CITRA TUBUH

Obsesi membesarkan otot ancam kesehatan mental

Ilustrasi laki-laki di pusat kebugaran.
Ilustrasi laki-laki di pusat kebugaran. | Mr. Somkiat Boonsing /Shutterstock

Obsesi membesarkan otot dan membentuk tubuh tiada gunanya jika akhirnya depresi juga.

Studi baru menemukan laki-laki yang terobsesi berlatih di pusat kebugaran demi fisik sempurna punya kemungkinan lebih besar menderita depresi. Depresi yang dirasakan itu akhirnya menggiring laki-laki berperilaku tak sehat.

Para peneliti dari Norwegian University of Science and Technology (NTNU) dan Harvard University menemukan hampir 10 persen laki-laki yang disurvei mengalami gangguan citra tubuh. Mereka meyakini tubuhnya terlalu gemuk lalu ingin menjadi lebih bugar.

Karena gangguan ini, mereka punya kecenderungan lebih tinggi terhadap kebiasaan minum alkohol di akhir pekan, melakukan diet, dan menggunakan steroid anabolik.

Tim peneliti yang dipimpin Dr. Trine Tetlie Eik-Nes menyatakan, studi mereka adalah yang pertama menyelisik hubungan laki-laki dengan otot mereka. Peneliti juga menemukan diperlukan lebih banyak sumber daya untuk membantu, seiring semakin banyaknya laki-laki yang punya masalah dengan citra tubuh.

Science Alert melaporkan, untuk penelitian ini, peneliti mengamati lebih dari 2.400 laki-laki di Amerika Serikat (AS). Semuanya terbilang muda dengan usia antara 18 hingga 32 tahun.

Peneliti menilai kebiasaan olahraga laki-laki dan citra tubuh, dengan Drive for Muscularity Scale (DMS). DMS adalah survei berisi 15 pertanyaan.

DMS mengukur dorongan orang untuk membesarkan otot. Pada skala satu (selalu) hingga enam (tidak pernah), responden menilai pernyataan seperti "Saya berharap tubuh saya lebih berotot" atau "Saya merasa bersalah kalau melewatkan sesi latihan beban".

Hasilnya, hampir 10 persen laki-laki mengalami gangguan citra tubuh. Artinya mereka memandang diri sendiri terlalu gemuk dan ingin lebih bugar.

Para laki-laki yang terobsesi dengan olahraga punya kecenderungan empat kali lebih besar mengonsumsi suplemen legal dan ilegal, juga steroid anabolik untuk membesarkan otot.

Para peneliti juga menemukan, lebih dari satu dari tiga laki-laki telah menjalani diet dalam satu tahun terakhir. Padahal mereka tidak mengalami obesitas.

Menurut Dr. Eik-Nes, sementara banyak perempuan diet karena mereka menganggap diri kelebihan berat badan atau terlalu gemuk, kebanyakan laki-laki berdiet karena menganggap diri mereka terlalu kurus.

Dr. Eik-Nes, associate professor di department of neuromedicine and movement science NTNU mengatakan, masalah citra tubuh yang dihadapi laki-laki sering terabaikan oleh tenaga kesehatan profesional.

"Penelitian telah dilakukan terhadap laki-laki muda, tetapi mereka diberi pertanyaan yang sama dengan perempuan," katanya.

Lanjut Dr. Eik-Nes, "Laki-laki tidak ingin jadi kurus. Mereka ingin punya otot besar. Jadi pertanyaan yang diberikan kepada para perempuan tidak tepat jika tujuannya mengetahui bagaimana laki-laki muda memandang diri dan tubuh mereka sendiri."

Beberapa laki-laki menganggap pesepak bola Cristiano Ronaldo sebagai contoh tubuh laki-laki ideal. Masalahnya Ronaldo adalah atlet, sementara laki-laki pada umumnya bukan atlet.

"Olahraga harus jadi pekerjaan penuh waktu Anda jika ingin terlihat seperti Ronaldo. Dia termasuk satu dari ribuan populasi dunia yang mencari nafkah dari olahraga," terang Dr. Eik-Nes.

Dia bilang ini menandakan laki-laki yang secara teratur berolahraga tidak melakukannya agar jadi lebih sehat. Alih-alih mereka giat berlatih demi tubuh lebih berotot yang cocok dengan perspektif tubuh ideal.

"Perempuan seharusnya langsing dan berpinggang kecil. Laki-laki harus berbahu lebar dan otot besar. Ini adalah cita-cita dangkal yang tumbuh bersama para orang muda kini. Ternyata citra tubuh tidak realistis ini sama menantangnya bagi laki-laki dan perempuan," kata Dr. Eik-Nes.

Saran Dr. Eik-Nes, orang tua perlu bicara pada anak-anak mereka tentang citra tubuh yang sehat. Orang tua juga perlu turun tangan jika obsesi akan citra tubuh dinilai sudah mengganggu anak.

"Salah satu tandanya jika anak pergi ke gym setiap hari, hanya mau makan ayam dan brokoli dan mengonsumsi shake protein atau suplemen sepanjang waktu," urai Dr. Eik-Nes.

Kalau sudah begitu, orang tua perlu berdiskusi dengan anak. Tanya apa sebenarnya yang membuat mereka getol melatih tubuh.

Faktanya, budaya populer ikut berperan menyuburkan citra tubuh tak realistis. "Kalau Anda perhatikan perubahan dalam 30 hingga 45 tahun terakhir dalam penggambaran laki-laki di Hollywood, kartun, majalah, dan mainan, Anda akan melihat tubuh laki-laki masa kini tampak jauh lebih berotot," kata Dr. Harrison Pope dari McLean Hospital, Massachusetts.

Hal senada disampaikan aktor Rob McElhenny. Bintang serial televisi It's Always Sunny in Philadelphia itu pernah mendeskripsikan rutinitas olahraganya yang "tidak susah". Bahkan Rob yang menjalaninya pun mengakui betapa rutinitas itu tidak realistis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR