akan menjadi 127 juta pada tahun 2025. Sebanyak 56% anak pendek hidup di Asia dan 36% di Afrika.

Oleh karena itu, untuk menekan angka kurang gizi dan stunting, pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil tak boleh disepelekan. Asupan gizi seimbang selama 1.000 hari pertama kehidupan anak menjadi kunci penting untuk menghindari generasi dengan gejala stunting.

Tak hanya dengan pemberian gizi seimbang, #SadarStunting juga perlu diiringi dengan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Caranya bisa dimulai dengan menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi rumah, serta membiasakan anak untuk berolahraga.

Balita yang mendapatkan asupan gizi seimbang sejak dalam kandungan akan mengalami tumbuh kembang lebih optimal dibandingkan dengan anak yang kekurangan nutrisi. Hal ini menjadi penting untuk disoroti karena stunting juga akan memberikan pengaruh pada kehidupan anak pada masa depan.

Anak yang mengalami stunting ketika dewasa justru berpeluang terjangkit penyakit kronis, seperti diabetes, kanker, stroke, dan hipertensi, serta kemungkinan mengalami penurunan produktivitas kerja pada usia produktifnya.

Jangan gadaikan masa depan buah hati Anda. Tersebab hal itu, diperlukan upaya aktif dari berbagai pihak terkait untuk menciptakan masyarakat #SadarStunting yang dimulai dari skala terkecil, keluarga.

Artikel ini didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

SPONSOR: KOMINFO
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR