Pakai dasi terlalu ketat bisa hambat kerja otak

Ilustrasi laki-laki yang menggunakan setelan dan dasi
Ilustrasi laki-laki yang menggunakan setelan dan dasi | Pixabay

Penelitian terbaru dalam jurnal Neuroradiology menemukan, dasi ternyata membatasi aliran darah ke otak. Hal ini membuat sebagian pemakai berisiko mengalami sakit kepala, pusing, dan mual.

Dasi sudah ada sejak lama. Contoh tertuanya berasal dari dinasti Qin di Tiongkok Kuno, di mana anggota tentara kerajaan Qin Shih Huang sudah mengadopsi dasi. Meskipun tidak memiliki tujuan fungsional pada abad ke-21, setelan dan dasi telah menjadi simbol profesionalisme di dunia kerja.

Berkurangnya aliran darah ke otak dapat menciptakan banyak masalah kesehatan termasuk iskemia otak yang dapat menyebabkan kebutaan, gangguan berbicara, dan ketidaksadaran.

Robin Lüddecke di University Hospital Schleswig-Holstein di Jerman dan rekan-rekannya merekrut 30 laki-laki yang sehat--usia mereka rata-rata 24,6 tahun--dan secara acak membagi mereka menjadi dua kelompok.

Setengahnya mengenakan dasi saat menjalani MRI, sementara setengah lainnya--yang berfungsi sebagai kelompok kontrol--tidak mengenakannya. Setiap peserta diinstruksikan untuk membuat simpul Windsor--satu ikatan lebih dari formasi dasi sederhana.

Kelompok yang mengenakan dasi menjalani tiga pemindaian MRI. Satu saat mereka mengenakan dasi longgar di leher dengan kerah terbuka, yang kedua dengan kerah dikancing dan dasi leher diikat sampai menimbulkan rasa ketidaknyamanan, dan yang ketiga dengan dasi dan kerah mengendur lagi.

Kelompok kontrol juga menjalani tiga pemindaian MRI, dalam setiap kasus tanpa mengenakan dasi. Setiap sesi pemindaian MRI membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikannya.

Di antara relawan yang memakai dasi, pemindaian MRI mengungkapkan bahwa aliran darah otak turun rata-rata 7,5 persen setelah dasi diperketat dan terus menurun dengan rata-rata 5,7 persen setelah dasi dilonggarkan.

Semua kecuali dua dari relawan yang memakai dasi mengalami penurunan aliran darah otak dan bahkan lima orang mengalami penurunan lebih besar dari 10 persen. Sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami kondisi penurunan aliran darah. Tetapi sebaliknya pada aliran darah otak mereka rata-rata sedikit meningkat selama pemindaian MRI kedua.

Aliran darah yang lancar ke otak sangat penting untuk menjaga semua neuron dan sel terus berdetak, mentransmisikan pesan, dan memungkinkan kita sesegera mungkin menanggapi masalah, pertanyaan, atau ancaman.

Sebelum penelitian oleh ilmuwan Jerman ini, peneliti lain telah menemukan bukti bahwa dasi meningkatkan tekanan di mata pemakainya.

Dalam sebuah penelitian tahun 2003 yang diterbitkan dalam Journal of Ophthalmology, para peneliti mengukur cairan dalam bola mata laki-laki sebelum dan sesudah mereka mengenakan dasi. Mereka menemukan bahwa tindakan ini meningkatkan tekanan intraokular, atau tekanan cairan di dalam mata, yang dikaitkan dengan glaukoma.

Glaukoma, salah satu penyebab utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan. Terjadi ketika peningkatan tekanan intraocular pressure (IOP) yang menyebabkan kerusakan pada mata.

Para ahli mengatakan bahwa dasi mungkin menyebabkan masalah karena ikatannya menyempitkan vena jugularis, pembuluh darah utama yang mengembalikan darah dari kepala ke arah jantung.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan itu menunjukkan hubungan antara memakai dasi kelewat ketat secara rutin, dan masalah yang diakibatkan pada mata.

"Jika pasien secara konsisten memakai dasi ketat sebagai preferensi normal dalam kehidupan sehari-hari, ini dapat menyebabkan peningkatan IOP yang berkelanjutan dan dapat menjadi predisposisi perkembangan neuropati optik glaukoma, sehingga menjadikannya sebagai faktor risiko serta pembaur pengukuran IOP yang akurat," tulis para peneliti dalam penelitiannya.

Namun, studi ini memiliki beberapa batasan. Pertama, ukuran sampel kecil . Sekelompok 30 laki-laki tidak cukup untuk menggeneralisasi cakupan yang lebih luas.

Lalu para peneliti dengan sengaja meminta relawan untuk mengenakan dasi sendiri sampai pada titik ketidaknyamanan masing-masing. Mengingat ukuran leher juga berbeda-beda, maka akan terjadi variasi dalam seberapa ketat mereka bisa memakai dasi.

Kurang jelas juga seperti apa kebiasaan relawan memakai dasi apakah reguler atau sesekali, juga berapa lama perubahan dalam aliran darah dapat bertahan. Bisa jadi aliran darah dari waktu ke waktu bisa beradaptasi dengan penyempitan yang disebabkan oleh dasi.

BACA JUGA