Pemahaman lebih penting dari pengetahuan

Ilustrasi
Ilustrasi | Roman Samborskyi /Shutterstock

Di akhir penjelasannya, seorang guru akan bertanya kepada siswa-siswanya, "Apakah sudah paham, anak-anak?"

Kadang untuk menguji apakah sudah benar-benar paham, dia akan meminta siswa untuk menceritakan tentang materi yang baru saja dijelaskan. Tentang konsep perkalian, misalnya.

Mungkin ada yang akan menjawab, "5 kali 5 sama dengan 25". Sementara ada yang lain menjawab, "Lima kali lima artinya ada 5 sebanyak 5 kali, yang semuanya berjumlah 25".

Jawaban pertama menunjukkan siswa tersebut sudah mengetahui bahwa 5x5 hasilnya sama dengan 25. Namun siswa kedua menjelaskan konsep 5x5 terlebih dahulu sebelum sampai pada jawaban.

Siswa pertama mengetahui jawabannya, sementara siswa kedua memahami konsepnya.

"Mengetahui" dan "memahami" sebenarnya serupa, tetapi tidak sama. Masing-masing adalah keadaan yang melibatkan pemahaman kognitif.

Mengetahui bersifat statis, mengacu pada fakta yang berbeda. Sementara memahami bersifat aktif, menggambarkan kemampuan untuk menganalisis dan menempatkan fakta-fakta tersebut di dalam konteks untuk membentuk gambaran besar.

Tanpa mengetahui, kita tidak mungkin dapat memahami. Akan tetapi mengetahui tidak berarti dapat memahami narasi yang lebih besar, yang sebenarnya merupakan tujuan utama dari pengumpulan informasi.

Menurut profesor Ip Yuen Kwong dari Department Biological Science, National University of Singapore, mengetahui tidak sama dengan memahami,

Banyak siswa yang menganggap 'mengetahui' sama dengan 'memahami', bahkan, ini yang lebih buruk, siswa menganggap 'definisi suatu istilah' sebagai 'pemahaman tentang konsep istilah' tersebut. Padahal keduanya berbeda.

Dengan anggapan 'belajar untuk mengetahui', banyak siswa menganggap guru sebagai sumber informasi, dan diri mereka sendiri sebagai penerima informasi. Mereka bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengetahuan yang mereka miliki. Dan mereka percaya bahwa hasil belajar dapat dievaluasi dengan mengukur jumlah pengetahuan yang diperoleh.

Padahal, kata profesor Ip, pembelajaran sebenarnya melibatkan pencapaian 'makna' dari pengetahuan. Makna dihasilkan oleh interaksi antara informasi yang baru dan konsep yang sudah dimiliki oleh siswa.

Tanpa konsep yang ada, maka informasi tidak ada artinya. Pembelajaran terjadi bukan dengan mencatat informasi tetapi dengan menafsirkannya.

Oleh karena itu, siswa bukan penerima pengetahuan, tetapi pembangun pengetahuan. Bagaimana siswa membangun dan memproses pengetahuan lebih penting daripada mempelajarinya.

Akan tetapi, dilansir dari situs Quartz, bahkan para ilmuwan tidak dapat menangkap perbedaan penting ini. Para ahli yang menulis tentang pemahaman umum terhadap gagasan-gagasan ilmiah juga sering kebingungan menggunakan istilah 'pengetahuan' dan 'pemahaman'. Hal ini terungkap di dalam hasil analisis linguistik terbaru yang diterbitkan di dalam jurnal Public Understanding of Science pada (23/10/2017).

Para peneliti berpendapat bahwa ketidaktelitian linguistik ini merupakan masalah yang tidak hanya untuk para ilmuwan (apalagi siswa), tetapi juga untuk kita semua. Kemunculan internet telah menempatkan lebih banyak informasi di ujung jari kita lebih daripada sebelumnya. Menganggap penting hal-hal remeh di antara gagasan-gagasan yang sangat membutuhkan kecerdasan dan ketajaman.

Padahal, pemahaman adalah suatu alat yang dapat membantu orang mengasimilasikan informasi baru dan menyempurnakan pandangan terhadap dunia dengan melihat hubungan-hubungannya.

Di dalam ilmu pengetahuan, informasi ini seringkali rumit dan hubungan-hubungan tersebut sudah terbentang selama berabad-abad. Hal inilah yang menjadi beban tambahan bagi para ilmuwan untuk menyampaikan informasi dalam ketepatan linguistik.

Pemahaman juga penting untuk mengevaluasikan informasi baru; seseorang yang semakin dapat mengontekstualisasikan apa yang mereka katakan, dan melakukan evaluasi dalam berbagai sudut, semakin kecil kemungkinannya untuk terpapar bahasa yang manipulatif, data-data serta sumber informasi yang buruk, maupun propaganda.

Joanna Huxster, penulis utama penelitian ini yang juga seorang spesialis komunikasi ilmiah di Bucknell University di Pennsylvania, mengatakan bahwa untuk mengomunikasikan ilmu pengetahuan secara efektif kepada masyarakat, fakta-fakta haruslah diacak, dianalisis dan dikontekstualisasikan.

Menghubungkan penyebab dengan akibat, dan memutuskan apa yang akan dilakukan berikutnya, hanya dapat terjadi ketika pengetahuan dapat disandingkan dengan pemahaman.

Tim peneliti yang diketuai Huxster memperkirakan bahwa masyarakat tidak mendapatkan ilmu pengetahuan karena para ilmuwan tidak dapat membedakan konsep dasar 'pengetahuan' dan 'pemahaman'. Para peneliti melakukan dua analisis linguistik dengan fokus pada artikel di jurnal Public Understanding of Science.

Pertama mereka melihat bagaimana istilah epistemik didefinisikan di semua artikel yang diterbitkan pada tahun 2014. Lalu mereka memeriksa laporan penelitian antara tahun 2010 dan 2015 yang mengukur keadaan epistemik, memeriksa bagaimana kedua konsep tersebut didefinisikan dan diuji.

Hasilnya menunjukkan bahkan para peneliti terkejut dengan kekacauan linguistik yang mereka temukan. Kebanyakan artikel dengan ceroboh menempatkan 'pengetahuan' dan 'pemahaman' secara bergantian.

Hampir di semua artikel, para ilmuwan menggabungkan kedua istilah tersebut. Penggunaan istilah yang tepat dalam artikel-artikel ilmiah merupakan hal yang langka.

Kesimpulannya, kekacauan bahasa ini menimbulkan kebingungan dalam ilmu pengetahuan dan masyarakat, dan kemungkinan besar dapat menghambat penelitian ilmiah dan penyebarannya di masyarakat.

Para peneliti percaya bahwa pembedaan yang ketat antara kedua istilah itu dapat meningkatkan dan memperkuat pemikiran kritis. Juga memengaruhi bagaimana ilmu pengetahuan dikomunikasikan dan diterima, serta bagaimana pemahaman masyarakat dapat diukur.

Jika para ahli tidak berusaha untuk memahami istilah-istilah tersebut dengan benar, maka masyarakat tidak akan melek ilmu pengetahuan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR