Orang Belanda paling jangkung, Indonesia masuk kalangan tanggung

Ilustrasi pengukuran tinggi badan pada anak-anak.
Ilustrasi pengukuran tinggi badan pada anak-anak. | Indian Picture /Shutterctock

Berbagai mitos tentang tinggi badan manusia berkembang. Mulai dari teori tinggi badan yang dipengaruhi oleh genetik dan ras, hingga pengaruh tinggi badan terhadap kesehatan orang tersebut.

Namun, tak semua berupa mitos belaka. Beberapa di antaranya justru didasari oleh hasil penelitian yang sahih.

Secara keseluruhan, tinggi badan manusia saat ini berada jauh di atas angka tinggi badan para leluhurnya. Hal tersebut berlaku di berbagai negara, meskipun tak cukup merata.

Penelitian eLife yang diterbitkan pada 2016 pernah mengulas bahwa tinggi manusia dewasa mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa abad belakangan. Namun ini tidak merata terjadi di semua negara di dunia.

eLife menemukan bahwa orang dari Eropa selatan dan tengah, demikian pula Asia Timur, tumbuh lebih tinggi dalam kurun waktu seratus tahun terakhir. Tetapi orang-orang di Sahara Afrika dan Asia Selatan tidak mengalami hal yang sama.

Lokadata Beritagar.id mempelajari hasil survei NCD-Risc, lembaga mitra WHO, per 2016. Lelaki asal Belanda kelahiran 1996 merupakan lelaki tertinggi di dunia. Jika dibandingkan dengan data 100 tahun silam, tinggi badan lelaki yang sampelnya diambil ketika berusia 18 tahun menunjukkan kenaikan sekitar 17,6 cm.

Sementara pada perempuan, Latvia adalah paling tinggi. Uniknya, meski dari etnis kulit putih (kaukasian), postur paling tinggi perempuan Latvia "hanya" 169,8 cm.

Sedangkan Amerika Serikat yang selama ini dianggap masuk kalangan negara dengan penduduk berpostur tinggi, ternyata tak sebanding dengan negara barat lainnya. Seabad yang lalu, orang Amerika masih menempati posisi ketiga tertinggi di dunia dengan angka 171 cm. Namun kini Amerika berada di urutan ke-37 dengan tinggi badan tertinggi 177 cm. Begitu juga para perempuannya yang merosot dari peringkat empat ke 42 dengan rata-rata tinggi badan 163,5 cm.

Meskipun demikian seperti dalam ulasan CNN, Juli 2016, orang Amerika disebut memiliki indeks massa tubuh yang lebih baik ketimbang sang leluhur.

Sedangkan untuk kategori terpendek di dunia adalah para lelaki dari Timor Leste. Meski demikian tetap ada kenaikan sekitar 6,8 cm dari leluhurnya yang hidup 100 tahun lalu. Sementara kalangan perempuan terpendek di dunia adalah Guatemala dengan angka 140,3 cm, merosot dari tinggi badan para leluhurnya --149,3 cm.

Tinggi badan seseorang juga kerap dianggap sebagai "warisan". Istilah "memperbaiki keturunan" pun kerap terdengar.

Padahal, selain diturunkan oleh nenek moyang, ada beberapa hal yang dapat memengaruhi tinggi badan seseorang. Misalnya populasi silang, faktor lingkungan, nutrisi, dan gizi yang didapat seseorang ketika masa kanak-kanak pun berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan.

Sebagai contoh, manusia tumbuh dengan pesatnya pada tahun pertama kehidupan, yakni bisa mencapai sekitar 25 cm dan tiga kali dari tingginya pascalahir. Itu sebabnya asupan nutrisi dan gizi yang baik sangat diperlukan pada masa ini karena setelah itu secara perlahan pertumbuhan tubuh mulai melambat.

Menurut Eeric Truumees, dokter spesialis bedah ortopedi dari Austin, Texas, postur tubuh yang terlalu tinggi juga berpengaruh terhadap risiko penyakit dan masalah kesehatan. Truumes yang berpostur 203 cm, misalnya, kerap terantuk ketika harus menggunakan kendaraan umum atau berada di ruang publik.

Huffington Post, Juli 2016, pun pernah mengulas beberapa faktor yang menjadi bukti bahwa tinggi badan berpengaruh terhadap kesehatan.

Durasi hidup

"Tumbuh cepat dan menjadi lebih besar berarti Anda memiliki waktu hidup yang lebih singkat dan kami melihatnya pada tikus," sebut Mary Schooling, seorang profesor dari City University of New York School of Public Health and Health Policy.

Tetapi hal ini tentu tak bisa langsung linear begitu saja pada manusia. Lagi-lagi beberapa faktor seperti nutrisi, sosial ekonomi, dan penyakit tetap memengaruhi.

Kanker

Kanker terbentuk dari sel abnormal yang memperbanyak diri tanpa bisa dikendalikan. Pada orang berpostur lebih tinggi dan besar, sel dalam tubuhnya pun menjadi lebih banyak sehingga kesempatan kanker untuk bermutasi pun menjadi lebih besar.

Menurut sebuah penelitian terbitan Cancer Epidemiology, Biomarkers, & Prevention yang dilansir Republika, Maret 2016, setiap kenaikan empat inci tinggi pada perempuan maka 13 persen lebih rentan terkena 19 jenis kanker --termasuk kanker payudara, ovarium, tiroid, dan darah.

Sementara lelaki bertubuh jangkung lebih mungkin terkena kanker prostat agresif. Menurut data 2011, orang Belanda juga menempati urutan ke-12 di dunia sebagai pengidap kanker terbanyak.

Jantung dan diabetes

Orang bertubuh tinggi disebut justru memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terkena penyakit jantung dan diabetes. Menurut teori, jika tinggi badan orang tersebut disebabkan pola makan dan asupan gizi saat kecil, bisa dipastikan mereka memiliki tubuh yang lebih sehat dan aliran darah yang lebih lancar.

Mudah nyeri

Orang bertubuh tinggi lebih mudah jatuh dan terluka akibat respon yang lebih lambat. Menurut data, mereka yang bertubuh tinggi saat masa tua pun akan lebih sering terkena penyakit pinggul ketimbang yang bertubuh lebih pendek.

Penyakit seperti nyeri leher, tulang belakang dan punggung juga menyerang. Dalam data yang dibuat pada 2016 pun menyebutkan penyakit leher dan punggung jadi keluhan nomor satu yang kerap menyerang penduduk Belanda.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR