POLA ASUH

Orang tua sebaiknya berdebat di depan anak

Ilustrasi orang tua bertengkar di depan anak.
Ilustrasi orang tua bertengkar di depan anak. | Folya /Shutterstock

Berbeda dengan nasihat umum yang kerap kita dengar, berdebat dengan pasangan justru lebih baik dilakukan di depan anak. Pasalnya menyembunyikan perselisihan paham dengan pasangan justru membuat anak bingung.

Penelitian dari Washington State University mengungkap, sebenarnya berdebat di depan anak baik untuk perkembangan emosional mereka. Tak sembarang argumen, perdebatan yang membangun dan sehat adalah kunci.

Ketika orang tua memendam perasaan dan menunda perdebatan sampai anak tidur, ini bukannya menguntungkan justru bisa merugikan anak. Alih-alih saat anak-anak menyaksikan "konflik sehat" diselesaikan, mereka dapat belajar mengekspresikan diri dengan cara yang sama dan positif.

Para peneliti menyimpulkan demikian setelah menjajal eksperimen yang melibatkan 109 ibu dan ayah. Mereka dikondisikan telah melalui satu situasi yang memicu kecemasan.

Sebagian orang tua diinstruksikan menyembunyikan perasaan. Menunjukkan lebih sedikit gestur positif seperti tersenyum dan mengangguk pada anak-anak mereka.

Sementara sebagian lain diminta bersikap apa adanya di depan anak-anak mereka yang berusia antara tujuh hingga 11 tahun.

Sara Waters, asisten profesor Human Development di kampus WSU Vancouver dan rekan penulis studi mengatakan, “Anak-anak mengenali sikap menyembunyikan sesuatu, masalahnya ini adalah sesuatu yang dianggap banyak orang tua adalah hal baik.”

Padahal daripada menyembunyikan, orang tua seharusnya memperlihatkan perasaan mereka. Hanya saja caranya perlu diperhatikan dengan konstruktif.

Untuk itu Waters dan tim ingin melihat bagaimana sikap memendam emosi mengubah cara orang tua dan anak berinteraksi.

Dalam eksperimen pertama, orang tua diminta berbicara di depan umum. Hasilnya, mereka menerima umpan balik negatif dari audiens.

Dalam eksperimen kedua, para orang tua diminta menyusun mainan Lego bersama anak-anak tanpa membaca instruksi. Sebaliknya, anak-anak punya instruksinya tapi tidak diperbolehkan ikut menyusun lego.

Setengah dari orang tua diminta menahan emosi mereka. Sementara yang lain diinstruksikan untuk bertindak secara alami.

Peneliti menemukan, ketika orang tua menyembunyikan emosi mereka, anak-anak mengenalinya. Pasalnya anak-anak pandai melihat isyarat halus dari emosi, kata Waters.

"Jika mereka merasakan sesuatu yang negatif telah terjadi, dan orang tua bertindak normal tanpa membahasnya, ini membingungkan untuk mereka. Seolah adalah dua pesan saling bertentangan yang dikirim. Biarkan saja mereka melihat seluruhnya," jelas Waters.

Waters merekomendasikan orang tua menunjukkan kepada anak-anak cara mengatasi konflik. "Itu membantu anak-anak belajar mengatur emosi mereka sendiri dan memecahkan masalah. Mereka melihat bahwa masalah bisa diselesaikan. Sebaiknya biarkan anak-anak tahu Anda merasa marah, dan beri mereka penjelasan," urainya.

Bagaimanapun, orang tua harus yakin bahwa mereka tidak "bertengkar" di depan anak-anak dalam pemahaman tradisional. Sebaliknya, "berdebat" atau berusaha untuk menyelesaikan konflik adalah yang paling baik.

Menurut Psychology Today, pemahaman bertengkar secara tradisional yang dimaksud termasuk intonasi suara yang ditinggikan, mengungkit masa lalu, dan melontarkan kata-kata kasar.

Ketika dua orang bertengkar, mereka menjadi fokus pada masalah. Sebaliknya saat berdebat, orang menggunakan intonasi suara yang tenang, saling menghormati satu sama lain, dan fokus pada satu masalah tunggal. Pasalya mereka fokus pada solusi.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bertengkar di depan anak-anak bisa berefek negatif pada perkembangan anak. E. Mark Cummings, Ph.D., seorang psikolog di University of Notre Dame mengatakan kepada Parents bahwa anak-anak sangat peka terhadap konflik orang tua mereka.

Bahkan anak usia enam bulan sangat sensitif terhadap semua jenis konflik antara ibu dan ayah. Termasuk pertengkaran, permusuhan, dan pembelaan diri, serta perkelahian fisik.

Tekanan darah bayi meningkat ketika orang tua bertengkar di dekatnya. Meskipun kata-kata yang terucap mungkin belum mereka pahami, tetapi mereka menangkap nada dan isyarat lainnya.

Orang tua yang akur mau bekerja sama memupuk rasa aman anak-anak mereka. "Namun, pertengkaran yang sering tidak terpecahkan menjauhkan anak dari keyakinan itu, memicu kesedihan, kecemasan, dan ketakutan pada anak-anak segala usia," kata Cummings.

Jadi ketika konflik muncul, gunakanlah sebagai kesempatan untuk menunjukkan kepada anak bahwa Anda dan pasangan bisa mengatasi masalah dengan cara yang sehat dan suportif.

BACA JUGA