HARI AIR SEDUNIA

Nyaris separuh rumah tangga Indonesia minum air kemasan

Konsumsi air mineral di Indonesia meningkat signifikan dalam 12 tahun terakhir. Hal sebaliknya terjadi pada air minum yang bersumber pada sumur terlindung.
Konsumsi air mineral di Indonesia meningkat signifikan dalam 12 tahun terakhir. Hal sebaliknya terjadi pada air minum yang bersumber pada sumur terlindung. | Pinkomelet /Shutterstock

Saban bulan, setidaknya Mira memesan air minum kemasan dari sebuah produk ternama di Indonesia sebanyak 16-18 galon. Ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat itu, memilih air minum kemasan dengan beberapa alasan.

Pertama, menurutnya kualitas air minum kemasan lebih baik ketimbang sumber lainnya, semacam air sumur atau pompa. "Saya menggunakan untuk minum dan memasak. Lebih aman aja kualitasnya," katanya kepada Beritagar.id, Rabu (21/3/2018) siang.

Alasan kedua, penggunaan air kemasan lebih dikarenakan alasan sepele sebenarnya. Yakni termakan iklan. Serbuan iklan air mineral yang terdapat di berbagai media, dikatakannya mempengaruhi pilihan. "Sepele ya? Tapi memang begitu," ucapnya sembari tertawa.

Beda dengan Mira, Rizkha justru memilih air sumur untuk konsumsi sehari-hari. Menurut wanita yang bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat itu, ia lebih yakin dengan proses pembuatannya.

"Selain itu, kalau pakai air kemasan setiap waktu gitu costly juga sih ya. Bayangin saja sehari kita harus berapa liter untuk konsumsi," katanya, Kamis (22/3) siang.

Dari mana sumber konsumsi air sehari-hari memang pilihan masing-masing orang. Pun demikian dengan sejumlah alasan yang menyertainya.

Namun, berdasarkan data yang Beritagar.id dapat dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 12 tahun terakhir, terjadi peningkatan drastis pengguna air kemasan. Bila pada 2005 jumlahnya hanya 4,1 persen dari total keseluruhan konsumsi rumah tangga di Indonesia, tahun lalu meningkat menjadi 42,8 persen.

Berarti, hampir separuh dari total populasi rumah tangga Indonesia menggunakan air minum kemasan.

Angka itu menjadikan konsumsi air kemasan menjadi yang tertinggi dibanding 11 pilihan lain. Padahal, pada 2005, pengguna air kemasan hanya menempati posisi lima, di bawah mata air, sumur pompa, ledeng, hingga sumur terlindung.

Untuk hal yang terakhir disebut, merupakan air yang bersumber dari sumur yang pengambilannya melalui mekanisme kerek dengan timba.

Maka, tak usah heran, bila saat ini banyak produk air mineral yang membanjiri pasar. Tak percaya, tengoklah jaringan minimarket di daerah Anda. Bila pada periode 1990-an jenama air mineral hanya itu-itu saja, kini semakin beragam. Ada yang memproduksi dengan PH tinggi hingga air mineral dengan kemasan botol unyu-unyu.

Dan, tak usah heran juga bila Coca-Coca Amatil Indonesia berani mengambil alih produksi Ades, setelah masa kontrak PT Akasha Wira Internasional Tbk. untuk memproduksi merek tersebut habis pada 2011.

Bukan hanya itu, pemain baru dalam bisnis ini, PT Sariguna Primatirta Tbk.--produsen air minum Cleo--bahkan berani membangun dua pabrik baru pada 2017, di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dan Kendari, Sulawesi Tenggara.

Di sisi lain, pada Susenas tadi, klasifikasi air kemasan bukan hanya diperuntukkan bagi para produsen besar. Demikian juga dengan penjual eceran hasil olah sendiri; biasa orang menabal dengan sebutan "air isi ulang". Produsen kecil-kecilan ini juga sekarang menjamur.

Apa penyebabnya? Karena ceruk pasar air kemasan saat ini sudah sangat besar.

Beragam pilihan, praktis, variatifnya harga, hingga manfaat, menjadi alasan masyarakat memilih air kemasan.

Bila melihat kencenderungan, peningkatan tertinggi sejatinya bukan berada di Ibu Kota. Peningkatan tertinggi konsumsi air minum kemasan justru terjadi di Kalimantan Timur.

Bila pada 2007 jumlah pengkonsumsi air dalam kemasan di sana hanya 9,2 persen, kini melonjak signifikan menjadi 68,1 persen. Peningkatan terbesar kedua terjadi Kalimatan Tengah (58,3 persen), lalu Papua (52,1 persen).

Sedangkan provinsi dengan persentase pengonsumsi air mineral kemasan terbesar adalah Jakarta, yaitu 75,2 persen dari jumlah kepala keluarganya.

Provinsi dengan peningkatan tertinggi konsumsi air minum kemasan.
Provinsi dengan peningkatan tertinggi konsumsi air minum kemasan. | Lokadata /Beritagar.id

Mayoritas air minum mengandung E.coli

Bicara soal kualitas, masing-masing orang akan memiliki argumennya sendiri terhadap penggunaan air minum. Mira dan Rizkha tadi percaya bahwa pilihan merekalah yang terbaik bagi kesehatan.

Namun, apa benar demikian? Bila merujuk pada pada riset Badan Pusat Statistik yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan UNICEF di Yogyakarta pada 2015 perihal Survei Kualitas Air (SKA), menunjukkan hal yang sama.

Mayoritas air konsumsi di Kota Gudeg itu mengandung bakteri E.coli. Dalam laporannya (fail pdf) BPS menemukan fakta bahwa 89 persen sumber air minum rumah tangga di sana terkontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan diare hingga infeksi usus serius itu.

Memang, bila berbicara proporsi, sampel pada survei tersebut lebih banyak dilakukan kepada air minum dengan sumber sumur terlindungi (kerek), yakni sebesar 29.1 persen. Kedua, sumber air minum berasal dari pompa (21,2 persen), dan ketiga air kemasan (19,7 persen).

"Persentase sampel air siap minum (termasuk air kemasan atau isi ulang) yang terkontaminasi E.coli sebesar 67,1 persen," tulis laporan tersebut.

Jadi, pilih mana? Air kemasan, sumur terlindungi, atau pompa air tanah? Apapun itu, sepertinya tak menjamin kebersihan 100 persen.

Menurut situs Hello Sehat, jika memilih air mineral, pastikan merek yang dibeli sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Kalau tetap ingin menggunakan air keran, uji kualitas air ke dinas kesehatan terdekat. Jika sudah dinyatakan bebas bakteri, virus, atau racun, rebus dulu hingga mendidih, diamkan sekitar 10 menit, baru matikan kompor. Setelah itu, air keran itu siap diminum.

Catatan: terdapat perubahan judul dari "warga" menjadi "rumah tangga"
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR