KESEHATAN MENTAL

Obat antidepresan diklaim efektif

Ilustrasi perempuan minum antidepresan.
Ilustrasi perempuan minum antidepresan. | Fizkes /Shutterstock

Kontroversi seputar penggunaan antidepresan sudah berlangsung selama beberapa dekade. Mulai dari keraguan soal efektivitas hingga kekhawatiran akan efek sampingnya. Namun, studi besar yag diterbitkan dalam The Lancet berusaha "meredakan" perdebatan itu.

Tim internasional yang terdiri dari 18 spesialis dan dipimpin oleh University of Oxford di Inggris telah melakukan meta analisis terhadap 522 uji klinis untuk 116.477 orang, lewat pengalaman peserta menggunakan 21 antidepresan yang paling sering diresepkan.

Putusan tim ilmuwan bulat, antidepresan efektif mengatasi depresi.

Kepada BBC.com, pemimpin studi Dr Andrea Cipriani dari Pusat Penelitian Biomedis Kesehatan NIHR Oxford mengatakan, "Penelitian ini adalah jawaban terakhir untuk sebuah kontroversi lama mengenai apakah antidepresan bekerja untuk depresi. Saya pikir ini adalah kabar baik bagi pasien dan dokter."

Ia dan tim berfokus pada obat antidepresan untuk depresi sedang sampai berat. Analisis mereka menemukan obat bisa efektif jika mengurangi gejala depresi hingga 50 persen atau lebih.

Seluruh antidepresan yang diuji terbukti jauh lebih efektif daripada plasebo setelah percobaan 8 minggu. Beberapa jenis obat pun ternyata lebih efektif dibanding lainnya.

Lebih rinci, peneliti mengungkap mana obat terbaik dan tidak. Yang paling efektif adalah agomelatine, amitriptyline, escitalopram, mirtazapine, paroxetine, venlafaxine, dan vortioxetine. Sementara yang tidak efektif yaitu fluoxetine, fluvoxamine, reboxetine, dan trazodone.

Layaknya kebanyakan obat-obatan, semua antidepresan ini dijual dengan beberapa merek berbeda. Misalnya, fluoxetine adalah nama generik untuk Prozac, obat untuk depresi--konon dengan efek samping rendah yang muncul pertama kali-- dan sekarang sudah tidak dipatenkan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 300 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi dan angka itu terus meningkat. Meski perawatan farmakologis dan psikologis tersedia, hanya satu dari enam penderita depresi di negara kaya mendapat perawatan yang efektif. Dan turun menjadi satu dari 27 pasien di negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah.

Penyebabnya bukan hanya persoalan jumlah biaya, tapi juga keraguan kalangan profesional medis dalam meresepkan antidepresan yang tepat.

Melansir Hellosehat.com, ada setidaknya lima jenis antidepresan yang paling sering diresepkan dokter. Antara lain Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI), Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRI), Trisiklik, Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOI), dan Noradrenaline and Specific Serotonergic Antidepressants (NASSA).

Kelimanya berefek samping. Pun bekerja dengan cara berbeda.

Yang jelas semuanya berkisar pada gagasan untuk meningkatkan kadar neurotransmitter (senyawa kimia dalam otak) seperti serotonin dan noradrenalin, sehingga memengaruhi suasana hati dan emosi penggunanya.

Namun, studi 2017 telah mengungkap bahwa yang membuat antidepresan kadang tidak manjur mengatasi depresi adalah faktor genetik manusia. Dengan kata lain, benar adanya bahwa satu orang bisa berbeda dengan lainnya dalam menanggapi efek obat.

Karenanya dokter kadang urung meresepkan antidepresan. Kebanyakan lebih condong pada kenyataan bahwa efek obat akan sangat efektif jika diselingi gaya hidup sehat dan terapi psikologis.

Pasalnya, perubahan oleh antidepresan butuh waktu setidaknya sampai EMPAT minggu, dan sering lebih lama. Alhasil, sebagian kalangan medis bahkan mencari alternatif mengatasi depresi yang bebas efek seperti menganjurkan begadang di bawah pengawasan dokter.

Pada studi, mengutip The Guardian, sebagian besar obat yang diuji adalah jenis SSRI. Meski Cipriani mengatakan antidepresan manapun bermanfaat dan mengimbau kalangan dokter mempertimbangkan temuannya, ia mengakui bahwa dunia medis masih terkendala menemukan jenis obat baru.

Pun belum memiliki perawatan depresi yang tepat. "Delapan puluh persen orang menghentikan antidepresan dalam waktu satu bulan. Ketika efek biasanya memakan waktu setidaknya dua bulan," ujar Dr Cipriani mengemukakan keprihatinannya.

Untuk itu, tim peneliti menegaskan, temuan ini bisa membantu dokter memilih resep yang tepat, tetapi bukan berarti orang harus beralih merek obat. Pun menjadikan antidepresan sebagai pilihan pengobatan utama.

Prof John Geddes, kepala Psikiatri Universitas Oxford mengatakan pada Telegraph.co.uk, "Akses terhadap pengobatan (depresi) benar-benar buruk." Menurutnya, perdebatan soal antidepresan sering kali bersifat ideologis dan bukan berdasarkan penilaian bukti.

Ia juga menyebut banyak dokter umum yang "muak" memberi antidepresan, tapi tak ragu meresepkan obat tertentu bagi penderita kanker atau penyakit jantung.

Tentu, pernyataan-pernyataan itu mengundang beragam pendapat. Thetimes.co.uk mencatat stigma-stigma yang muncul selama ini terhadap antidepresan, dan berdasarkan penelitian. Menurut situs tersebut, percobaan delapan minggu tak bisa menjelaskan dampak jangka panjang antidepresan. Belum lagi efek negatif jika obat terpaksa diberhentikan.

Business Insider juga mengungkap cerita viral pada awal 2018 yang pernah diangkat sejumlah media barat kesohor terkait klaim bahwa antidepresan tidak efektif, dan depresi harusnya tak ditangani dengan pengobatan.

Meski demikian, Profesor Allan Young dari King's College London Institute of Psychiatry, Psychology & Neuroscience yang tidak terlibat dalam studi berujar, "Ini adalah penelitian yang berkualitas dan kesimpulan didukung oleh data yang solid."

Namun, imbuhnya, kita perlu sadar bahwa temuan ini hanya berlaku untuk gangguan depresi mayor. Dan seharusnya begitu, karena antidepresan tak semestinya dipakai untuk kondisi lain yang tak disetujui. Salah satunya mengatasi kecemasan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR