Menyusui kurangi risiko kematian mendadak pada bayi

Ilustrasi
Ilustrasi | A3pfamily /Shutterstock

Terungkap lagi manfaat menyusui bayi.

Bahkan, ibu yang menyusui bayinya hanya selama dua bulan, dapat menurunkan risiko kematian mendadak pada bayi, atau sudden infant death syndrome (SIDS), sampai hampir setengahnya.

Hal ini terungkap dalam penelitian yang baru saja dipublikasikan dalam situs Pediatrics.

"Bahkan jika ibu tidak dapat menyusui secara ekslusif, mereka dapat merasa tenang karena pemberian ASI, seberapapun itu, dapat melindungi bayi dari sindrom kematian mendadak anak-anak mereka," demikian yang dilaporkan dalam penelitian yang berjudul Duration of Breastfeeding and Risk of SIDS: An Individual Participant Data (IPD) Meta-analysis, pada Senin (30/10) lalu.

Kawai Tanabe, salah seorang anggota tim peneliti dari University of Virginia School of Medicine mengatakan pada UVA News, bahwa hasil penelitian ini sangat penting, karena menunjukkan bayi yang disusui, setidaknya, selama dua bulan memiliki risiko sindrom kematian mendadak yang lebih rendah secara signifikan.

Dalam penelitian sebelumnya disebutkan bahwa menyusui berhubungan erat dengan penurunan risiko sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS, pada bayi yang berusia antara 1 bulan sampai 1 tahun. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics menyarankan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan setidaknya sampai bayi berusia satu tahun.

Akan tetapi, penelitian terbaru ini menekankan pada durasi yang dibutuhkan untuk memberikan perlindungan tersebut. Para peneliti menemukan bahwa bayi yang disusui selama dua sampai empat bulan memiliki risiko SIDS 40 persen lebih rendah daripada bayi yang tidak disusui atau disusui selama kurang dari dua bulan.

Bayi yang disusui selama empat sampai enam bulan memiliki risiko SIDS 60 persen lebih rendah, dan 64 persen lebih rendah pada bayi yang disusui lebih dari enam bulan. Sementara menyusui kurang dari dua bulan tidak memberikan manfaat seperti itu.

Dokter Fern Hauck, salah seorang anggota tim peneliti dari University of Virginia (UVA) School of Medicine dan dokter di rumah sakit anak UVA, mengatakan bahwa menyusui hanya dua bulan dapat mengurangi risiko SIDS sampai hampir setengahnya. Semakin lama bayi disusui, semakin besar perlindungannya.

"Kami tidak melihat adanya perbedaan dalam pemberian perlindungan, dalam hubungannya dengan pemberian ASI secara parsial, maupun ASI eksklusif," tambah Hauck dalam USA Today. "Jadi, jika seorang ibu hanya menyusui sebagian, berarti juga memberikan susu formula, ibu tetap dapat memberikan perlindungan yang sama."

Dilansir dari situs American Academy of Pediatrics, para peneliti menganalisis delapan hasil penelitian besar dari seluruh dunia, yang melibatkan 2.259 kasus SIDS dan 6.894 bayi yang diawasi, di mana tidak terjadi kematian mendadak. Banyaknya contoh yang dikumpulkan ini menunjukkan konsistensi temuan, kendati ada bermacam-macam perilaku budaya di seluruh negara, dan memberikan bukti yang meyakinkan terhadap temuan terbaru itu.

Eurekalert menuliskan bahwa berdasarkan hasil penelitian tersebut, para ilmuwan menyerukan adanya "upaya bersama yang berkelanjutan" untuk meningkatkan tingkat pemberian ASI di seluruh dunia. Berdasarkan data menyusui di tahun 2007, 25 persen bayi di Amerika Serikat tidak pernah disusui. Sementara, dikutip dari AAP News & Journals, sebanyak 89 persen bayi di Uni Eropa, 85 persen di Selandia Baru, 77 persen di Inggris, dan 42 persen di Irlandia, pernah mendapatkan ASI.

World Health Organization telah menetapkan target secara global, bahwa lebih dari setengah bayi di seluruh dunia mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pada tahun 2025.

John Thompson, seorang dokter anak dari University of Auckland dan kepala penelitian ini, mengatakan kepada Reuters, bahwa para dokter anak menyarankan agar para ibu memberikan ASI ekslusif setidaknya selama enam bulan untuk mengurangi risiko SIDS, seperti halnya infeksi telinga dan pernapasan, alergi, obesitas kanak-kanak dan diabetes. Akan tetapi sampai saat ini para peneliti belum memperoleh gambaran yang jelas tentang berapa lama yang dibutuhkan para ibu untuk merawat bayi mereka agar terhindar dari SIDS.

Belum jelas juga mengapa menyusui kurang dari dua bulan tidak memiliki manfaat perlindungan dari SIDS, kata dokter Jeffrey Colvin, dokter anak dari Children's Mercy Kansas City, di Missouri, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Akan tetapi, "Sekarang kita tahu durasi minimum pemberian ASI yang harus dilakukan terhadap setiap bayi yang baru lahir," ungkapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR