KESEHATAN PEREMPUAN

Menyusui kurangi risiko diabetes pada ibu

Ibu menyusui.
Ibu menyusui. | Suthina Manowong /Shutterstock

Ibu menyusui familier dengan ungkapan breast is best. Ternyata, penelitian baru menunjukkan bahwa menyusui mungkin juga memiliki manfaat jangka panjang yang signifikan bagi ibu, yakni mengurangi risiko diabetes tipe 2.

"Kami menemukan bahwa durasi menyusui yang lebih lama berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang jauh lebih rendah pada perempuan," kata penulis utama studi Erica Gunderson dalam rilis riset.

Faktanya menurut Gunderson, perempuan yang menyusui lebih dari enam bulan hanya memiliki sekitar separuh risiko diabetes tipe 2 dibandingkan perempuan yang tidak pernah menyusui.

Gunderson adalah ilmuwan epidemiologi dan ilmuwan riset senior dari divisi penelitian Kaiser Permanente Northern California di Oakland, AS.

Pada bayi, menyusui berhubungan dengan penurunan risiko infeksi, diabetes tipe 1 dan tipe 2, beberapa jenis kanker, kelebihan berat badan dan obesitas di masa kecil.

Sementara pada ibu, menyusui membantu mengembalikan berat badan seperti semula--sebelum hamil, dan menurunkan risiko perdarahan pascamelahirkan dan kehilangan banyak darah saat menstruasi.

Bukan hanya itu, menurut American Academy of Pediatrics, pemberian ASI juga berhubungan dengan risiko kanker payudara dan ovarium yang lebih rendah pada ibu.

Studi baru ini dimulai 30 tahun yang lalu ketika peneliti merekrut perempuan muda sebagai sampel penelitian. Mereka yang pada waktu itu berusia 18 sampai 30 tahun, direkrut untuk studi penyakit jantung.

Selama penelitian tersebut, peneliti juga mengumpulkan informasi tentang kehamilan dan menyusui. Mereka juga menguji para peserta setiap lima tahun untuk mendiagnosis diabetes.

Proses itu kemudian menghasilkan informasi tentang lebih dari 1.200 perempuan untuk studi baru ini. Setengahnya perempuan berkulit hitam, setengah lagi berkulit putih. Semuanya pernah melahirkan bayi sehat setidaknya satu kali.

Para peneliti kemudian menyesuaikan data untuk memperhitungkan faktor lain yang dapat memengaruhi risiko perempuan terhadap diabetes tipe 2. Termasuk di dalamnya, pendapatan, pendidikan, berat badan, kualitas asupan, aktivitas fisik, penggunaan obat-obatan dan kondisi kesehatan lain.

Pada akhir studi 30 tahun, 182 perempuan ditemukan telah menderita diabetes tipe 2.

Temuan tersebut menunjukkan, perempuan yang menyusui selama 6 sampai 12 bulan memiliki risiko 48 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2, daripada perempuan yang tidak menyusui.

Studi tersebut juga menemukan bahwa efek perlindungan dari menyusui tidak dipengaruhi oleh perbedaan ras atau adanya diabetes gestasional.

Meskipun penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat karena sifatnya sebatas observasional, para peneliti menduga bahwa menurunnya risiko diabetes tipe 2 terjadi karena menyusui mengembalikan tubuh ke keadaan metabolik yang lebih normal secara lebih cepat.

Gunderson mengatakan bahwa manfaat menyusui bisa lebih dari sekadar menurunkan risiko diabetes tipe 2. Karena diabetes tipe 2 merupakan faktor risiko penyakit jantung yang sangat kuat, maka kemungkinan menyusui juga bisa mengurangi risiko penyakit jantung.

Pada akhirnya, penelitian yang dipublikasikan secara daring di JAMA Internal Medicine ini menyimpulkan, menyusui berpotensi mengurangi biaya perawatan kesehatan ibu.

Menurut Lori Feldman-Winter, seorang peneliti di Cooper Medical School of Rowan University di Camden, New Jersey, ibu yang dapat menyusui dan ingin mencoba sebenarnya layak didukung perusahaan. Misal dengan cuti melahirkan yang lebih lama, serta tunjangan kesehatan yang mencakup kebutuhan menyusui.

Pasalnya, perusahaan juga yang memetik untung. Dengan berkurangnya risiko diabetes tipe 2, ibu yang kembali bekerja kondisinya lebih sehat, pengeluaran perusahaan untuk klaim berobat pun berkurang.

Pun demikian perlu dipahami, penelitian ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apa dan bagaimana menyusui berdampak pada kemungkinan ibu menderita diabetes.

Periset juga hanya punya sedikit data tentang berapa lama perempuan menyusui secara eksklusif, atau melengkapinya dengan susu formula, juga makanan bayi.

"Saat bayi mengonsumsi susu formula atau makanan, konsumsi ASI mereka berkurang dibandingkan jika mereka hanya mengonsumsi ASI saja," kata Jennifer Yourkavitch, peneliti di University of North Carolina, Chapel Hill, yang tidak terlibat dalam penelitian ini pada Reuters.

Sebagai informasi, pasokan ASI ibu akan menyesuaikan jika permintaan berkurang. Dengan demikian menurut penelitian ini, jika bayi disapih lebih dini sehingga masa menyusui lebih pendek, maka risiko ibu terkena diabetes tipe 2 meningkat.

Padahal, kata Yukiko Washio, peneliti di University of Delaware yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini, perempuan yang tidak bisa menyusui atau memilih untuk tidak menyusui, sebenarnya masih bisa berupaya untuk menurunkan risiko diabetes.

"Mereka masih bisa berusaha menurunkan berat badan melalui modifikasi gaya hidup dan meningkatkan aktivitas fisik sebagai strategi pencegahan," kata Washio.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR