KESEHATAN

Menyoal minum obat kedaluwarsa

Ilustrasi minum obat.
Ilustrasi minum obat. | Maroke /Shutterstock

Berbeda dengan makanan kedaluwarsa, efek minum obat kedaluwarsa berbeda. Mungkin tidak berbahaya, tapi bukan berarti aman dikonsumsi.

Menurut PP 72/1998 dan Permenkes 35/2014, tenaga farmasi wajib mencantumkan tanggal kedaluwarsa pada obat atau wadah atau bahan obat, pun memusnahkan obat yang sudah kedaluwarsa sesuai standar pelayanan kefarmasian.

Menurut Robert H. Shmerling, MD, associate professor of medicine di Harvard Medical School, pada dasarnya tujuan dari aturan pemerintah semacam itu bukan bermaksud menyebut obat kedaluwarsa sepenuhnya berbahaya, melainkan menyangkut kepraktisan pemantauan obat dan kepentingan konsumen secara luas.

“Terutama mengingat orang dapat menyimpan obat di begitu banyak lingkungan berbeda misalnya, panas, dingin, lembab, kering, dan sebagainya,” katanya.

Sejauh ini, jelas Scmerling, obat yang diketahui memiliki umur simpan pendek dan berkurang efektivitasnya seiring waktu, atau singkatnya kurang berguna jika dikonsumsi setelah kedaluwarsa adalah insulin, nitrogliserin dan antibiotik cair.

Dengan kata lain, sambung Lee Cantrell, jika Anda tak sengaja ataupun sengaja minum obat kedaluwarsa daripada tak minum obat, setidaknya itu tidak berbahaya. Beda halnya dengan makanan kedaluwarsa.

"Terakhir kali saya memeriksanya, saya belum melihat dokumentasi obat kedaluwarsa yang ditinjau oleh rekan sejawat menyebabkan masalah pada orang," ujar peneliti sekaligus direktur Divisi San Diego dari California Poison Control System itu kepada Live Science.

“Sebagian besar obat masih baik hampir tiga tahun setelah tanggal kedaluwarsa,” tambah Shmerling.

Bahkan, “Mungkin jauh lebih lama dari tanggal kedaluwarsa,” timpal Dr. Emma Browne dari British Medical Antartic Survey Medical Unit di Plymouth, Inggris.

Pernyataan mereka berbasis bukti. Menukil Reuters, Dr Browne telah menghelat studi terbaru soal keamanan dan efektivitas obat kedaluwarsa. Studinya diterbitkan dalam jurnal Wilderness & Environmental Medicine pada Februari 2019.

Ia menguji 5 jenis obat berjumlah ratusan yang dikembalikan karena telah kedaluwarsa sekitar 1-4 tahun, dari fasilitas medis di dua kapal untuk survei Antartika Inggris.

Hasilnya, setelah dibandingkan dengan jenis obat sama dalam kondisi anyar, seluruh obat kedaluwarsa itu tetap aman dan efektif alias stabil secara kimiawi dan mempertahankan bahan aktifnya.

Lima obat yang diuji antara lain atropine (obat keracunan pestisida atau agen syaraf jenis tertentu); nifedipine (obat relaksasi jantung dan pembuluh darah untuk hipertensi dan nyeri dada); flucloxacillin (antibiotik keluarga penisilin); bendroflumethiazide (obat diuretik untuk hipertensi); dan naproxen (penghilang rasa sakit antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

Meski studi Browne terbatas pada ketidaktahuannya soal bagaimana suhu dan cara penyimpanan obat kedaluwarsa sebelum diteliti, setidaknya bertambah lagi bukti baru obat apa yang masih layak minum setelah kedaluwarsa.

Berdasarkan studi Catrell tahun 2012, simpanan obat lama yang dikemas dan disimpan dengan apik macam antihistamin, penghilang rasa sakit dan pil diet masih tetap efektif setelah 40 tahun melebihi batas kedaluwarsa. Sampel obat ini ia temukan tak sengaja di penyimpanan apotek tua terbengkalai.

Pada 2017, Catrell kembali membuktikan bahwa EpiPens (auto injector mahal yang digunakan untuk mengobati reaksi alergi mengancam jiwa), masih mempertahankan efektivitasnya sekitar 84 persen setelah 4 tahun lebih kedaluwarsa.

Studinya menunjukkan bahwa menggunakan obat kedaluwarsa dalam keadaan darurat masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Cantrell dan Shmerling menuturkan, masalah inti dari efektif tidaknya obat kedaluwarsa sebetulnya terletak pada kurangnya penelitian akibat terkendala dana. Peneliti butuh pengujian dan pemantauan secara berkala yang harganya sangat mahal.

Beda halnya dengan pemerintah federal AS yang saat ini menyimpan stok obat-obatan untuk kasus darurat seperti serangan teroris atau wabah penyakit.

Mereka punya dana berlimpah guna mempelajari umur simpan obat, dengan mengembangkan Shelf-Life Extension Program (SLEP) pada tahun 1986 yang dipantau langsung oleh Administrasi Makanan dan Obat AS (FDA).

Nilai yang dikeluarkan tentu sepadan ketimbang harus memboros untuk mengganti obat kedaluwarsa yang dilaporkan situs NPR mencapai sekitar $2,1 miliar.

Pada akhirnya, Shmerling dan Browne menyarankan agar tak mengonsumsi obat warung jika kedaluwarsa dan menanyakan dulu pada dokter untuk obat resep. Kecuali, keadaannya darurat dan obat memang disimpan di tempat ideal.

Pasalnya, "Obat-obatan tertentu yang kedaluwarsa berisiko mengalami pertumbuhan bakteri dan antibiotik sub-poten yang gagal mengobati infeksi, sehingga mengarah pada penyakit lebih serius dan resistansi antibiotik," tulis FDA di situs resminya.

BPOM pun pada tahun 2012 telah memperingatkan risiko serupa yang intinya, “Obat tidak bekerja optimal atau mungkin menjadi toksik.”

Lebih dari itu, BPOM menyarankan agar Anda menyerahkan obat kedaluwarsa ke puskesmas, bukan apotek—untuk dimusnahkan, alih-alih membuang begitu saja ke tempat sampah.

Tujuan utamanya agar obat tidak disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab. Sekaligus mencegah “limbah yang tidak perlu, biaya farmasi lebih tinggi, dan mungkin mengurangi akses ke obat yang diperlukan untuk beberapa pasien," catat Asosisasi Medis Amerika (AMA).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR