Paparan pornografi berhubungan dengan seksisme

Ilustrasi
Ilustrasi
© Cherries /Shutterstock

Pernahkah Anda bertemu seorang laki-laki yang kerap meremehkan perempuan? Menurut para ilmuwan, perkenalan pertamanya dengan pornografi bisa jadi merupakan akar masalah.

Periset di University of Nebraska-Lincoln, Amerika Serikat baru-baru ini menemukan hubungan yang jelas antara usia anak laki-laki saat pertama kali terpapar pornografi, dan kecenderungan berperilaku seksis di kemudian hari.

Dalam upaya mencari tahu, periset melakukan survei terhadap 330 laki-laki bergelar sarjana, usia antara 17 sampai 54 tahun. Mereka diminta mengisi 46 pertanyaan yang dirancang untuk mengukur norma-norma maskulinitas.

Survei juga menanyakan kapan pertama kali mereka terpapar pornografi. Mereka juga ditanya apakah hal itu disengaja atau tidak.

Dari jawaban responden, terungkap bahwa rata-rata mereka terpapar pornografi pada usia sekitar 13 tahun. Ada yang mengaku pada usia lima tahun, ada pula yang pada usia 26 tahun baru terpapar pornografi.

Lebih dari 43 persen mengaku hal tersebut tidak disengaja. Sebaliknya, 43 persen responden mengaku memang sengaja mencarinya.

Sementara 17 persen responden bilang mereka dipaksa, dan sekitar enam persen responden menolak untuk menjawab.

Setelah menganalisis data, para ilmuwan menemukan bahwa laki-laki yang terpapar pornografi di usia lebih muda cenderung menyatakan setuju terhadap pernyataan-pernyataan yang mengesankan superioritas laki-laki di atas perempuan. Dengan kata lain, mereka cenderung ingin berkuasa atas perempuan.

Berbicara pada BBC, menurut penulis riset Chrissy Richardson, MA, kecenderungan perilaku seksis mungkin terjadi karena mereka yang terpapar pornografi di usia dini sering kali tidak menikmati hubungan seksual dalam hidupnya.

"Mereka sering mencemaskan kinerjanya dengan perempuan dalam kehidupan nyata. Pengalaman seksual mereka tidak berjalan seperti yang direncanakan, atau seperti yang mereka lihat dalam konten porno," terang Richardson.

Setali tiga uang, mereka yang terpapar pornografi pada usia yang lebih tua, juga cenderung mendukung norma-norma hidung belang--disebut playboy oleh periset, seperti memiliki pasangan seksual lebih dari satu. Artinya, mereka punya kecenderungan ingin jadi playboy.

Temuan kedua soal laki-laki hidung belang ini cukup mengejutkan. Sebab, kata Richardson, para peneliti menduga kedua norma tersebut--norma playboy dan norma kekuatan maskulin di atas perempuan--lebih tinggi pada usia paparan lebih rendah.

"Temuan paling menarik dari studi ini adalah bahwa paparan pornografi pada usia lebih tua memprediksi kepastian yang lebih besar terhadap norma maskulin playboy," jelas Richardson.

Periset Alyssa Bischmann dalam pernyataannya menambahkan, mereka tak punya banyak teori yang dapat menjelaskan hubungan terbalik yang tak terduga antara paparan pornografi dan norma playboy.

Bagaimanapun, mereka mencatat bahwa eksperimen yang sudah dilakukan tidak mengidentifikasi faktor-faktor lain. Misal, pengalaman seksual negatif, kinerja kecemasan, tingkat religiositas, dan frekuensi pemakaian. Semua itu bisa saja berhubungan dengan hasil riset yang mengejutkan tersebut.

Itu mengapa Bischmann mengatakan bahwa riset lebih lanjut masih dibutuhkan. Pada riset itu, peneliti juga harus menyelidiki akibat dari hubungan-hubungan tersebut dengan memasukkan pengukuran kepuasan hubungan, kesejahteraan, dan aksi kekerasan terhadap perempuan. Sebab, variabel-variabel ini mungkin berhubungan dengan norma maskulinitas dan pornografi.

Penelitian ini belum dipublikasikan, namun sudah dipresentasikan dalam pertemuan American Psychological Association di Washington, D.C. pada (3/8) lalu.

Menurut para periset, temuan mereka menunjukkan bahwa melihat atau menonton konten porno dapat memengaruhi perilaku laki-laki, terutama cara mereka memandang peran gender. Karenanya, menggali lebih dalam tentang hubungan antara konsumsi pornografi kaum Adam dan keyakinan mereka akan perempuan dapat membantu usaha pencegahan pelecehan seksual.

Terlepas dari riset tersebut, kini konten pornografi bisa diakses secara lebih mudah. Untuk itu, orang tua perlu memberi teladan dan membekali anak-anaknya pengetahuan yang cukup agar kelak mereka tumbuh dengan perilaku baik.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.