Penduduk dunia semakin tak bahagia

Ilustrasi tidak bahagia.
Ilustrasi tidak bahagia. | Oatawa /Shutterstock

Kekhawatiran, kesedihan dan kemarahan yang meningkat signifikan secara global, ditambah ketidaksetaraan seiring pertumbuhan populasi telah membuat penduduk dunia semakin tak bahagia. Demikian menurut World Happiness Report 2019.

"Kita berada dalam era meningkatnya ketegangan dan emosi negatif. Temuan ini menunjukkan tantangan mendasar yang perlu ditangani,” kata ekonom Jeffrey D. Sachs dinukil laman Greater Good.

World Happiness Report merupakan laporan tahunan yang memeringkat negara berdasarkan kepuasan hidup penduduknya melalui tiga ukuran kebahagiaan dan enam variabel kunci.

Tiga ukuran kebahagiaan yaitu evaluasi kehidupan alias cara orang menilai kualitas hidupnya dalam skala 0-10, serta pengaruh emosional positif dan negatif.

Sementara keenam variabel yang bertujuan menjelaskan variasi kebahagiaan di berbagai negara antara lain pendapatan (PDB per kapita), dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan untuk membuat pilihan hidup, kedermawanan, dan tidak adanya korupsi.

Khusus tahun 2019, laporan ini menganalisis kebahagiaan dan komunitas dengan menyoroti bagaimana kesejahteraan global telah berkembang dari waktu ke waktu lewat data-data yang tersedia sejak tahun 2005-2018.

Tahun ini, negara paling bahagia adalah Finlandia, diikuti oleh Denmark, Norwegia, Islandia, dan Belanda. Sementara Indonesia menduduki peringkat 92 dari 156 negara yang turut serta, naik dari posisi 96 tahun lalu.

Di samping itu, ada perubahan tingkat kebahagiaan di seluruh dunia--untuk studi hanya 132 negara yang dianalisis mengingat keterbatasan data.

Di satu sisi. sebanyak 64 negara menunjukkan peningkatan kebahagiaan signifikan, mulai dari 0,097 hingga 1,39 poin. Namun, kebahagiaan di 42 negara juga menurun signifikan, berkisar dari -0,179 hingga -1,944 poin, sedangkan 26 negara sisanya tidak menunjukkan perubahan signifikan, meskipun kebanyakan memperlihatkan penurunan.

Di antara 20 negara yang kebahagiaannya paling menurun, seluruhnya menunjukkan pengurangan skor melebihi sekitar 0,5 poin. Sebanyak tujuh negara berada di Timur Tengah dan Afrika Utara, enam di Afrika Sub-Sahara, 3 di Eropa Barat, dan sisanya adalah Venezuela, India, Malaysia dan Ukraina.

Apa alasannya?

Satu tren yang paling dramatis, menurut laporan, adalah skor perasaan negatif yang meningkat lebih dari seperempat di seluruh dunia sejak 2010-2018, dari frekuensi 22persen menjadi 28 persen.

“Total global ini sangat mencolok, menutupi banyak perbedaan di antara kawasan global,” tegas tim peneliti dan penulis World Happiness Report, yang berasal dari University of Alberta, KDI School of Public Policy and Management, dan dipimpin oleh John F. Helliwell dari University of British Columbia.

Menurut penulis, 10 negara yang tingkat kebahagiaannya menurun paling banyak—dua terbawah adalah Suriah dan Venezuela—menunjukkan penurunan skor signifikan dalam evaluasi kehidupan akibat penurunan drastis pada PDB per kapita.

Penulis berpendapat bahwa rata-rata penduduk biasanya mengalami kombinasi tekanan ekonomi, politik dan sosial lantaran didukung pertumbuhan populasi.

Ini sesuai dengan temuan laporan lain, yang mengungkap tren meresahkan soal ketidaksetaraan kebahagiaan yang paling terlihat di wilayah Amerika latin, Asia dan Afrika SubSahara. “Ketidaksetaraan kebahagiaan global telah cukup konstan antara negara, tapi meningkat di dalam negara,” catat penulis.

Ketidaksetaraan kebahagiaan merupakan pikologis paralel dari ketimpangan pendapatan yang berpengaruh pada kesehatan, kepuasan hidup, dan sebagainya. Peningkatan ini masalah besar karena meluasnya kesenjangan antara yang bahagia dan tidak, berpotensi menghambat kesejahteraan menyeluruh sekaligus memunculkan konflik.

Apalagi kita sedang dihadapkan pada epidemi global ”kecanduan”. Mulai dari teknologi, makanan sampai pekerjaan. Indonesia masuk lima besar pencandu internet versi Global Digital Report 2019.

Kata penulis, negara dengan evaluasi kehidupan rata-rata rendah umumnya akan mengalami konflik internal dan eksternal. Sering kali, penyebabnya adalah kualitas institusi dan pemerintahan, pun struktur kebijakan pemerintahan yang buruk.

Kabar baiknya, laporan ini juga menawarkan cara agar orang yang kurang bahagia bisa memperjuangkan perubahan.

Hasil survei World Happiness Report sejak 2005 konsisten menemukan orang-orang di seluruh dunia lebih puas dengan kehidupan ketika pemerintah mereka lebih efektif, menegakkan aturan hukum, memiliki peraturan yang lebih baik, mengendalikan korupsi, dan membelanjakan lebih banyak untuk perawatan kesehatan alih-alih untuk militer.

Ini sama baiknya hidup di negara dengan stabilitas politik lebih banyak, lebih sedikit kekerasan dan konflik.

Lebih dari itu, penulis menyimpulkan “kebebasan dan kedermawanan memiliki dampak besar pada pengaruh positif” dan “Pengaruh negatif berkurang secara signifikan oleh dukungan sosial.”

"Apa yang menonjol tentang masyarakat paling bahagia dan terhubung adalah ketahanan dan kemampuan mereka untuk menghadapi hal-hal buruk," kata Helliwell kepada CNN.

Menurutnya, peringkat tinggi kebahagiaan tidak melindungi rakyat suatu negara dari kekerasan atau trauma, seperti yang ditunjukkan serangan masjid-masjid di Christchurch, Selandia Baru. Akan tetapi tanggapan orang-orang Selandia Baru terhadap serangan itu, dengan bersatu, saling mendukung dan segera membantu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR