SURVEI BPS

Pengeluaran antar-kota untuk pesta nikah cenderung lebih merata

Pengunjung menyaksikan peragaan busana pengantin oleh dua orang model pada Pameran Pernikahan Tradisional di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/9/2018)
Pengunjung menyaksikan peragaan busana pengantin oleh dua orang model pada Pameran Pernikahan Tradisional di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/9/2018) | Didik Suhartono /Antara Foto

Perbedaan pengeluaran per rumah tangga di tingkat kabupaten/kota untuk pernikahan cenderung lebih merata dibanding pengeluaran untuk pemakaman. Pengeluaran pemakaman di satu daerah, tampak sangat menonjol dibanding daerah lain.

Untuk urusan menikah, ada pertimbangan pada masing-masing pasangan untuk mengalokasikan anggaran bagi upacara sakral itu. Mahal atau murah jadi relatif, tergantung cara pandang terhadap nilai upacara tersebut.

Bila merujuk Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2014 yang mengatur penerimaan negara bukan pajak di Departemen Agama, menikah lewat Kantor Urusan Agama (KUA) nihil biaya. Namun, ketentuan tanpa biaya itu hanya berlaku bila prosesi pernikahan berlangsung pada jam kerja. Di luar itu, dikenakan biaya sebesar Rp600.000.

Sebagai catatan, hanya penduduk beragama Islam yang perlu mengurus pernikahannya ke KUA. Sedangkan mereka yang non-muslim cukup melapor ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) setempat.

Biaya besar biasanya muncul untuk resepsi pernikahan. Plus biaya lain karena tuntutan adat masing-masing daerah. Bukan syarat utama dalam hal sah-nya pernikahan menurut agama, tetapi penting dalam hal pelestarian budaya.

Lokadata Beritagar.id mengolah data survei sosial ekonomi nasional Badan Pusat Statistik (BPS), untuk melihat tingkat pengeluaran dalam setahun demi pesta pernikahan, per kabupaten/kota di Indonesia.

Survei bertarikh Maret 2018 itu memperhitungkan komponen dasar seperti sewa perlengkapan pengantin, kursi, tenda, piring; lalu jasa perias pengantin; penghulu; jasa penyelenggaraan; termasuk biaya sewa gedung, dan sebagainya.

Dengan perhitungan itu, Kota Kendari di Sulawesi Tenggara menjadi kota/kabupaten dengan pengeluaran tertinggi dalam setahun. Bahkan saat dibagi rata ke setiap rumah tangga, yang totalnya mencapai 90 ribu lebih.

Dibanding Kota Bekasi, tetangga Ibu Kota Negara dengan jumlah rumah tangga jauh lebih banyak--lebih dari 755 ribu--pengeluaran per rumah tangga untuk pesta pernikahan di Kota Kendari masih lebih tinggi.

Uniknya, hanya dua kota dari Pulau Jawa yang bertengger dalam daftar 10 kota dengan pengeluaran tertinggi untuk pesta pernikahan.

Nilai pengeluaran per rumah tangga ini tentu saja bukan biaya pesta pernikahan yang sebenarnya. Angka ini untuk diperbandingkan dengan wilayah lain, yang memiliki kondisi dan jumlah penduduk beragam.

Selain pesta pernikahan yang lazim melibatkan upacara adat, prosesi pemakaman di sejumlah wilayah juga membutuhkan biaya tinggi karena memerlukan upacara khusus sesuai adat atau agama dan kepercayaan masing-masing.

Sebut saja keunikan pemakaman adat Toraja di Sulawesi Selatan, atau Ngaben di Bali yang dapat memakan biaya puluhan juta hingga miliaran rupiah. Meskipun, prosesi yang mahal ini juga memiliki nilai ekonomi karena bisa menjadi daya tarik pariwisata.

Bila merujuk data yang sama dari BPS, pengeluaran untuk pemakaman dimaksud terdiri dari ongkos memandikan jenazah, pengadaan kain kafan, peti mati, jasa penggali kubur, biaya krematorium, termasuk biaya ngaben, dan sebagainya.

Berbeda dengan pencatatan pengeluaran untuk pernikahan yang tak mencantumkan secara spesifik upacara adat, dalam pengeluaran pemakaman ini contoh upacara adat turut disebutkan secara terang.

Meskipun tanpa mengurai komponen pengeluaran untuk setiap jenis pemakaman tradisional, data BPS itu menunjukkan Toraja dan Bali termasuk wilayah dengan pengeluaran tertinggi untuk pemakaman dalam setahun (2018).

Bila dibagi ke setiap rumah tangga, pengeluaran di Kabupaten Toraja Utara menjadi yang tertinggi, setara Rp1,8 juta per rumah tangga. Kabupaten Tabanan dan Kota Denpasar pun termasuk dalam 10 besar kota dengan pengeluaran tertinggi untuk prosesi itu.

Lagi-lagi, angka pengeluaran per rumah tangga tersebut bukanlah gambaran angka yang dibutuhkan keluarga untuk sebuah prosesi pemakaman. Angka itu hanya menunjukkan besaran pengeluaran untuk dibandingkan dengan rumah tangga di wilayah lain.

Tampak bahwa rentang selisih pengeluaran pesta pernikahan dalam daftar 10 kota/kabupaten, relatif lebih kecil dibanding selisih dalam prosesi pemakaman. Hal ini mengindikasikan, perbedaan pengeluaran antar-kota untuk pernikahan relatif kecil.

Sementara, perbedaan pengeluaran untuk pemakaman di peringkat pertama dengan penghuni peringkat buncit, relatif lebih besar. Artinya, persebaran tingkat pengeluaran untuk pemakaman tidak merata di 10 kota tersebut.

Kabupaten Toraja Utara di rangking pertama, selisihnya hampir lima kali Kota Denpasar di peringkat 10. Sedangkan Kota Kendari, jawara pengeluaran untuk pesta pernikahan, selisihnya "hanya" 1,5 kali lipat dengan Kota Cilegon di posisi bontot.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR