Mewaspadai keamanan makanan kaleng

Ilustrasi makanan kaleng.
Ilustrasi makanan kaleng. | FabrikaSimf /Shutterstock

Temuan cacing dalam tiga produk impor ikan makerel kaleng--beda jenis dengan ikan sarden--dengan merek Farmerjack, IO, dan HOKI, membuat para ahli mengimbau agar masyarakat lebih teliti dan berhati-hati saat memilih makanan kemasan.

Dalam rilis resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI terkait perihal tersebut, selain menarik dan memusnahkan ketiganya, BPOM menegaskan produk yang mengandung cacing tidak layak konsumsi.

Kandungan cacing yang dimaksud berjenis Anisakis simplex dan dalam kondisi mati. Menukil CNNIndonesia, cacing nematoda anisakis merupakan cacing parasit yang lazim terdapat pada ikan laut seperti salmon, hering, ikan cod, makerel, cumi, kakap merah, dan halibut.

Cacing bekerja dengan memasuki usus inang, lalu bereproduksi dan mengeluarkan telurnya ke laut lewat tinja inang. Cacing Anisakis hidup mengandung zat kimia sejenis protein yang tidak ramah manusia. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh (imun) akan menganggapnya sebagai serangan zat asing yang berbahaya.

Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor menjelaskan, secara umum tak ada risiko kesehatan yang disebabkan cacing Anisakis mati. Sebab, proses pemanasan ikan kaleng yang baik akan membunuh segala parasit.

Meski begitu, kata dia, cacing Anisakis pada ikan sebetulnya bisa dibersihkan. Karenanya, kemasan kaleng bercacing menunjukkan bahan baku ikan telah terkontaminasi.

Pun mengindikasikan produsen tidak menangani bahan baku dengan higienis, serta tidak menjalankan prosedur standar.

"Jadi, walaupun tidak akan menimbulkan penyakit pada manusia, keberadaannya tetap tidak diinginkan karena menjijikkan, dan sering digolongkan sebagai "filth" atau bahaya fisik yang menjijikkan," ujar Hariyadi.

Kendati demikian, jurnal Clinical Microbiology Reviews menerangkan bahwa paparan alergen oleh cacing mati lewat udara, makanan, atau kulit yang disebut reaksi anafilaksis, bisa sama berbahayanya dengan infeksi Anisakis hidup terhadap manusia--dikenal dengan sebutan anisakiasis.

Pada orang yang hipersensitif, Hellosehat.com menulis dua hal yang mungkin terjadi jika cacing pada ikan kaleng telanjur dikonsumsi. Pertama adalah gangguan pencernaan, dengan gejala mual, muntah, dan diare. Kedua adalah reaksi alergi ringan hingga serius.

Gejala ringan di antaranya hidung berair, kulit badan dan area sekitar mulut terasa gatal, juga mata gatal dan berair.

Sementara gejala serius yaitu syok anafilaktik yang ditandai kesulitan bernapas dan tekanan darah menurun drastis. Diperlukan bantuan medis segera untuk mengatasinya agar tak menyebabkan kematian.

Tip memilih dan mengolah makanan kemasan

Agar kasus serupa tak terulang, BPOM meminta masyarakat melapor bila menemukan produk bermasalah dengan menghubungi pusat kontak HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533 (pulsa lokal), SMS 0812-1-9999-533, e-mail: halobpom@pom.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Selain itu, BPOM juga menganjurkan agar Anda selalu ingat untuk mengecek "KLIK" (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan. Berikut kami sarikan untuk Anda.

Cek kemasan

Saat membeli, pilih kemasan berkualitas yang masih utuh dan tidak rusak. Hindari jika kondisi kemasan atau kaleng penyok, cacat, bocor, berkarat, atau ada bekas gigitan tikus.

Pastikan juga kerapatan segel dan tutupnya--tidak tampak cekung atau menggelembung. Kemasan rusak menandakan kondisi tidak kedap udara sehingga memengaruhi kualitas makanan di dalamnya akibat terkontaminasi udara dan bakteri dari luar.

Cek label

Informasi pada label menunjukkan kandungan, masa kedaluwarsa dan izin edar. Mencermati kandungan dalam kemasan, bisa membantu Anda makan sehat dengan mengetahui bahan yang digunakan--tiga sampai lima bahan pertama biasanya merupakan 80 persen isi dalam kemasan, kadar nutrisi, jumlah kalori dan ukuran porsi.

Cek izin edar

Pastikan pada kemasan tertera izin edar BPOM RI--MD untuk makanan lokal, dan ML untuk produk impor. Itu menandakan suatu produk sudah melewati proses evaluasi, bukan ilegal dan terjamin kualitas mutu serta keamanannya. Anda pun bisa mengecek izin produk lewat situs http://cekbpom.pom.go.id/.

Cek kedaluwarsa

Produk kemasan yang baik adalah yang tidak melebihi masa kedaluwarsa--batas akhir sebuah produk yang aman untuk dikonsumsi. Bila membeli makanan kaleng dalam jumlah besar, pilih setidaknya tiga bulan sebelum kedaluwarsa untuk menjaga mutu produk.

Perhatikan penyimpanan

Penyimpanan dan perlakuan yang keliru, bisa membuat makanan justru cepat basi sebelum masa kedaluwarsa. Karenanya, simpan makanan kemasan dengan baik dan benar di dalam rak tertutup atau lemari, jauh dari tempat basah atau terpapar panas, pada suhu ruangan.

Selain itu, jika Anda menyetok dalam jumlah banyak, letakkan secara berurutan makanan dengan masa kedaluwarsa tercepat di bagian paling depan.

Periksa makanan setelah kaleng dibuka

Kesalahan produksi dan distribusi bisa menyebabkan produk gagal. Karenanya, teliti lagi makanan kemasan sebelum konsumsi. Pastikan makanan tidak terkontaminasi jamur atau memiliki warna dan perubahan aroma yang tidak sama seperti semestinya.

BACA JUGA