KESEHATAN LAKI-LAKI

Pemahaman masyarakat soal disfungsi ereksi masih rendah

Ilustrasi simbol disfungsi ereksi
Ilustrasi simbol disfungsi ereksi | Nerthuz /Shutterstock

Tahukah Anda, disfungsi ereksi tidak terkait dengan kemampuan penetrasi? Simak uraian berikut yang patut Anda ketahui.

Banyak orang tak paham dan keliru soal disfungsi ereksi sehingga tak sadar telah mengalaminya. Mereka pun jadi abai dan enggan berkonsultasi pada dokter. Padahal, menyepelekan isu ini berdampak buruk bagi kesehatan dan keharmonisan rumah tangga.

Dr Nugroho Setiawan, SpAnd, dokter spesialis andrologi dari RSUP Fatmawati, menyampaikan bahwa terkait kesadaran masyarakat mengenai disfungsi ereksi, masih banyak yang tidak memahaminya dengan benar.

Prevalensi disfungsi ereksi di dunia diketahui meningkat seiring pertambahan usia.

Sesuai data Asian Journal of Andrology yang dilansir CNN Indonesia, prevalensi disfungsi ereksi pada usia 20-29 tahun mencapai 15 persen. Lalu, sebanyak 30 persen untuk usia 30-39 tahun dan 41 persen di usia 40-49. Sementara itu, usia 50-59 tahun mencapai 54 persen dan 70 persen untuk 60-69 tahun.

Seperti disimpulkan para ahli dalam Healthline, meskipun persentase studi kadang tak solid, bukan cuma paruh baya dan lanjut usia yang berpotensi menderita disfungsi ereksi, orang muda sebagai populasi yang "diabaikan" juga rentan mengalaminya.

Kemudian, berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviours (GSSAB) pada 29 negara di dunia mulai dari tahun 2001-2002, sebanyak 97 persen dari 11 persen laki-laki Indonesia berusia 40 tahun ke atas penderita disfungsi ereksi tidak berkonsultasi ke dokter.

Alasannya, selain malu, mayoritas mereka beranggapan kelainan ini bukanlah penyakit medis yang perlu dikonsultasikan. Benarkah?

Secara definitif, menukil detikHealth, disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan laki-laki untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang sempurna demi aktivitas seksual yang memuaskan.

Jadi, jika seorang laki-laki tidak mampu mempertahankan ereksi sempurna dari awal hingga akhir atau tidak mampu memberi kepuasan pada pasangan, boleh jadi ia mengalami disfungsi ereksi.

“Banyak yang menganggap jika penis berhasil penetrasi ke vagina, itu bukan disfungsi ereksi. Padahal, belum tentu,” ujar Nugroho.

Pasalnya, sekalipun penis bisa masuk ke vagina, ada tanda lain disfungsi ereksi yakni kekuatan penis melemah sebelum mencapai klimaks.

Ia menegaskan, sehat tidaknya penis bukan berdasarkan ukuran, melainkan kemampuannya untuk ereksi.

"Penis yang baik tidak harus panjang dan besar, tetapi bisa mempertahankan kekerasannya," ujarnya kepada Kompas.com.

Untuk mencari tahu apakah penis Anda bisa ejakulasi dengan sempurna, ada tes bernama Erection Hardness Scoring (EHS) yang juga bisa dipantau sendiri. EHS menunjukkan empat tingkatan ereksi.

Pada tingkat pertama, melansir Independent.co.uk, penis sama sekali tak bisa ereksi. Ukurannya lebih besar tetapi tidak mengeras, ibarat kue moci kenyal. Lalu, pada tingkat kedua, penis mengeras tapi kurang kuat untuk penetrasi.

Selanjutnya, pada tingkat ketiga, penis cukup keras untuk penetrasi, tapi tidak seluruhnya. Ibarat sosis besar atau pisang berkulit.

Kondisi pada tingkat pertama sampai tiga dinyatakan disfungsi ereksi. Sementara yang normal alias mencapai ereksi sempurna hanyalah tingkat keempat. Cirinya penis benar-benar mengeras dan kaku layaknya mentimun muda.

Masalahnya, banyak orang tak sadar mengalami disfungsi ereksi tingkat tiga karena tetap bisa berhubungan seks, tapi tidak memuaskan.

Erik P. Castle, MD, profesor urologi dari Mayo Clinic mengatakan, ketidakpuasan seks akibat kondisi tak menguntungkan ini sering berujung dengan konflik hubungan.

Penelitian pun menunjukkan pengaruhnya pada kepuasan hidup penderita dan pasangan.

Ketika penis tidak mengeras sempurna, maka menyebabkan terjadinya ejakulasi dini. Padahal perempuan bisa mencapai klimaks berkali-kali dan butuh waktu lebih panjang untuk merespons secara seksual, mulai dari orgasme hingga ejakulasi.

Alhasil, alih-alih mendapatkan pengalaman seks yang menyenangkan dan memuaskan untuk kedua belah pihak, seks nonklimaks menimbulkan kekecewaan terhadap pasangan, sampai-sampai tak ingin lagi berhubungan seks alias trauma.

Tak hanya itu, disfungsi ereksi juga pertanda kesehatan laki-laki memburuk.

Mayo Clinic mencatat disfungsi ereksi bukan cuma kelainan di sekitar penis, tapi juga menandakan diabetes, masalah jantung, depresi, dan banyak lagi.

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan faktor organik yang mencakup masalah pembuluh darah, saraf, struktur penis, dan hormonal seperti kekurangan testosteron. Sementara sisanya disebabkan faktor psikogenik seperti konsumsi obat tertentu atau penyakit lain.

Oleh karena itu, saran Nugroho, jika laki-laki mengalami disfungsi ereksi selama lebih dari tiga bulan atau dalam 10 kali berhubungan seksual, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

WebMd menulis, hanya dokter ahli yang mampu memberi pengobatan akurat dan spesifik karena penyebab disfungsi ereksi berbeda-beda pada setiap orang.

Jangan gegabah membeli obat sendiri, berlabel herbal, dan menjalani pengobatan alternatif.

“Itu tidak terbukti dan tidak masuk dalam panduan terapi disfungsi ereksi secara internasional," tutur Nugroho.

Sebagai pencegahan dan mendukung pengobatan penderita juga mesti bertekad memperbaiki pola hidup.

"Gaya hidup harus bagus, tidak merokok dan mengonsumsi alkohol, jangan stres, olahraga wajib berupa kardio seperti lari atau bersepeda. Kesadaran seseorang akan disfungsi ereksi adalah kunci keberhasilan pengobatan," pungkasnya.

Berdasarkan laporan dari The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviours mengungkapkan bahwa jumlah penderita disfungsi ereksi paling tinggi di Filipina (33 persen).

Lalu, terbanyak kedua berada di Thailand (29 persen), dan negara Malaysia menduduki peringkat ketiga paling tinggi (28 persen).

Penderita disfungsi ereksi di Indonesia masih terbilang sedikit, yakni hanya 11 persen. Sementara, negara Singapura hanya dua persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR