Minumlah antibiotik dengan bijak

Ilustrasi
Ilustrasi | i viewfinder /Shutterstock

Saking terbiasa minum antibiotik, ada sebagian orang yang langsung minta dokter meresepkannya saat berobat, bahkan ada juga yang membeli sendiri tanpa rujukan dokter.

Padahal, penting untuk diketahui bahwa antibiotik bukanlah jawaban atas segala masalah kesehatan.

Saat berobat ke dokter, untuk penyakit tertentu, antibiotik umum diberikan kepada pasien. Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Cara kerjanya, membunuh bakteri dan mencegah perkembangannya.

Namun, tidak semua penyakit butuh antibiotik. Malah, para ahli kesehatan mengimbau agar antibiotik digunakan dengan bijak.

Mengapa penggunaan antibiotik tak boleh sembarangan? Salah satu dampaknya adalah antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba.

"AMR ini adalah ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dunia. Ini butuh campur tangan pemerintah, dan profesi," ujar Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek SpM(K), Menteri Kesehatan.

Resistansi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit mengalami perubahan sehingga obat-obatan yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi menjadi tidak efektif karena mikroorganisme semakin sulit untuk disembuhkan.

Menurut dr. Hari Paraton, SpOG(K), Ketua Komite Pengendalian Resistansi Antimikroba (KPRA), banyak penyakit yang sebenarnya tak membutuhkan antibiotik, misalnya radang, batuk, pilek, dan diare.

Tidak semua infeksi disebabkan oleh bakteri, sehingga tidak semua infeksi membutuhkan antibiotik. Pun infeksi bakteri tak selalu harus diobati dengan antibiotik.

"Misalnya radang, itu karena inflamasi, bukan infeksi bakteri, sehingga tidak butuh antibiotik," kata Hari.

Hari juga mengatakan bahwa sebenarnya tubuh memiliki sistem self healing, sehingga saat sakit, bisa sembuh sendiri tanpa bantuan antibiotik.

Sebab bila tidak tepat, minum antibiotik bukannya menyembuhkan, tetapi malah menyerang daya tahan tubuh dan membuat tubuh menjadi bertambah sakit.

Dalam presentasinya pada acara Simposium Nasional di Balai Kartini, Jakarta, Hari menjelaskan bahwa AMR dapat menyebabkan kegagalan terapi, kegagalan operasi yang kompleks, serta menimbulkan beban morbiditas, mortalitas, dan kecacatan.

Saat orang mengalami AMR, penyakit lebih sulit diobati, waktu pengobatan menjadi lebih lama, dan biaya kesehatan menjadi lebih tinggi.

Bahkan, resistansi antimikroba juga menjadi salah satu penyebab kematian terbesar. Data dari Departemen Kesehatan (2016), angka kematian akibat AMR hingga tahun 2014 mencapai 700.000 per tahun.

Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah kematian meningkat sampai 10 juta jiwa, lebih besar dibanding kematian yang diakibatkan oleh kanker karena semakin cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi bakteri.

Tak hanya digunakan manusia, antibiotik pun rupanya diberikan pada hewan ternak tanpa pengawasan dokter. Namun, ada saja peternak nakal yang memberikan obat ini, misalnya pada ayam, untuk mempercepat pertumbuhannya.

Misalnya ayam akan butuh waktu hingga dua bulan untuk siap dipotong. Namun, bila diberi antibiotik, ayam telah siap potong hanya dalam waktu sebulan. Ini juga bisa diaplikasikan pada sapi dan babi.

Resistansi pada hewan ternak tentu berbahaya, karena hewan ini dikonsumsi oleh manusia sehari-hari. Kata Hari, ayam bisa saja dipotong bila mengalami kondisi resistansi antimikroba, tetapi manusia harus diobati dalam waktu yang lama.

Lantas, bagaimana penggunaan antibiotik yang tepat guna?

Hingga kini, masih banyak orang yang belum memahami bagaimana penggunaan antibiotik yang seharusnya. Ini bahkan dapat dilihat dari indikator penggunaan antibiotik seperti masih tersisa atau masih disimpan di rumah, padahal harusnya dihabiskan saat menjalani pengobatan.

Bila dokter menyarankan Anda minum antibiotik selama 10 hari, maka minumlah sesuai saran. Sebab bila antibiotik diminum lebih sedikit atau lebih banyak, juga dapat jadi menyebabkan resistansi.

Dra. R. Dettie Yuliati, M.Si., Apt, Direktur Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Pelayanan Kefarmasian, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyarankan agar masyarakat lebih sadar mengenai penggunaan antibiotik.

Dettie menyarankan agar masyarakat tidak membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter, tidak menggunakan antibiotik untuk selain infeksi bakteri, tidak menyimpan antibiotik di rumah, tidak memberi antibiotik sisa kepada orang lain, dan tanyakan pada apoteker mengenai informasi antibiotik.

"Pasien bisa bertanya pada dokter tentang penggunaan antibiotik. Tanyakan sejelas-jelasnya mengenai obat agar pasien paham obat apa yang akan dikonsumsi," kata Dettie.

Harapan Dettie adalah masyarakat lebih kritis saat berobat. Tanyakan secara rinci semua obat yang diberikan dokter agar memahami fungsinya dengan baik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR