Menyoal minum urine unta

Ilustrasi peternakan unta di Mekkah.
Ilustrasi peternakan unta di Mekkah. | Abd. Halim Hadi /Shutterstock

Video yang memperlihatkan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Bachtiar Nasir meminum susu dicampur urine unta mendadak viral. Usai dibagikan dalam akun Instagram @Bachtiarnasir dan sempat menjadi topik tren di Twitter.

Dalam unggahannya, Bachtiar mengutip beberapa hadis mengenai khasiat air seni dan susu unta bagi kesehatan. Ia juga merujuk penelitian Dr. Faten Abdel-Rahman Khorshid dari Universitas King Abdulaziz di Jeddah yang menyatakan susu dan urine unta bisa menyembuhkan penyakit kanker dan baik bagi pencernaan.

Pernyataannya mengundang reaksi sejumlah kalangan. Ada yang memperdebatkan baik buruk manfaat sehat tersebut. Ada pula yang mempertanyakan permasalahan najis tidaknya urine unta.

Menurut komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagian besar kalangan ulama tidak memperbolehkan minum urine unta karena kotoran yang berasal dari tubuh dianggap najis.

Meski begitu, kata Wasekjen Bidang Fatwa MUI KH Sholahudin Al Ayub, bagi yang menganggapnya bermanfaat, itu kembali lagi kepada tafsiran atau pendapat (ijtihad) dan keyakinan masing-masing.

Hal sama juga berlaku bagi mereka yang percaya manfaat sehat urine unta.

Meski tak lazim di Indonesia, masyarakat Timur Tengah dan beberapa negara muslim telah berabad-abad meyakini manfaat produk unta sebagai obat mujarab.

Kebiasaan tersebut berawal dari hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim dan Bukhari, bahwa Nabi Muhammad pernah menganjurkan beberapa orang dari suku baduy Arab, Ukl dan Uraynah yang mengalami sakit ringan akibat beradaptasi dengan cuaca Madinah--demam, tubuh lemah dan perut bermasalah--untuk meminum susu dan urine unta agar lekas sehat.

Dalam buku Healing with the Medicine of the Prophet, susu unta disebut mengandung pencahar ringan dan penstimulan kencing. Sementara tambahan urine berguna menguatkan rasa--asin atau pahit--dan khasiat. Terutama jika unta tersebut memakan tumbuhan khusus seperti apsintus, lavender, kamomil, bunga aster, dan serai.

Menyoal khasiat urine unta, sejumlah studi yang kebanyakan dilakukan periset dari Arab telah membuktikan secara ilmiah manfaatnya sebagai zat antikanker. Misalnya, riset 2011 yang menemukan unta perawan paling berpotensi menghambat perkembangan sel kanker, dan riset di Saudi Arabia pada 2012.

Pun riset Dr. Faten dan tim yang mengklaim temuan zat PMF701, sebagai antikanker dan efektif melawan psoriasis serta eksim.

Namun, perlu dicatat, sejumlah studi itu masih berada di ranah pengujian in-vitro (diuji dalam sampel jaringan). Artinya, masih dalam tahap awal dan butuh studi lanjutan. Yakni dengan melibatkan pengujian in-vivo (diuji dalam tubuh mahluk hidup), baru memasuki tahap uji klinis.

Uji klinis diperlukan untuk melihat potensinya sebagai bahan obat, mengetahui efek sampingnya, termasuk bagaimana cara efektif mengonsumsinya dan seberapa banyak dosis yang tepat.

Sekadar perbandingan, dalam ranah uji in-vitro sebetulnya banyak sekali potensi pengobatan antikanker. Misalnya pada urine sapi, minyak esensial bahkan ganja.

Memang, ada segelintir studi baru yang membenarkan sifat antikanker urine unta dalam pengujian in-vivo. Namun, tergantung pada jenis, usia, dan jenis kelamin unta.

Susu dan urine unta juga terbukti sebagai produk alami yang terdiri dari molekul aman bagi manusia. Meski begitu, sejauh ini belum ada uji klinis yang bisa membuktikan urine unta menyehatkan.

Selain karena riset masih terbatas pada paparan jangka pendek, periset di Jazirah Arab tidak pernah diberi izin dari Otoritas Obat dan Makanan Saudi untuk melakukan studi lebih lanjut.

Kendati demikian, banyak ilmuwan dan dokter di sana yang terang-terangan mengecam praktik minum urine unta. Mereka menilai itu buruk bagi pencernaan, dan berpotensi bahaya bagi pengobatan hepatitis.

Kementerian Kesehatan Indonesia pun mengimbau publik untuk tidak memercayai sepenuhnya praktik tersebut. Sebab dikhawatirkan terjangkit penyakit Middle East Respiration Syindrome Coronavirus (MERS-Cov) atau flu unta--penyebab demam, masalah pernapasan, pneumonia, gagal ginjal dan komplikasi mematikan lainnya.

Terlebih lagi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 telah mengeluarkan peringatan untuk menghindari minum air seni atau susu unta mentah, daging unta yang tidak dimasak dengan benar, dan menghindari kontak dengan unta sebagai upaya pencegahan MERS.

Bahkan ada riset yang menemukan bahwa susu unta berbau tengik, menyengat, dan berwarna coklat kemerahan berkemungkinan terinfeksi trypanosom--sejenis parasit di aliran darah mamalia penyebab penyakit tidur seperti yang disebarkan lalat tsetse.

Menimbang banyaknya kendala yang ditimbulkan, Dr Ahmad Faidhi Mohd Zaini, kepala komite Fiqh Medis di Malaysia mengatakan, akan lebih bijak jika masyarakat memahami bukti baru dan mencari perawatan medis jika sakit.

Bagaimanapun, ujarnya, urine tak lebih dari pembuangan kotoran dan racun di tubuh. Meski ada zat kimia bermanfaat di dalamnya, toksinnya tidak.

Pada akhirnya, apa yang Anda yakini adalah keputusan Anda. Boleh jadi, kita hanya menunggu waktu hingga penelitian yang tepat muncul.

Seperti kata Dr. Idris Yusuf Madaki di Nigeria, bila menjadikan urine unta sebagai pengobatan, Anda harus memiliki cara praktis untuk mengatur dosis dan memastikan keamanannya sebelum dikonsumsi untuk menghindari kontaminasi dan malapetaka.

Catatan redaksi: sebelumnya pada paragraf awal tertulis bahwa Bachtiar Nasir adalah Ketua GNPF MUI, seharusnya Ketua GNPF Ulama.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR