HUBUNGAN SOSIAL

Pengalaman negatif di medsos membuat orang kesepian

Ilustrasi perempuan kesepian.
Ilustrasi perempuan kesepian. | GrooveZ /Shutterstock

Media sosial punya misi mulia, membantu orang tetap terhubung. Tetapi menurut sebuah studi baru, pengguna tidak merasa lebih terhubung setelah merasakan pengalaman positif di media sosial. Namun, mereka merasa lebih kesepian setelah merasakan pengalaman negatif.

Popularitas media sosial berbeda bagi masing-masing kelompok usia. Pew Research Center menemukan, 88 persen kaum dewasa muda berusia 18 hingga 29 tahun menggunakan segala platform media sosial.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Health Promotion, para peneliti mengamati pengalaman bermedia sosial. Mereka belajar lebih banyak tentang apakah pengalaman-pengalaman itu, baik positif atau negatif, bisa memengaruhi apa yang mereka sebut sebagai isolasi sosial yang dirasakan (PSI).

Sebagaimana didefinisikan oleh Aging Life Care, PSI mengacu pada "pengalaman subjektif kurangnya pertemanan dan dukungan". Jadi para peneliti tidak mengamati untuk menilai apakah seseorang benar-benar sendirian. Sebaliknya, mereka mengamati apakah seseorang merasa kesepian.

"Media sosial, kelihatannya menghubungkan orang. Jadi, mengejutkan dan menarik bahwa penelitian kami mengungkapkan media sosial terkait dengan kesepian," ujar Brian Primack, M.D., Ph.D. Primack adalah ketua di Center for Research on Media Technology and Health (MTH) University of Pittsburgh.

Primack dan tim menyurvei lebih dari 1.100 mahasiswa West Virginia University yang berusia 18 hingga 30 tahun tentang bagaimana mereka menggunakan media sosial. Peneliti menanyakan berapa persen dari pengalaman peserta yang positif atau negatif dan kesepian yang mereka rasakan.

Para peneliti menemukan, pengalaman negatif di media sosial terkait dengan lebih banyak isolasi sosial. Namun, yang mungkin mengejutkan adalah bahwa merasakan pengalaman positif di media sosial tidak terkait dengan perasaan terisolasi yang lebih sedikit.

Studi ini menemukan ketika orang melaporkan pengalaman negatif 10 persen lebih banyak, mereka mengalami peningkatan rasa kesepian yang hampir setara (13 persen). Tetapi, ketika mereka melaporkan pengalaman positif 10 persen lebih banyak, mereka tidak memiliki perubahan signifikan dalam rasa kesepian.

"Temuan ini konsisten dengan konsep bias negatif yang menunjukkan manusia cenderung memberi bobot lebih besar pada entitas negatif dibandingkan dengan yang positif," ungkap penulis studi Dr. Jaime Sidani, Ph.D.

Namun, belum jelas apakah orang-orang yang merasa kesepian entah bagaimana mencari pengalaman yang lebih negatif, atau jika mengalami hal-hal itu membuat mereka merasa lebih kesepian.

"Ada kecenderungan orang memberi bobot lebih besar pada pengalaman dan sifat negatif dibandingkan dengan yang positif. Ini mungkin sangat relevan menyoal media sosial," kata Sidani.

Artinya orang memperhatikan pengalaman positif mereka, tetapi dampaknya cenderung tidak bertahan lama. Namun, pengalaman negatif biasanya melekat di pikiran orang.

Banyak orang mengatakan menggunakan media sosial untuk terhubung dengan orang lain. Faktanya penggunaan media sosial kerap dikaitkan dengan kesepian.

Studi ini tidak berarti Anda perlu menarik diri dari media sosial. Hanya saja, bisa jadi pengingat akan makna dari interaksi yang dilakukan di media sosial.

Bagaimanapun penggunaan media sosial berkaitan dengan kecanduan gawai. Mungkin itu salah satu penyebab orang merasa lebih terisolasi.

Apalagi di sebagian negara yang menganut gaya hidup modern, orang hidup jauh dari keluarga. Mereka urung membina kehidupan sosial yang bermakna.

Padahal di sisi lain kesepian adalah kondisi yang bisa berefek buruk. Baik bagi fisik maupun mental.

Ada banyak variabel dalam hidup bahagia. Seperti halnya cukup tidur dan makan, hubungan sosial adalah variabel yang mestinya dipenuhi dengan baik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR