WASPADA TERORISME

Menyelisik fenomena terorisme keluarga

Ilustrasi teroris
Ilustrasi teroris | BeeBright /Shutterstock

Insiden bom bunuh diri sebanyak lima kali yang mengguncang Surabaya dan sekitarnya sejak Minggu (13/5/2018) hingga Senin (14/5). Peristiwa ini menguak fenomena baru pola terorisme di Indonesia, yakni melibatkan keluarga termasuk perempuan dan anak-anak.

Mengapa begitu dan demi tujuan apa?

Terorisme dalam keluarga bukanlah hal baru di dunia. Pasalnya, keluarga punya peran penting demi kelancaran aksi dan juga keselamatan masing-masing anggotanya.

Pada Oktober 2014, Mohammed Hamzah Khan, mahasiswa teknik yang besar di Amerika Serikat ditangkap di bandara tepat sebelum naik pesawat untuk bergabung dengan pejuang ISIS di Suriah.

Kisahnya yang viral kemudian menjadi pembuka dalam buku "United States of Jihad" karya analis terorisme Peter Bergen.

Hal menarik soal Khan adalah kesehariannya yang menunjukkan kecenderungan nonradikal seperti berprestasi, berasimilasi, dan bereputasi baik.

Namun di balik itu, ternyata ia juga merekrut kedua adik laki-lakinya untuk ikut menjadi teroris tanpa tercium sedikit pun oleh kedua orang tua mereka.

Khan telah mematahkan asumsi umum yang secara konsisten ditemukan sejumlah peneliti bahwa kebanyakan teroris menderita penyakit mental atau pun pernah melakukan tindakan kriminal.

Sebelum dan setelah kasus Khan, masih banyak lagi rentetan kisah terorisme dalam keluarga yang bahkan lebih miris, entah itu kakak beradik, suami istri, ibu dan anak, juga keluarga lengkap.

Keluarga dijadikan rekrutan ideal oleh kelompok teroris karena menguntungkan. Motifnya jelas, keintiman yang dibangun oleh keluarga jauh lebih mendalam dari sekadar kedekatan teman seperjuangan dalam kelompok.

Para analis terorisme telah lama mengetahui bahwa dinamika kelompok kecil semisal hubungan persahabatan dan kekerabatan dan kedekatan keluarga bisa berbuah radikalisasi.

Sebab, radikalisasi lebih tentang siapa yang Anda kenal ketimbang apa yang Anda ketahui.

Rik Coolsaet, ahli terorisme asal Belgia menjelaskan, pada dasarnya terorisme adalah kegiatan sosial. Mekanismenya mirip aktivitas sosial lainnya meski menyimpan konsekuensi tragis dan merugikan banyak orang.

Alhasil, orang-orang dengan perilaku atau pemahaman menyimpang bisa saja terpengaruh pada suatu ide ekstrem karena orang terdekat menunjukkan ketertarikan dan menyuarakan ide tersebut.

Satu studi menemukan bahwa keluarga bisa saling meradikalisasi sambil memperkuat rasa tujuan dan panggilan ideologis. Dengan kata lain, orientasi sama dalam keluarga mampu mempercepat terjadinya tindakan ekstrem.

Pergerakan keluarga teroris juga bisa lebih terselubung karena mirip kegiatan keluarga pada umumnya. Tempat tinggal yang sama memungkinkan mereka lancar berkomunikasi--tanpa ponsel yang rentan pengawasan.

Jadi, tak heran antarkeluarga berpeluang terpapar pesan-pesan radikal serupa.

"Ekstremisme kekerasan menyebar melalui kontak sosial dan berlaku bagi kebanyakan orang. Anda mungkin merasa dapat berbicara dengan saudara tentang hal-hal yang tidak bisa didiskusikan dengan orang lain," ujar JM Berger, analis terorisme dan rekan penulis buku ISIS: The State of Terror.

Audrey Kurth Cronin, penulis dan cendikiawan di George Mason University, mengatakan, ikatan sedarah menjamin kesetiaan, kepercayaan, dan keamanan, bukan hanya antarkeluarga, tapi juga bagi kelompok.

"Kelompok-kelompok ini selalu khawatir soal infiltrasi," imbuh Mia Bloom, seorang profesor komunikasi di Georgia University, sembari mengutip penelitiannya yang menunjukkan ada banyak jihadis yang menikahi perempuan-perempuan dari keluarga pejihad lain untuk membangun aliansi.

Bloom mengatakan, penelitiannya juga mengungkap bahwa keluarga lebih sering dikirim ke lokasi berbeda ketika beroperasi. Alasannya, kata dia, adalah ketakutan kelompok akan adanya kegagalan misi.

Satu orang dalam keluarga mungkin saja meyakinkan yang lain untuk membelot di menit terakhir karena kecintaannya pada keluarga. Skenario terburuk, jika satu anggota keluarga memberi tahu rencana suatu kelompok pada pihak berwenang.

Jadi, jelas Bloom, ketika mereka terpencar, keinginan menyelesaikan misi jauh lebih kuat, dengan harapan mati dan bertemu lagi dengan keluarganya--sebagaimana doktrin yang mereka yakini.

Keluarga juga dilibatkan untuk memperkecil kemungkinan bocornya rencana teror. Kendati demikian, studi 2014 dalam The Journal of Forensic Sciences menemukan bahwa sebetulnya hanya dua per tiga kasus di mana keluarga dan teman mengetahui bahwa pelaku akan melakukan tindakan kekerasan.

Teroris Amerika yang dikenal sebagai 'Unabomber' alias Ted Kaczynski akhirnya tertangkap karena laporan kecurigaan saudaranya pada pihak berwenang.

Tak hanya itu, terorisme keluarga berkembang karena di dalamnya juga melibatkan perempuan dan anak-anak.

Peneliti dari Combating Terrorism Center di West Point dan Yale University, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa perempuan dan anak-anak dengan sengaja dimanfaatkan di garis depan penyerangan karena lebih murah, efektif dan efisien.

Mereka berpotensi tak tersentuh, lebih sulit dilacak, kurang dicurigai, dan lebih rentan direkrut melalui kekerasan, cuci otak atau janji palsu.

Menurut Irfan Idris, Direktur Deradikalisasi BNPT, pengaruh radikalisasi terbesar dalam keluarga terletak pada sosok perempuan yang berperan sebagai istri dan ibu.

Napi terorisme Sofyan Tsauri menambahkan, perempuan bisa menyampaikan pesan khusus berupa provokasi bagi para teroris lain khususnya kaum adam agar lebih giat melakukan serangan dan perlawanan.

Selain itu, mereka juga memanfaatkan ketidakberdayaan dan kepolosan anak-anak akan memudahkan indoktrinasi radikalisme yang jika dilakukan oleh orang tua, maka tentu lebih sulit diantisipasi.

BACA JUGA