Peneliti buktikan orang tak pintar suka sok tahu

Ilustrasi kebingungan
Ilustrasi kebingungan | The Cookie Photography /Shuterstock

Menurut penelitian terbaru, orang yang banyak bicara dan sok tahu ditemukan berpengetahuan lebih sempit, tetapi mereka pikir mereka paling benar.

Anda tentu pernah mendengar peribahasa air beriak tanda tak dalam yang berarti orang yang tidak ada "isi" kepalanya biasanya banyak tingkah dan berlebihan.

Sekarang, sebuah penelitian mengonfirmasi bahwa peribahasa tersebut memang benar adanya.

Hasil penelitian mengungkapkan, orang yang tidak pintar cenderung paling banyak bicara dan sering mengemukakan pendapat paling ekstrem seolah-olah mereka menguasai konflik yang dihadapi.

Menggunakan data yang dikumpulkan oleh Pew Research Centre, tim periset fokus pada subjek makanan yang dimodifikasi secara genetik.

Lebih kurang 88 persen ilmuwan telah menyepakati bahwa rangkaian makanan ini aman dan tidak berisiko untuk dikonsumsi manusia. Selain itu, makanan-makanan juga tertulis memberikan keuntungan untuk petani dan produsen makanan.

Periset menemukan, hanya 37 persen dari populasi kebanyakan di Amerika Serikat menganggap makanan tersebut memang benar-benar aman.

Periset pun menanyakan para partisipan yang terlibat, mulai dari Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman mengenai subjek makanan tersebut di atas.

Kemudian, hasil penjelasan masing-masing partisipan diuji oleh periset berdasarkan studi ilmiah.

Hasilnya, para partisipan yang mendapatkan nilai terendah cenderung defensif dan menganggap bahwa pihak yang tidak setuju dengan mereka berada dalam oposisi langsung, meski didukung dengan bukti ilmiah dan opini para pakar.

Periset mengkategorikan kelompok partisipan dengan nilai rendah menderita “ilusi pengetahuan”.

Hasil riset menyebutkan, jelas sekali terlihat bahwa opini ekstrem mereka berasal dari sumber pengetahuan yang dangkal, tetapi mereka merasa mereka paling benar dan mengetahui segalanya.

Perbedaan antara partisipan yang mendapatkan nilai tinggi dan rendah meluas jauh di luar ranah ilmiah.

Penulis mencatat orang-orang dalam kategori yang tidak mengerti ini percaya bahwa kecerdasan mereka yang luar biasa juga mencakup semua bidang, mulai dari urusan rumah tangga sampai dengan kebijakan sosial yang rumit.

Namun, ketika konflik menyentuh persoalan yang sangat politis, seperti perubahan iklim, tim periset melihat kelompok sok pintar mulai melemah dan mulai tidak sok tahu.

Cornell University pernah menghelat penelitian mengenai kebiasaan orang bodoh, mereka menemukan, orang yang kurang kompeten cenderung berlebihan dalam menilai kemampuan mereka.

Selain itu, mereka juga tidak mau mengakui ketika ada orang lain yang memiliki kemampuan lebih baik.

Lalu, perilaku yang mudah terlihat pada orang-orang yang sok pintar ini adalah mereka menyikapi konflik dengan amarah dan perilaku agresif.

Periset dari University of Michigan pernah menggelar studi terhadap 600 partisipan pasangan ayah anak, selama 22 tahun.

Ternyata, periset menemukan, pasangan ayah anak yang memiliki perilaku agresif saat mengahadapi masalah memiliki tingkat intelegensia yang rendah.

Hipotesis yang tertulis pada laporan penelitian adalah lingkungan yang kasar dan agresif mengurangi terjadinya proses pembelajaran pada anak-anak berusia dini.

Alhasil pengembangan intelektual yang berkelanjutan pun menjadi proses yang sulit dan mustahil.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR