Milenial tidak lebih ahli soal teknologi

Ilustrasi
Ilustrasi
© Eugenio Marongiu /Shutterstock

Generasi milenial pasti lebih akrab dengan teknologi dan dunia digital? Faktanya, tidak juga.

Sebuah penelitian terbaru membuktikan bahwa generasi milenial yang kerap disebut 'digital native' ternyata tidak lebih ahli dalam teknologi daripada angkatan orang tua mereka.

Selama ini, terkesan para orang tua atau kakek dan nenek selalu membutuhkan bantuan dari anak-anak maupun cucu-cucu mereka, yang berasal dari generasi milenial, untuk menggunakan ponsel pintar, laptop atau kamera, karena anggapan generasi milenial pasti lebih mahir menggunakan teknologi.

Akan tetapi, sebuah laporan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Teaching and Teacher Education pada akhir Juni 2017 lalu menyebutkan bahwa sebenarnya digital native itu tidak pernah ada. Pendapat bahwa anak-anak generasi milenial pasti lebih paham dengan teknologi ternyata hanya mitos belaka.

Laporan tersebut menunjukkan bukti ilmiah bahwa tidak ada orang yang cerdas informasi begitu saja hanya karena dia tidak mengenal dunia yang bukan digital.

Dikutip dari The Guardian, 'digital native' adalah istilah yang diciptakan pada tahun 2001 untuk menggambarkan anak-anak dan orang-orang muda yang tumbuh besar di era digital. Mereka dianggap mampu memproses beberapa sumber informasi secara kognitif atau mampu melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Adalah Marc Prensky, seorang pendidik yang menuliskan esai tentang generasi baru yang sangat ahli dalam memproses banyak informasi dan menggunakan teknologi, atau digital native. Dia berpendapat bahwa para pendidik dan dunia bisnis harus segera menyesuaikan diri untuk dapat beradaptasi dengan generasi baru ini.

Tetapi, Paul Kirschner, penulis di jurnal Teaching and Teacher Education yang juga merupakan dosen psikologi pendidikan di Universitas Terbuka di Belanda mengatakan bahwa anggapan bahwa generasi milenial merupakan digital native tidak membantu cara anak-anak belajar, malah merusaknya.

"Kita harus memperlakukan mereka sebagai manusia, pembelajar kognitif dan berhenti menganggap sebagai satu kelompok yang memiliki kekuatan khusus," ungkapnya dinukil Quartz.

Hal ini juga didukung oleh penelitian lain yang dipublikasikan dalam laporan European Computer Driving Licence (ECDL) Foundation pada Januari 2015 yang berjudul 'The Fallacy of the 'Digital Native': Why Young People Need to Develop their Digital Skill'. Laporan tersebut menyebutkan bahwa orang-orang muda generasi milenial ini tidak dapat membangun keahlian digital mereka tanpa latihan dan pendidikan.

Hal yang sama juga dilakukan para generasi yang lebih tua, bahwa untuk memiliki keahlian dalam bidang teknologi dibutuhkan latihan dan pendidikan.

CEO ECDL Foundation, Damien O'Sullivan, mengatakan bahwa yang membedakan hanyalah mereka yang memiliki keterampilan digital untuk gaya hidup dan mereka dengan keterampilan digital di tempat kerja. "Laporan ini membantah anggapan bahwa generasi milenial dapat sukses tanpa pendidikan dan pelatihan yang benar dalam ketrampilan digital."

Sebenarnya anggapan tentang 'digital native' ini tidak menjadi masalah, jika hanya digunakan sebagai jargon para pengiklan untuk menjual produk mereka di kalangan orang-orang muda, yang berusia di bawah 30 tahun.

Akan tetapi, gagasan 'digital native' yang secara fundamental berbeda ini sampai memengaruhi segalanya. Mulai dari rancangan kurikulum pendidikan hingga cara perusahaan membentuk kembali lingkungan kerja mereka.

Sebaiknya kita mendefinisikan ulang makna generasi, kata Jean Twenge, dosen psikologi dari San Diego State University dalam laporan The Conversation. Memang, setiap generasi memiliki kebiasaan dan pandangan yang berbeda mengenai dunia, akan tetapi secara kognitif, cara orang belajar tidak akan berubah begitu cepat.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.