Peneliti ungkap karakter diri orang yang doyan makanan organik

Ilustrasi makanan organik
Ilustrasi makanan organik | lola1960 /Shutterstock

Tim peneliti mengungkapkan bahwa di balik manfaat baik makanan organik tersirat karakter seseorang.

Makanan organik memberikan ragam dampak positif yang bermanfaat untuk tubuh kita.

Kelebihannya, makanan organik memiliki sedikit atau nihil kadar pestisida dan bahan kimia.

Kekurangannya adalah harganya yang lebih mahal dibandingkan makanan non-organik.

Namun, sebuah penelitian justru mengungkapkan sisi lain dari makanan organik, tidak ada kaitan dengan kualitas makanan dan kesehatan tubuh, tetapi karakter orang yang membelinya.

Tim peneliti dari Brown University dan Boston College menyimpulkan bahwa orang yang gemar mengonsumsi makanan organik memiliki karakter diri yang egois.

Rachel Herz, seorang ilmuwan saraf dari Brown University menyebutkan bahwa dirinya telah melakukan sejumlah penelitian.

Dia menemukan, pembeli makanan organik dapat dikaitkan dengan sejumlah perilaku yang kurang baik.

Dalam buku terbarunya yang bertajuk Why Your Eat What You Eat, Herz menuangkan hasil penelitian mengenai hubungan antara pilihan makanan dan ilmu saraf.

Dia juga mengungkapkan hasil penelitiannya mengenai hubungan antara makanan organik dan perilaku manusia.

Dalam satu penelitian, sekelompok orang diperlihatkan gambar apel yang diberi label organik.

Kemudian, mereka diminta untuk memberikan penilaian perilaku moral tentang sebuah kasus. Ternyata, mereka cenderung menghakimi dan menilai tersangka secara sepihak.

Hal yang berbeda terlihat pada kelompok orang-orang yang diperlihatkan foto-foto makanan non-organik yang lezat.

Selanjutnya, dua kelompok ini diminta untuk menjadi sukarelawan selama beberapa menit dari waktu mereka.

Herz mengatakan, kelompok penggemar makanan organik meluangkan waktu lebih sedikit dengan kelompok lainnya.

Oleh karena itulah, Herz menyimpulkan bahwa kelompok yang melihat apel organik cenderung menilai orang lain dengan pikiran yang sinis dan cenderung egois.

Herz menjelaskan bahwa dia percaya, orang-orang yang mengonsumsi dan membeli makanan organik merasa diri mereka lebih bermoral daripada orang lain.

Pemikiran yang demikian akhirnya melahirkan perilaku selalu merasa benar dibandingkan orang lain.

“Intinya ada semacam fungsi superior moral terkait dengan orang-orang penggemar makanan organik. Mereka merasa mereka telah memilih lebih baik dari orang lain. Jadi, cenderung egois dan tidak etis,” jelas Herz.

Kemudian, dia juga menuliskan argumen karena orang-orang yang membeli makanan organik merasa sudah melakukan hal yang benar terhadap lingkungan, mereka pun memiliki sikap tak peka terhadap perilaku diri sendiri terhadap orang-orang sekitar mereka.

Namun, dia menegaskan bahwa kesimpulan ini tidak memukul rata semua penyuka makanan organik.

“Garis besarnya adalah mungkin Anda tidak menyadari ada hal-hal lain yang memengaruhi perilaku diri. Cobalah intropeksi diri apakah perbuatan Anda sudah benar di mata orang lain,” urainya.

Kesimpulan dari studi terurai di atas tak berarti melarang Anda untuk mengonsumsi makanan organik.

Sebab, pada dasarnya makanan organik memberikan banyak manfaat untuk kesehatan tubuh karena tidak menggunakan bahan-bahan sintesis seperti pestisida dan pupuk kimiawi pada tanaman.

Sebuah studi pernah menguak bahwa sayuran non-organik mengandung herbisida tinggi yang menyebabkan tingginya level karsinogen pada manusia.

Lalu, studi juga mengungkapkan bahwa makanan organik tidak mengandung insektisida yang telah dikaitkan sebagai pemicu terjadinya keterlambatan tumbuh kembang otak bayi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR