Milenial lebih bahagia tinggal di pusat kota

Ilustrasi milenial
Ilustrasi milenial | MinDof /Shutterstock

Milenial merupakan generasi yang sangat menarik untuk diteliti perilakunya, mulai dari preferensi politik, etika kerja, sampai dengan kemampuan finansial mereka di masa depan.

Tak bisa dimungkiri bahwa milenial memang gemar membelanjakan uang di luar kemampuan mereka.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa milenial memiliki banyak utang sehingga diperkirakan mereka harus bekerja hingga usia 75 tahun untuk melunasinya.

Gaya hidup modern yang serba kekinian merupakan daya tarik tersendiri bagi milenial. Menjadi yang selalu terdepan merupakan kebutuhan utama.

Sebuah hasil riset sempat menuliskan bahwa sekarang ini semakin banyak milenial yang mulai bergeser tinggal di area pinggiran kota atau sub-urban.

Menariknya, hal tersebut tidak membuat milenial merasa lebih bahagia.

Studi terakhir yang dirilis jurnal Regional Studies dan ditulis oleh Adam Okulicz-Kozaryn dari Rutgers University, melaporkan, milenial lebih bahagia hidup di perkotaan, terutama pusat kota.

Peneliti menggunakan detail data dari General Social Survey (GSS) yang mengumpulkan informasi selama lebih kurang 100 tahun dari lima generasi yang berbeda-beda.

Para pengolektor informasi membagi hasil riset terhadap 250.000 orang yang bermukim di sejumlah lokasi di dunia. Kemudian, mereka mewawancarai masing-masing orang untuk menentukan skala kebahagiaan yang diurutkan mulai dari, tidak terlalu bahagia, lumayan bahagia, dan sangat bahagia.

Ternyata, ketika bicara soal tempat tinggal, generasi milenial cenderung berbeda dengan pendahulu mereka yang menyukai lingkungan yang sejuk, tidak berisik, dan asri.

Skala riset menunjukkan bahwa kebahagiaan milenial meningkat ketika mereka tinggal di kota.

Milenial kurang bahagia ketika tinggal di kota yang populasinya kurang dari 8.000 orang. Rasa bahagia mereka mengalami peningkatan seiring dengan penambahan penduduk pada kota yang mereka tinggali.

Selain populasi, ukuran kota tempat tinggal juga memengaruhi tingkat kebahagiaan milenial.

“Milenial cenderung tidak bahagia di area desa, sedikit lebih bahagia di area kota kecil, tidak terlalu bahagia di pinggiran kota, dan paling bahagia saat bertempat tinggal di kota metropolitan,” tulis hasil riset.

Okulicz-Kozaryn menuliskan bahwa hasil risetnya ini mengindikasikan bahwa mental dan minat milenial sama sekali berbeda dengan para orang tuanya.

“Mereka (milenial) adalah generasi pertama yang merasa bahagia tinggal di perkotaan daripada di pedesaan dan pinggiran kota,” jelasnya.

Hasil penemuan ini sangat relevan dengan studi mengenai perilaku dan gaya hidup milenial.

Berdasarkan riset yang digagas oleh Morgan Stanley Research, 53 persen milenial makan dan minum di restoran seminggu sekali. Hal tersebut merupakan prioritas dalam agenda mereka.

"Banyak godaan di usia muda. Kumpul bersama teman, bersosialisasi, makan di restoran, dan minum di kafe, menjadi kegiatan rutin untuk milenial. Tidak heran reputasi keuangan mereka terbilang buruk. Semua yang Anda beli di luar pasti lebih mahal, ketimbang bikin sendiri," jelas Sarah Berger, penulis keuangan.

Grant Sabatier, pendiri Millenial Money, sebuah situs keuangan, mengatakan bahwa temuan Bankrate bisa menjadi representasi kehidupan milenial secara umum, setidaknya mengenai kegandrungan mereka dalam hal bersosialisasi.

"Kebanyakan milenial menghabiskan banyak uang untuk kopi selama satu tahun daripada menabung untuk masa pensiun," jelas Sabatier.

Sebenarnya, hobi tersebut tidak menjadi masalah apabila milenial telah menyisihkan 20 persen dari penghasilan mereka untuk ditabung. Sebab, kuncinya adalah cerdas dalam anggaran dan menyeimbangkan gaya hidup.

Jadi, tidak heran jika milenial merasa resah dan tak bahagia tinggal di area yang tidak mengakomodasi kebutuhan mereka untuk nongkrong atau sekadar foto-foto di lokasi yang menarik perhatian teman-teman media sosial.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR