Peneliti ungkap karakter orang yang percaya teori konspirasi

Ilustrasi pakar teori konspirasi
Ilustrasi pakar teori konspirasi | Valery Sidelnykov /Shutterstock

Survei pada ranah psikologis mengungkapkan bahwa ahli teori konspirasi cenderung memiliki perilaku antisosial dan lebih mungkin terlibat perilaku kejahatan tingkat ringan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam British Journal of Social Psychology ini mengungkapkan, orang yang gemar mengeksplorasi teori konspirasi lebih bertoleransi pada hal-hal yang sifatnya melanggar aturan dan kriminal, contohnya adalah memanipulasi kasir telah menerima uang palsu dan meminta kompensasi.

Hasil studi juga menuliskan, paparan teori yang mengekspos hal-hal di luar norma umum berpotensi mendorong seseorang untuk melakukan kriminal level ringan pada masa depan.

Teori konspirasi, menurut peneliti, telah dikaitkan dengan prasangka, kekecewaan pada politik, dan kondisi yang tidak berubah.

Peneliti membuktikan, respons seseorang terhadap aksi kejahatan berhubungan dengan sifat dan pandangan mereka dalam lingkungan sosial serta penghargaan terhadap hidup.

“Penelitian kami telah menunjukkan untuk kali pertama pengaruh teori konspirasi dalam menentukan sikap seseorang terhadap kejahatan. Penelitian kami membuktikan, orang-orang yang percaya adanya teori konspirasi lebih condong melakukan perbuatan tidak etis,” jelas Profesor Douglas yang terlibat dalam penelitian kepada Phsy.org.

Namun, kepercayaan pada teori konspirasi jauh lebih luas dari yang dipikirkan kebanyakan orang.

Menurut Profesor Joe Uscinski, penulis buku American Conspiracy Theories, konspirasi tak layak lagi disebut sebagai fenomena anyar.

Sebab, sudah 100 tahun kehadirannya menyusup dalam lingkungan sosial.

Profesor Uscinki mengatakan bahwa setidaknya satu orang percaya dengan satu teori konspirasi yang merebak di ranah publik.

Pada tahun 2015, penelitian Universitas Cambridge menemukan sebagian besar warga Inggris mempercayai setidaknya satu dari lima teori konspirasi, mulai dari keberadaan kelompok rahasia yang mengendalikan dunia sampai dengan kontak alien.

“Gambaran ini memperlihatkan, orang yang percaya dengan konspirasi teori bukanlah seorang laki-laki paruh baya yang tinggal di ruang bawah tanah di rumah ibu mereka,” ujar pernyataan dalam BBC.

Intinya, orang-orang yang mudah percaya dengan kebohongan teori konspirasi bisa jadi rekan kerja atau tetangga Anda.

“Data demografis memperlihatkan penyebaran teori konspirasi ini menyentuh setiap lingkungan sosial, jender, dan kelompok usia,” terang Profesor Chris Frenc, seorang psikolog di Goldsmith, University of London.

Alhasil, terjadilah perpecahan pandangan politik, ada yang lebih condong ke jalur kiri atau kanan.

Joshua Hart, seorang rekan profesor psikologi di Union College menerangkan hasil penelitiannya mengenai apa yang membuat seseorang cepat percaya dengan teori konspirasi.

Menurut Hart, salah satu prediktor utama seseorang percaya dengan teori konspirasi adalah skizotip.

Skizotip adalah konstelasi sifat-sifat yang mencakup kecenderungan untuk relatif tidak dapat dipercaya, secara ideologis eksentrik dan cenderung memiliki pengalaman perseptual yang tak biasa. Salah satu contoh adalah mengaku merasakan sebuah kejadian yang tidak bisa dijelaskan.

Ciri-ciri tersebut nyaris sama dengan skizofrenia, tetapi tidak menyiratkan diagnosis klinis.

Hart pun menambahkan, orang yang memiliki kadar skizotip lebih tinggi memiliki kebutuhan untuk merasa berbeda dan unik.

Mengapa? Mungkin karena mereka percaya dengan meyakini ide-ide tidak umum mereka akan lebih menonjol dibanding rekan-rekan yang lain.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR