Mimpi, disiplin, dan berteman dengan diabetes

Pengidap diabetes tipe 1 berhasil mendaki puncak gunung Kilimanjaro, Tanzania, 25 September 2013.  Asosiasi Tur Diabetes Dunia, bekerja sama dengan Sanofi, menunjukkan bahwa pengidap diabetes dengan kontrol yang baik dapat melakukan hal luar biasa.
Pengidap diabetes tipe 1 berhasil mendaki puncak gunung Kilimanjaro, Tanzania, 25 September 2013. Asosiasi Tur Diabetes Dunia, bekerja sama dengan Sanofi, menunjukkan bahwa pengidap diabetes dengan kontrol yang baik dapat melakukan hal luar biasa.
© Sanofi/handout /Epa

Diabetes bukan jadi penghalang untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, termasuk mendaki puncak gunung. Berbekal kata kunci itu, 12 pengidap diabetes tipe 1 dari berbagai negara bertekad menaklukkan satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di dunia, Kilimanjaro, Tanzania.

Para pendaki pengidap diabetes tipe 1 berasal dari Amerika Serikat, Australia, Barbados, Belgia, Brasil, Kanada, dan Prancis. Dengan didampingi dua dokter, mereka akhirnya meraih puncak Kilimanjaro yang memiliki ketinggian 5.895 meter di atas permukaan laut pada September 2013.

"Kami ingin menunjukkan bahwa dengan pengelolaan diabetes yang tepat, Anda masih bisa bermimpi," kata Mike Riddell, dokter asal Kanada yang turut dalam ekspedisi itu.

Petualangan pengidap diabetes tipe 1 menaklukkan Kilimanjaro, gunung tertinggi di Afrika itu, menjadi motivasi bagi penduduk dunia yang kini memperingati Hari Diabetes Sedunia, 14 November.

Hari diabetes sedunia diprakarsai International Diabetes Federation (IDF) dan World Health Organization (WHO) dengan merujuk pada tanggal kelahiran Frederick Grant Banting yang berperan dalam penemuan insulin pada 1922.

Diabetes menjadi perhatian dunia karena jumlah pengidapnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2000 sekitar 171 juta orang menderita diabetes melitus, di mana 90 persen di antaranya adalah diabetes melitus tipe 2.

WHO memprediksikan angka pengidap diabetes mencapai 366 juta orang pada 2030. Sebagian besar peningkatan tersebut berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Indonesia menempati urutan ke tujuh jumlah pengidap diabetes, China, India, Amerika, Brasil, Rusia dan Meksiko. Diabetes dengan komplikasi menjadi faktor penyebab kematian tertinggi selain penyakit jantung dan stroke.

Prevalensi diabetes di Indonesia 1980-2014
© Lokadata.beritagar.id /NCD Risk Factor Collaboration

    Hasil data dari Kementerian Kesehatan dan NCD Risk Factor Collaboration yang diolah Lokadata.beritagar.id, memperlihatkan prevalensi diabetes di Indonesia terus meningkat sejak 1980. Perempuan lebih berisiko mengidap diabetes sehingga prevalensinya lebih tinggi daripada laki-laki selama 1980-2014.

    Penderita diabetes usia dewasa (18 tahun ke atas) di Indonesia pada tahun 1980 sebesar 2 juta orang atau 1,9 persen dari jumlah penderita diabetes di dunia. Penderita diabetes melonjak menjadi 11 juta orang pada 2014.

    Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan, provinsi tertinggi untuk prevalensi diabetes penduduk usia 15 tahun ke atas yang terdiagnosis oleh dokter terdapat di DI Yogyakarta (2,6 persen dari total populasi usia 15 tahun ke atas di DI Yogyakarta), DKI Jakarta (2,5 persen), Sulawesi Utara (2,4 persen) dan Kalimantan Timur (2,3 persen).

    Ironisnya, riset WHO menyebutkan dua per tiga orang dengan diabetes di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes. Pengidap diabetes banyak yang mengakses layanan kesehatan dalam kondisi terlambat atau sudah dengan komplikasi.

    Diabetes merupakan penyakit di mana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah), insulin yang dihasilkan tidak mencukupi, atau insulin tidak bekerja dengan baik. Diabetes terbagi dalam dua tipe, yaitu diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

    Pengidap diabetes tipe 1 menghadapi kondisi di mana tubuh sudah sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Penderita harus menggunakan suntikan insulin dalam mengatur gula darahnya. Sebagian besar penderitanya adalah anak-anak dan remaja.

    Diabetes tipe 2 terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin yang mencukupi atau karena insulin tidak dapat digunakan dengan baik (resistensi insulin). Diabetes tipe 2 merupakan yang terbanyak diderita saat ini, lebih dari 90 persen.

    Orang yang mempunyai riwayat keluarga diabetes, lebih besar kemungkinannya untuk menderita diabetes.

    Selain riwayat keluarga, faktor risiko lainnya adalah berat badan berlebih (gemuk), kolesterol tinggi (pola makan yang tidak baik), hipertensi dan kurang aktivitas fisik.

    Mereka yang berusia lebih dari 40 tahun disertai dengan kegemukan akan semakin meningkatkan risiko menderita diabetes.

    Tengok saja data prevalensi diabetes yang berbanding lurus dengan indeks massa tubuh. Tahun 2014 jumlah penduduk pria yang kegemukan di Indonesia mencapai 4,3 persen dari total populasi usia 18 tahun ke atas, sedangkan wanita 8,4 persen.

    Prevalensi diabetes dan rerata indeks massa tubuh 2014
    © Lokadata.beritagar.id /NCD Risk Factor Collaboration

    Penderita diabetes seringkali menunjukkan gejala umum, meski beberapa orang tak mengalami gejala itu.

    Gejala diabetes antara lain haus dan banyak minum, lapar dan banyak makan, sering kencing, berat badan menurun, mata kabur, luka lama sembuh, mudah terjadi infeksi pada kulit, saluran kencing dan gusi, nyeri atau baal pada tangan atau kaki, badan terasa lemah, serta mudah mengantuk.

    Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan diabetes, meski dengan menurunkan berat badan berlebih, diet yang baik, dan olah raga teratur, dapat membuat gula darah kembali normal.

    Diabetes tidak dapat sembuh, tapi gula darah dapat dikontrol dalam batas normal sehingga penting bagi pasien mengontrol gula darah. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjaga gula darahnya tetap terkontrol, akan menurunkan risiko komplikasi diabetes hingga 50 persen lebih.

    Hans Tandra, dokter spesialis penyakit di RS Premier Surabaya, menyatakan pentingnya pasien diabetes disiplin mengontrol gula darah dan pola makan.

    "Semakin banyaknya penderita diabetes itu bukan hanya karena banyak makan, tetapi pola makan yang salah. Mulai dari nggak sarapan, suka makan larut malam. Itu kan memperberat kerja pankreas akhirnya insulin menjadi resisten," kata Hans.

    Disiplin dalam pengaturan makan, olah raga dan minum obat secara teratur memerlukan upaya keras. Meski tahu ada pantangan dan anjuran, banyak pengidap diabetes yang menganggap sepele, misalnya terhadap pola makan.

    Dosen fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati menuliskan pengalaman ibunya "berteman dengan diabetes". Kuncinya adalah disiplin mengatur makanan, olah raga dan patuh pada pengobatan.

    MUAT LAGI
    x
    BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

    Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.